Pandemi membuat banyak orang melakukan aktivitas di rumah saja. Akibat ruang gerak yang terbatas banyak cara dilakukan untuk mencari hiburan. Berbagai macam hobi pun bermunculan, salah satunya memelihara kura-kura.
Banyak orang tertarik memelihara kura-kura karena mudah perawatannya, memiliki bentuk cangkang yang unik disertai gerakan yang lambat sehingga lebih mudah ditangkap seandainya suatu hari terlepas.
Semenjak pandemi, permintaan kura-kura hias semakin tinggi. Tentu ini menjadi peluang bisnis yang bisa menghasilkan cuan. Sebagai seorang importir, Chris menceritakan ia kebanjiran order akibat tingginya permintaan kura-kura hias. Chris bahkan pernah mengimpor kura-kura dari USA ke Indonesia sebanyak 5000 ekor. Bukan hanya dari Amerika Serikat saja, berbagai jenis kura-kura yang didatangkan Chris juga ada yang berasal dari Afrika, Asia, Mesir, dan lainnya, tergantung permintaan customer.
Foto/Facebook Christopher Aditya Widyawan
Dalam waktu setahun, Chris melakukan kegiatan impor sekitar 5-6 kali. Sebab untuk bisa sampai ke Indonesia, butuh waktu lumayan lama terkait masalah perizinan.
“Biasanya yang paling lama proses ngajuin izin. Kadang cepat, kalau lama bisa memakan waktu 2 bulan. Setelah disetujui dan kura-kura dikirim, semua binatang yang masuk ke Indonesia harus melewati proses karantina sekitar 2 minggu untuk memastikan kalau hewan yang bersangkutan dalam kondisi sehat dan tidak membawa virus atau parasit berbahaya. Pernah juga kura-kura baru bisa sampai ke tangan kita prosesnya sampai 3 bulan,” tutur Chris.
Belum lagi jika terjadi perubahan harga mendadak, kadang Chris harus bisa menjelaskan kepada kustomer dengan komunikasi efektif agar tidak terjadi salah paham.
“Setiap transaksi yang jumlahnya besar (ratusan juta), saya pasti buat MOU di depan notaris untuk memperkecil resiko seandainya kustomer secara mendadak membatalkan pesanan dan harus ada uang dp dulu,” jelasnya.
Ada juga resiko lain yang harus dihadapi Chris. Berhubung berurusan dengan makhluk hidup, resiko mendapati kura-kura sakit atau bahkan sampai mati sudah menjadi hal yang biasa.
“Biasanya sudah diatur sedemikian rupa. Mulai dari packaging dan perawatan selama karantina. Di rumah, saya juga sudah menyiapkan suasana seperti habitatnya supaya kura-kura gak stres. Tapi namanya makhluk hidup, kalau ternyata sampai ada yang gak selamat ya belum rezeki. Biasanya resiko mati 2-3 ekor,” ungkap lelaki bernama Christopher Aditya Widyawan ini.
Kura-kura impor
Di Indonesia, kura-kura Brazil dan bulus China menjadi jenis yang paling mudah ditemukan karena harganya terjangkau. Biasanya dijual sekitar Rp. 30 ribu per ekor. Namun untuk saat ini kura-kura jenis Sulcata paling banyak diburu orang.
“Semenjak booming channel YouTube Irfan Hakim dan lucky Hakim yang kontennya Sulcata, banyak orang berburu kura-kura hias terutama jenis Sulcata. Untuk yang termahal, ada jenis kura-kura air dari China. Harganya bisa sampai 1 milyar per ekor. Kalau untuk kura-kura darat, saat ini Galapagoz jadi yang termahal. 1 ekor harganya sekitar Rp. 170 juta,” jelas Chris lagi.
Harga anakan kura-kura Sulcata, biasanya dipasaran berkisar Rp. 1 juta. Sedangkan harga indukannya bisa beberapa kali lipat mahalnya. Per ekor bisa dibandrol Rp. 70 juta. Ukuran tubuh kura-kura yang berasal dari Afrika ini bisa membesar hingga mencapai 70 cm dengan berat 50kg. Hal ini tentu membuat banyak orang penasaran bagaimana rasanya memelihara kura-kura raksasa ini.
Kura-kura Sulcata
Untuk investasi, beternak Sulcata dapat menjadi pilihan menarik. Dalam setahun, satu ekor betina Sulcata bisa menghasilkan 120 butir telur sehingga menurut Chris jika ingin mencoba menjadi breeder kura-kura, sebaiknya berinvestasi dengan membeli 2 betina dan 1 pejantan. (slyika)