Hasta Brata, Sebuah Filosofi Kepemimpinan Adiluhur

Dalam budaya Jawa yang sedikit saya pahami ini ada sebuah ajaran tentang kepemimpinan, yaitu tentang Hasta Brata.

Apa itu Hasta Brata?
Hasta itu berarti delapan dan Brata itu berarti sikap.

Hasta Brata secara singkat sesungguhnya adalah ajaran kepemimpinan yang digali dari kondisi alam atau jagad kita ini yang dapat mencerminkan kualitas dari kepemimpinan kita.

Karena setiap individu adalah pemimpin, apalagi jika yang bersangkutan memegang jabatan yang tinggi, maka setiap individu harus mengerti bagaimana bersikap sebagai pemimpin yang baik.

Sikap kepemimpinan itu adalah:

1. Surya (matahari)

Matahari yang memancarkan sinar terangnya itu adalah sumber kehidupan yang membuat makhluk dapat tumbuh dan berkembang.

Sehingga dengan filosofi itu diharapkan seorang pemimpin dapat menjadi sumber kehidupan dan dapat menumbuh kembangkan potensi dari orang-orang yang dipimpinnya.

2. Candra (Bulan)

Bulan itu memancarkan sinar dalam kegelapan malam. Dengan filosofi itu diharapkan seorang pemimpin dapat dijadikan harapan ditengah kesulitan yang dihadapi.

3. Kartika (Bintang)

Bintang disamping memancarkan sinar berkilau, bintang mempunyai tempat yang tepat dilangit. Sehingga seorang pemimpin diharapkan dapat menjadi pedoman arah, menjadi tauladan dalam perbuatan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

4. Angkasa (Langit)

Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Dengan filosofi itu hendaknya seorang pemimpin mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri sehingga dapat dengan sabar menampung pendapat, keluh kesah yang bermacam-macam dari orang-orang yang dipimpinnya.

5. Maruta (Angin)

Angin itu selalu ada dimana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruang yang kosong.
Artinya seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan orang yang dipimpinnya, tanpa membedakan derajat, jabatan, pangkatnya sehingga diharapkan seorang pemimpin dapat mengetahui keadaan dari orang-orang yang dipimpinnya.

6. Samudra (Laut)

Laut yang luas, tenang dan menyegarkan. Sehingga diharapkan seorang pemimpin memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, mampu menampung aspirasi dan memberikan solusi dengan kebijaksanaannya dan selalu tenang dalam menghadapi persoalan.

7. Dahana (Api)

Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya.
Artinya seorang pemimpin hendaknya berani dan berwibawa, tegas dan tanpa pandang bulu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta tuntas dalam menyelesaikan masalah.

8. Bumi (Bumi-tanah)

Bumi-tanah itu kuat dan murah hati untuk selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mampu mengelola dan memeliharanya dengan tekun.

Sehingga diharapkan seorang pemimpin hendaknya memiliki sikap murah hati, suka beramal dan tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Jika kita renungkan dengan baik-baik tentang delapan ajaran itu, tentu tidak mudah untuk bisa kita praktikkan sehari-hari.

Namun dengan keteguhan hati, Insya Allah kita semua dapat mempraktekkannya dengan baik, minimal apa yang kita jalani itu menuju ke arah ajaran tersebut.

Selamat belajar untuk menjadi pemimpin, asah terus kemampuan kita dalam memimpin dikehidupan kita sehari-hari.

Raden Ario Hartono Hudoyo

Pemerhati Sosial dan Budaya

Related posts

Industri Baja Nasional di Persimpangan Jalan

Jalan Rusak Janji Mulus, Catatan Duka dari Aek Nabara

Gerakan Pilah Pilih Sampah SDN Cawang 01