Indonesia Darurat Stunting, Mari Sadari dan Tingkatkan kepedulian Sejak Dini

Stunting merupakan kondisi yang timbul akibat kekurangan gizi berkepanjang yang berpengaruh pada perkembangan fisik dan otak. Stunting menunjukkan kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak.

Diartikan sebagai kondisi yang timbul akibat kekurangan gizi berkepanjangan, yang berdampak buruk untuk anak baik pada perkembangan fisik maupun otak ungkap Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kepada media (Kamis. 08 April 2021) di siaran press #IndonesiaBebasStunting2030.

Pendek atau kurangnya tinggi badan pada anak stunting memang merupakan salah satu ciri umum. Namun hal ini bukan berarti semua yang pendek (mungil/petite) pasti stunting lanjut mantan bupati kulon progo ini. Stunting hanya dapat didiagnosa dengan membandingkan terhadap bagan tumbuh kembang.

Menurut data 2019, jumlah kasus stunting di Indonesia mencapai 29,67% lebih tinggi dari angka standar WHO yaitu 20%. Data terkini juga menunjukkan bahwa sekitar 9 juta balita Indonesia saat ini mengalami stunting, yang artinya 1 dari 3 bayi yang dilahirkan terdiagnosa stunting. Kondisi Pandemi Covid 19 pun diyakini memperburuk angka stunting karena lebih dari 86% Posyandu berkendala menjalankan fungsinya.

Stunting ini sendiri merupakan issue nasional yang sangat penting dan secara holistik berkaitan tidak saja berkenaan dengan gizi buruk, pola makan dan sanitasi namun juga termasuk issue perempuan, yaitu pernikahan dini dan ketidak siapan orang tua terutama ibu dalam mempersiapkan kehamilan.

Strategi dan taktik selain intens secara geografis juga mempertimbangkan faktor demographis. Perencanaan strateri secara holistik dimaksud untuk percepatan mencapai target juga dari hulu yaitu issue kesehatan reproduksi dan issue perempuan (pernikahan dini) yang berkaitan dengan kondisi di hilir yaitu anak dan balita dengan kondisi stunting.

Secara geografis, disasar langsung ke akar rumput tempat kantong-kantong stunting dengan prevelansi tinggi misalnya NTT maupun daerah yang prevalensi tidak terlalu namun ada kasus stunting (pulau jawa, daerah pemukiman padat di kota besar).

Secara demografis dan holistik edukasi mulai diarahkan ke anggota keluarga (lengkap, tidak hanya ibu) yang juga berpengaruh dalam pengambil keputusan seperti ayah dan nenek juga perempuan muda (remaja perempuan) dimana ada kaitan yang sangat erat dengan ibu hamil anemia dan usia muda yang tidak mempersiapkan kehamilan.

Begitu pun calon ayah yang tidak mempersiapkan kualitas sperma dengan baik (perokok, alkoholik misalnya) karena kasus stunting ternyata juga menimpa di keluarga dengan ekonomi berkecukupan dan mapan namun dengan gaya hidup kurang baik. (sinse_novi)

Related posts

Komodo National Park Resmi Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia

FFH Edisi ke-5, Pengaruh Negatif Film Dijaga Lewat Sensor dan Suzanna Film Terpilih

Takato Castle Park Dipenuhi Wisatawan Saat Sakura Mekar Sempurna