Jajaran Polda Banten Siaga Bencana Alam, Pengamat Suryadi: Perlu Belajar Kearifan Lokal

Jajaran Polda Banten Siaga Bencana Alam, Pengamat Suryadi: Perlu Belajar Kearifan Lokal . Foto/beritaind.com/bidhumas

BANTEN – Polda Banten dan jajaran siap siaga mengantisipasi terjadinya bencana alam di saat musim penghujan saat ini.

Pasukan Brimob, Sabhara, dan jajaran Polres-polres disiagakan untuk itu.

“Semua jajaran siap mengantisipasi dan membantu warga saat bencana terjadi,” kata Kapolda Banten Irjen Pol. Dr. Rudy Heriyanto Adi Nugroho, dalam siaran pers usai “zooming meeting” terpusat Rapat Koordinasi Penanggulangan Bencana Nasional, Kamis (4/3/21).

Di lain sisi, Kapolda mengatakan, selain itu dibutuhkan kepedulian dan tindakan konkret dari semua pemangku kepentingan termasuk dari masyarakat sendiri.

Menurutnya, penanggulangan bencana adalah urusan bersama. Itu sebabnya, pada tataran instansi pemerintah di Banten, senantiasa melakukan rakor penanggulangan bencana di tingkat Provinsi Banten.

“Sebab, penanggulangan bencana memang tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan melibatkan segenap komponen, baik pada pra, saat dan pascabencana,” ujar mantan Kepala Divisi Hukum Polri itu.

Polda Banten telah menyiagakan khususnya pasukan Brimob dan Sabhara dengan segala perlengkapan kebencanaan.

Inspeksi kesiagaan pun dilakukan, di samping rutin melakukan simulasi penganggulangan bencana.

Dalam acara di Ruang Video Conferensi (RVC) Mapolda Banten, Rudy mengikuti secara zooming bersama para pejabat utamanya (PJU) antara lain Dikrimum, Kombes Pol. Martri Sonny, Dirsamapta Kombes Pol. Noerwiyanto, dan Kepala Sekolah Polisi Negara (SPN) Mandalawangi, Kombes Pol. Noffan Widyayoko.

Rakornas langsung dari istana tersebut mendengarkan pidato Presiden Joko Widodo. Hadir langsung dalam zooming meeting dari Istana itu Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dan Kepala BNPB Doni Monardo.

Sementara, di daerah-daerah hadir secara virtual gubernur, bupati/ wali kota, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), selain diikuti para Kapolda.

Secara terpisah pengamat budaya, Suryadi, M.Si mengingatkan, kerusakan lingkungan hutan di Banten dapat dirasakan penduduk lewat dampak yang ditimbulkannya setiap tahun, setiap kali datang hujan dengan curah tinggi.

Di Banten, sangat menyolok terjadi di wilayah Kabupaten Lebak, Pandeglang, Tangerang, dan Kota Cilegon.Ada baiknya, lanjut Suryadi, semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat, belajar kepada kearifan dan nilai-nilai kesetempatan (lokalitas).

Di daerah ini sudah lama hidup kearifan tanpa bisa terusik oleh mereka yang mengklaim modern.

“Coba lihat, apakah daerah yang dihuni oleh warga Baduy Dalam dan Baduy Luar di Kenekes itu, pernah mengalami bencana alam saat hujan tinggi? Kenapa? Mereka memang butuh alam lingkungan hidup, tapi mereka tidak merusak?” kata pendiri Pusat Studi Komunikasi Kepolisian (Puskompol) itu.

Khusus di daerah Lebak yang rawan banjir dan longsor, Suryadi mengimbau, pemda maupun pemerintah pusat tidak terjebak pada tindakan sekadar terus-terusan menertibkan para petambang emas liar.

Ia meminta agar dana-dana yang tersedia di Kementerian KLH dan Pemda diarahkan untuk melatih sehingga mereka dapat beralih ke profesi lain.

“Kalau tidak, ya kucing-kucingan terus. Hari ini diamankan, nanti kalau bencana sudah berlalu, mereka balik lagi jadi petambang liar,” urai Suryadi. (bidhumas/abd)

Related posts

Muba Maju Lebih Cepat : Pekerja Rentan Muba Terlindungi 

Bintara Muda Tewas Tak Wajar di Asrama, PKB: Polri Harus Transparan

DPR, Sengketa Lahan di Tanah Abang Harus Selesai Sebelum Rusun Subsidi Dibangun