Mencintai dan Menyenangi Takdir-Nya

JIKA tak senang hidup, maaf, dalam keadaan miskin (harta), cobalah senangi atas takdir-Nya. Toh, miskin bagian dari takdir yang tidak bisa dihindari, harus dilalui dalam kurun tertentu, atau selamanya. Yang pasti, semua atas kehendak-Nya.

DENGAN menyenangi takdir-Nya, tiada beban lahir dan bathin. Hanya saja, senang atas keputusan-Nya sulit diperoleh tanpa didasari cinta kepada-Nya. Maka, perkuat dulu rasa cinta kepada-Nya, maka apapun yang menjadi takdir hidup, termasuk miskin, pasti akan dilalui dengan senang dan tenang.

SUNGGUH “menyulap” hamba menjadi orang kaya, bukan perkara sulit bagi Allah SWT. Dalam sekejap mata, semuanya bisa berubah. Miskin jadi kaya, kaya jadi miskin.

TETAPI, tahukah jika hidup miskin (harta) itu adalah cara cinta Allah SWT kepada hambanya. (Tanbighul Ghofilin). Allah SWT takut jika diberikan kekayaan, hambanya semakin jauh, bahkan jauh sekali. Padahal, kekayaan itu membutakan, kesenangan itu melalaikan, dan seterusnya dan seterusnya.

MENANGISLAH, jika dianggap mengurangi beban mental dan perasaan, tetapi bukan bentuk penolakan takdir. Tetapi menangis karena bersyukur (berterimakasih) dipilih menjadi hamba yang disayang dan diperhatikan Tuhan Yang Maha Perhatian.

KISAH kehancuran harta Qorun dan Sa’labah merupakan, dua kisah fakta yang mashur dan tidak bisa dipungkiri.

KECUALI, hamba pilihan yang diizinkan untuk “memegang” harta, karena Allah SWT Maha Tahu, mengetahui jika hamba tersebut “mampu” memanfaatkan hartanya di jalan yang lurus. Bahkan, dengan kekayaannya, hidupnya semakin dekat kepada Allah SWT Yang Maha Kaya. Sebagaimana kisah Khalifah Abdurahman Bin Auf.

DAN, manusia tidak bisa mengatur untuk ditakdirkan hidup dalam keadaan kaya. Semua atas kehendak Allah SWT.

DIKISAHKAN, Rasullullah SAW saja meminta kepada Allah SWT agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Selama hidupnya, Rasulullah SAW tak pernah makan kenyang (Irsyadul Ibad). Ketika ditawarkan emas dari Gunung Uhud, Rasulullah SAW pun tetap menolak. Puncaknya, Allah SWT dan Rasulullah SAW menyatakan “musuh” terhadap dunia (kekayaan yang menghancurkan), dalam literatur kitab.

HAMBA Allah SWT yang ikhlas hidup dalam keadaan miskin, kelak akan diberikan kamar khusus (spesial) di surga. Masuk surga lebih dulu dengan jarak 500 tahun, daripada orang kaya. Tak terkecuali, Nabi Sulaiman (Nabi Kaya) juga akan menjadi terakhir yang masuk surga, sebelum Nabi – Nabi yang lain, yang hidup dalam keadaan miskin.

MESKI kekayaannya berlimpah, Nabi Sulaiman tak pernah wajahnya (matanya) menghadap langit, karena takutnya dan sikap tawadhunya kepada Allah SWT. Hartanya, juga untuk kepentingan agama. Ketika bersedekah, beliau memberikan roti yang paling enak. Sedangkan dirinya, hanya memakan roti yang terbuat dari gandum (roti yang paling buruk).

YAKIN, miskin pasti ada akhirnya, disesuaikan kemampuan hambanya. Sama seperti hidup ada wafatnya, dan dunia ada qiyamatnya. Terimalah takdir apapun di depan mata dengan senang dan tenang.

SANDARLAH ke Gusti Allah SWT yang Maha Menguatkan. Pandailah mengambil hikmah kebaikan, sehingga tak ada ruang hawa nafsu untuk menghancurkannya. Semoga, kita tergolong hamba yang cinta atas takdir-Nya, meskipum belum mampu hidup diuji dengan kemiskinan (harta). Semoga bermanfaat.

Nurcholis Qadafi
Wartawan Senior, Penceramah dan Usahawan

Related posts

MBG, Demonstrasi Mahasiswa, dan Pertanyaan Besar tentang Masa Depan Bangsa

KH Ahmad Dahlan, Visioner Peradaban Umat Manusia

Makan Bergizi Gratis atau Makan Uang Rakyat Gratis?