Pembonsai Senior Tangerang, Koleksi Gatot Pernah Ditukar dengan Avanza

Nama Gatot di kalangan komunitas pecinta bonsai tentu sudah tidak asing lagi. Bonsai karya Gatot sudah banyak tersebar di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, dan lainnya.

Kecintaan Gatot terhadap tanaman bonsai dimulai sejak awal tahun 1986. Tadinya Gatot hanya sekedar mengagumi aneka jenis bonsai yang ia lihat di pameran. Tetapi karena penasaran ingin tau seperti apa rasanya merawat bonsai, memasuki tahun 1987 akhirnya Gatot mulai terjun ke dunia bonsai.

Memiliki rasa ingin tau yang tinggi membuat Gatot semakin mendalami berbagai ilmu mengenai tanaman kerdil ini. Selain mempelajari bagaimana cara menciptakan bonsai yang indah dipandang mata dan artistik, gatot juga banyak mencari informasi bagaimana teknik yang tepat merawat dan membentuk bonsai yang sesuai dengan keinginan hati.

“Bonsai merupakan wujud karya seni yang hidup. Tidak semua tanaman kerdil disebut bonsai. Suatu tanaman dapat disebut bonsai bila memenuhi syarat utama dari segi ukuran, bentuk, dan umur. Semakin rumit bentuknya maka semakin tinggi juga nilai seninya. Tetapi nilai seni ini akan berkurang jika tidak mendapat perawatan yang baik,” jelas lelaki yang memiliki nama asli Suroso Andrianto ini.

Membentuk bonsai sehingga menjadi bentuk tanaman yang indah membutuhkan teknik tertentu yang didukung dengan kreativitas tinggi serta kesabaran.

Waktu yang dibutuhkan untuk membentuk cabang ranting bonsai agar menjadi wujud yang artistik tidak sebentar. Belasan bahkan bisa mencapai ratusan tahun sehingga seringkali bonsai disebut sebagai tanaman warisan yang bisa diwariskan ke anak cucu. Selain itu, tidak semua tanaman bisa dijadikan bonsai.

“Bahan tanaman yang bisa dibuat bonsai biasanya tanaman dikotil atau berkeping dua, berkambium, bisa berumur panjang, dan batang juga rantingnya mudah dibentuk,” kata Gatot.

Mencari bahan tanaman mentah yang bisa dijadikan bonsai juga tak mudah. Pria kelahiran 1 Februari 1953 ini bahkan sampai mencari ke dalam hutan atau tepi laut.

“Biasanya saya pergi sama teman berlima atau berenam. Rutenya lumayan jauh. Saya pernah mencari bahan bonsai sampai ke Wonosari, Jogja, Lampung. Walaupun kadang biaya yang dihabiskan lumayan besar, tapi saya puas kalau dapat bahan yang sreg di hati,” ungkap lelaki yang pernah aktif sebagai penyanyi keroncong di radio Sakti Budi Bakti ini.

Gatot juga menjelaskan jika bentuk gaya Bonsai bermacam-macam. Mulai dari gaya Tegak lurus ( Formal upright ), Tegak (Informal upright ), Miring ( Slanting ), Setengah menggantung ( Semi cascade ), Menggantung ( cascade ), Tertiup angin (Wind swept ) dan lain sebagainya.

 

Menurutnya, dari semua gaya Bonsai yang dikuasai, ada satu gaya yang paling susah.

“Gaya membentuk air terjun. Butuh ketelitan, ketelatenan dan pastinya kesabaran dalam proses pembuatan. Kalau kita melihat bonsai yang cascadenya bentuk air terjun, seolah-olah bonsai itu bercerita tentang kisah hidupnya yang hidup di tebing curam dan menekuk ke bawah mencari sumber mata air,” ujar lelaki berusia 68 tahun ini.

Dalam melakoni seni bonsai, gatot memiliki ciri khas tersendiri. Ia menyukai gaya cascade yang klasik. Gatot juga pernah dijuluki sebagai raja Santigi di Tangerang karena banyak menghasilkan bonsai yang asalnya dari tanaman perdu dari daerah pesisir ini.

Tidak semua orang bisa menghasilkan bonsai Santigi yang elok. Pasalnya karena hidup di habitat pesisir laut yang berpasir dan terbiasa dengan air asin. Perawatan Santigi terbilang tak mudah. Lelaki asal Yogyakarta ini pun punya trik untuk mengakalinya.

“Saya siapkan media spesial untuk tanaman Santigi dan karena tanaman ini biasa hidup di air asin jadi saya taruh sedikit garam di bagian akarnya. Akhirnya bisa tumbuh subur seperti biasa,” ungkap Gatot.

Jumlah bonsai yang sudah dijual Gatot sudah tak terhitung lagi. Biasanya Gatot akan bertemu kembali dengan bonsai-bonsai miliknya di ajang kontes nasional. Bahkan saking banyaknya peminat, bonsai-bonsai milik Gatot pernah ditukar dengan satu unit avanza tahun 2014 lalu. Harga bonsai yang dijual gatot berkisar antara jutaan sampai puluhan juta.

Banyak pengalaman berharga yang didapat Gatot selama terjun dalam dunia bonsai. Salah satunya menjadi juri kontes bonsai nasional di berbagai daerah seperti Medan, Bali, dan seputaran Jawa.

“Sebagai juri, biasanya yang saya nilai dari sebuah bonsai itu yang pertama adalah penampilan bonsai. Sama seperti manusia yang bisa diliat dari kepala sampai kaki, bonsai juga seperti itu. Kedua gerak dasar, susunan cabang atau percabangan, lalu keseimbangan dan kematangan. Kita juga harus menghargai perjuangan dan pengorbanan peserta untuk merawat bonsainya sampai menjadi indah,” tutur mantan anggota PBBI (Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia) ini.

“Senangnya jadi juri atau ikut kontes itu bisa kenal dengan banyak orang, mendapat ilmu juga wawasan dan saya bisa membandingkan hasil karya yang kita punya dengan orang lain,” sambungnya lagi.

Gatot pun berharap jika generasi muda saat ini harus lebih semangat lagi dan tidak memprioritaskan bonsai sebagai ladang bisnis semata. Biasanya jika hanya mengejar materi, maka tingkat kesabaran untuk membentuk bonsai pun akan berkurang dan seringkali berujung patah semangat di tengah jalan.

Gatot saat sedang berbagi ilmu kepada komunitas Tunggak Semi Tangerang

“Saya berharap karya seniman-seniman bonsai sekarang ini bisa melambungkan karyanya bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional,” tandas Gatot.

Related posts

Komodo National Park Resmi Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia

FFH Edisi ke-5, Pengaruh Negatif Film Dijaga Lewat Sensor dan Suzanna Film Terpilih

Takato Castle Park Dipenuhi Wisatawan Saat Sakura Mekar Sempurna