Kitu kieu tuh artinya begini begitu. Dalam konteks ijazah yang dimasalahkan masyarakat begini begitu maknanya adalah meski ternyata ijazah itu palsu, maka hancurlah Jokowi.
Menipu rakyat bertahun-tahun dalam wajah tanpa dosa, hati membeku, dan langkah kaki seribu.
Lari-lari menghindar.
Jika ijazah itu asli maka Jokowi rugi pula, ia akan dikecam telah menyembunyikan begitu lama ijazah dengan banyak korban yang telah berjatuhan, mengganggu stabiltas, dan membangun budaya fitnah, khianat, dan takut.
Jika mampu bermain-main dengan lembaran ijazah, maka dipastikan ia lebih mampu untuk bermain kayu, uang, tanah, rumah, tambang, atau lainnya.
Dan itu membuatnya jumawa.
Akan tetapi asli atau palsu ijazah tidak berpengaruh pada pengusutan lebih lanjut atas harta pribadi dan keluarga.
Korupsi, pengkhianatan negara, penyebaran kebohongan, politik dinasti, dan pelanggaran hak asasi adalah kasus yang masih diminati dan siap untuk dikuliti.
Bila ijazah Jokowi terbukti palsu, maka hancur banyak institusi apakah UGM, KPUD, KPU, Polisi, maupun DPR.
Mereka terlibat, memproteksi, dibodohi, membiarkan, atau sekurangnya tidak peduli.
Meskipun sudah jelas indikasi, tetap saja mereka buta tuli dan tidak bisa kembali.
Hancur pula reputasi cendekiawan dan ruhaniawan. Kebohongan Jokowi tidak mampu disikapi, diantisipasi, apalagi diberi sanksi.
Bila ijazah itu asli, maka tiga hal yang tetap menyebabkan Jokowi rugi, yaitu:
Pertama, dikecam publik sebagai tokoh yang merusak budaya jujur, terbuka, berani, dan mendidik. Tetap melekat dan semakin kuat predikat pembohong dan munafik.
Kedua, menyembunyikan kebenaran telah menggerogoti fisik dan psikisnya. Penyakit auto-imun tidak serta merta sembuh oleh keaslian ijazah. Waktu akan menghukum dengan sakit yang menggerogoti.
Ketiga, perhatian bergeser kepada sang putera Gibran. Kekacauan pendidikannya rentan untuk investigasi berkelanjutan.
Beban ayah lebih berat ketika anak menjadi target atau “kompensasi” dari tipu-tipu dirinya.
Jadi kitu kieu tetap saja Jokowi mah rugi. Ini akibat dari merasa aman walau menistakan publik.
Sindroma penguasa tunggal penentu segala termasuk menyandera.
Merekayasa senjata untuk memukul lawan-lawan politik. Jokowi lupa bahwa tidak ada kejahatan abadi.
Mempertuhankan kekuasaan sama dengan memperbudak martabat dan harga diri.
Jokowi sudah tamat. Meski nampak kuat tetapi sesungguhnya sekarat.
Teriakan hidup Jokowi adalah peringatan kematian.
Slogan cerdas, berani, dan militan menjadi sign dari bodoh, penakut, dan rapuh.
Hanya pecundang yang bahagia bersandiwara di ruang perdamaian dan keadilan palsu.
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim