PALEMBANG – Nama DR. Drh. Jafrizal, MM tentu sudah tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat Sumsel. Sebagai salah satu dokter hewan senior di Palembang, beliau sering diundang sebagai pembicara di berbagai acara dan juga nara sumber untuk televisi dan radio. Seperti belum lama ini, Jafrizal terlihat mengisi acara di salah satu stasiun televisi lokal.
Selain memiliki pengetahuan luas dan segudang pengalaman, Ketua PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) Sumsel ini juga merupakan salah satu tokoh yang concern terhadap lingkungan. Ia juga gemar berbagi ilmu pengetahuan sehingga mengabdikan diri menjadi dosen tetap S2 Manajemen STIE APRIN Palembang.
Jafrizal saat sedang jadi dosen penguji
Sejak kecil, jafrizal memang sudah menyukai hewan. Terlahir dari keluarga peternak, membuat Lelaki kelahiran 10 juli 1973 terbiasa memelihara sapi, itik, kambing dan ayam. Selain diajari untuk bertanggung jawab terhadap hewan peliharaannya, Jafrizal juga dilatih mandiri oleh sang ayah. Anak dari pasangan Bapak Ibnuruddin (alm) dan Marliah ini bisa memperoleh uang jajan tambahan dari telur yang dihasilkan ayam-ayam peliharaannya.
Tetapi ada satu momen yang membuatnya sangat sedih. Momen inilah yang membuat Jafrizal termotivasi untuk menjadi dokter hewan.
“Waktu SMA, kambing saya sakit, perutnya kembung. Saya bingung bagaimana cara menyembuhkannya. Kala itu dokter hewan masih jarang sekali, apalagi di wilayah pelosok. Saya buru-buru pergi ke apotek. Kambingnya saya minumkan obat manusia dan akhirnya mati. Saya sedihnya luar biasa,” jelas lelaki kelahiran Kerinci, Jambi ini.
“Selang beberapa waktu kemudian, giliran ayam yang kena wabah. Mati semua 1 kandang. Lagi-lagi saya harus merasakan sedihnya kehilangan. Sejak kejadian itu, akhirnya saya bertekad ingin jadi dokter hewan supaya saya bisa mengobati hewan-hewan yang sakit,” lanjutnya lagi bercerita.
Setelah lulus SMA, Jafrizal melanjutkan pendidikan dan fokus dengan cita-citanya menjadi dokter hewan. Tahun 1996, ia lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM dengan gelar S1 dan melanjutkan studi Profesi Dokter Hewan di Kedokteran Hewan UGM pada tahun 1998 dan lulus di tahun 2000.
Jafrizal saat wisuda didampingi kedua orang tuanya
Setelah sempat bekerja selama 5 tahun di Riau, tahun 2001 Jafrizal pindah tugas ke Sumsel. Ia bekerja sebagai konsultan obat di perusahaan peternak ayam. Jafrizal memang sosok yang tekun dan giat mengembangkan diri. Usaha dan kerja kerasnya membuahkan hasil.
Tahun 2004, Jafrizal mengikuti tes CPNS. Kala itu pemerintahan SBY memperketat tes CPNS dan tidak semua orang bisa lulus dengan mudah. Namun berkat kerja keras dan semangat yang dimiliki, Jafrizal berhasil lolos menjadi PNS. Ia mengawali karir sebagai pejabat eselon IV di Dinas Pertanian, Bidang Peternakan dan Peternakan Kota Prabumulih tahun 2005.
“Selama di Prabumulih, saya menjadi Kasi Produksi Peternakan dan Perikanan. Saat itulah saya belajar dan mencoba mengkombinasikan ilmu enterpreneur dengan PNS yang terikat waktu kerja dinas. Saya berusaha memanfaatkan waktu di luar jam kerja dinas sebagai PNS. Formulasi ini terus dicoba sampai saya menemukan pola yang saya jalani saat ini. Inilah pola yang saya namakan ASNpreneur. Tetap bekerja sebagai PNS tapi bisa memberikan lapangan pekerjaan yang bermanfaat orang lain,” jelasnya.
Sejak zaman kuliah, Jafrizal gemar berorganisasi. Saat masih menjadi mahasiswa, berbagai jabatan pernah dilakoninya. Ia pernah menjabat sebagai Ketua IV – Senat Mahasiswa FKH UGM (1993-1994), Ketua Kesatuan Aksi Pemilu (1994 – 1995), Ketua Ikatan Mahasiswa Kerinci Yogyakarta (1995-1996) dan Sekjen Keluarga Pelajar Jambi Yogyakarta ( 1994-1995).
Jafrizal memang dikenal sebagai sosok dokter hewan cerdas dan sering mengemukakan ide-ide cemerlang yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan kesehatan hewan khususnya. Sejak tahun 2016, lulusan S2 Magister Manajemen UTP dan S3 Ilmu ekonomi Industri dan Bisnis UNSRI ini dipercaya menjabat sebagai Ketua PDHI Sumsel sampai sekarang dan kembali lagi terpilih melanjutkan jabatan yang sama untuk periode selanjutnya.
Jafrizal saat wisuda S3 Ilmu Ekonomi industri dan Bisnis 2016
Wakil Ketua II Pengda KAGAMA Sumsel ini juga aktif menulis di media cetak dan jurnal internasional. Pada tahun 2020 lalu, ia menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Urgensi Otoritas Veteriner Untuk Kesejahteraan Hewan dan Manusia” yang berisi tentang berbagai tulisan Jafrizal yang pernah dimuat di berbagai media massa.
Baru-baru ini, Jafrizal bersama tim Otoritas Veteriner Palembang melakukan inspeksi ke seluruh petshop yang ada di kota Palembang.
“Banyak petshop yang hanya memegang izin usaha saja tapi tidak memiliki izin medis. Masalahnya, petshop juga menjual obat-obatan untuk hewan. Kalau tidak ada penangung jawab dokter hewan, khawatir obat tersebut tidak disertai dengan dosis pemberian yang tepat. Hal ini malah beresiko untuk hewan peliharaan,” ungkap lulusan S3 Ilmu EKonomi Industri dan Bisnis Unsri ini.
Menurut Jafrizal, tugas dokter hewan bukan hanya mengobati hewan yang sakit saja. Kesejahteraan dan kualitas hidup hewan juga harus diperhatikan. Memastikan kesehatan produk hewan yang aman dan layak dikonsumsi masyarakat juga menjadi salah satu tugas dokter hewan. Termasuk hewan yang layak untuk dijadikan qurban. Sumsel bahkan menjadi satu-satunya wilayah di Indonesia yang saat ini memiliki Perda dan Perwali yang mengatur mengenai hewan qurban.
“Prinsipnya lebih baik menghindari daripada mengobati. Banyak yang tidak menyadari jika sebetulnya penyakit yang diderita manusia saat ini 75% sebetulnya bersumber dari hewan. Secara umum kita harus melakukan tahap-tahap pencegahan dari sumber utamanya dulu,” jelasnya.
“Kita juga harus tau bagaimana cara menjaga kualitas hewan yang layak dikonsumsi. Misalnya telur ayam yang beredar di masyarakat apakah sudah teruji tidak mengandung bakteri salmonela atau daging sapi yang dijual apakah daging sapi halal dan tidak mengandung bakteri. Kesehatan hewan akan berpengaruh kepada manusia,” kata pemilik Jav Vet Centre ini.
Jafrizal bersama Dinas Pertanian dan ketahanan pangan kota Palembang juga sedang giat mensosialisasikan program Sumsel Bebas Rabies 2024. Hal ini berkaitan dengan peraturan Walikota No 38 tahun 2020 tentang pencegahan dan pengenalan penyakit hewan menular rabies.
Menurutnya ada tiga kriteria yang harus dipenuhi untuk bebas rabies, yakni dua tahun tidak ada penularan aktif yang terjadi pada manusia, tidak ada kasus aktif ke hewan, dan yang ketiga melakukan kolaborasi pengendalian bersama-sama dengan tim satgas.
“Saat ini kami sedang mendata berapa jumlah hewan liar yang ada di lingkungan, mulai dari anjing dan kucing. Saat ini data yang terkumpul baru dari tiga kecamatan. Kami semangat mewujudkan cita-cita Palembang bebas rabies 2024,” ujarnya.
Jafrizal mengungkapkan saat ini Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia untuk menjadi dokter hewan. Idealnya negara kita membutuhkan sekitar 200.000 dokter hewan sedangkan angka dokter hewan di Indonesia baru mencakup sekitar 20.000. Ia berharap ke depannya Indonesia memiliki lebih banyak lagi dokter hewan.
Jafrizal mengaku senang dan bangga karena anak pertamanya, Bilal Ridho Alkautsar ada yang memiliki keinginan untuk mengikuti jejak sang ayah, yakni menjadi dokter hewan. Jafrizal dikaruniai tiga orang anak dari hasil pernikahannya dengan Idarna SPd, M.Si.