JAYAPURA – Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana melaksanakan kegiatan Sharing Komunikasi dan Motivasi pada kegiatan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Pemasyarakatan kantor wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Papua, Selasa pagi (25/5/2021) di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura, Provinsi Papua.
Acara tersebut dihadiri puluhan pejabat Kanwil Kemenkumham Papua termasuk Kakanwil Anthonius M Ayorbaba. Sedangkan dari kantor pusat yang datang adalah Direktur Keamanan dan Ketertiban Direktorat Pemasyaraktan, Abdul Aris.
Banyak pesan yang disampaikan Dr Aqua Dwipayana. Salah satunya mengingatkan seluruh warga binaan agar tidak mengambil apa yang bukan menjadi haknya karena tidak berkah.
“Kalau yang bukan haknya atau milik orang lain diambil pasti tidak berkah. Dampak negatifnya bisa dirasakan langsung oleh diri sendiri dan keluarga termasuk anak-anak,” ujar Dr Aqua.
Sebagai pelayan di Lembaga Pemasyarakatan menurut Dr Aqua semua pegawai di tempat itu memiliki potensi masuk surga. Pekerjaan membina warga binaan sangatlah mulia.
Masuk surga itu bisa terwujud, jelas penulis banyak buku best seller itu jika selalu bekerja profesional dan melaksanakan semua amanah secara konsisten. Melayani setiap orang tanpa pamrih. Hanya mengharapkan ridho dan balasan dari Tuhan.
Sementara itu, pada Senin sore (24/5/2021) Theo membuka Rakernis Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Papua. Ditandai dengan pemukulan alat musik Tifa khas Papua.
“Saya memegang alat musik Tifa. Saya minta Pak Aris dan Dr Aqua untuk memukulnya. Terserah beliau berdua mau memukul berapa kali,” ujar Theo sambil tersenyum.
Dalam sambutan pada acara yang tema besarnya “Akselerasi Adaptasi Pemasyarakatan PASTI Maju” dengan sub tema “Melalui Rapat Kerja Teknis Pemasyarakatan kita tingkatkan Integritas Petugas Pemasyarakatan untuk mewujudkan Kanwil Kemenkumham Papua PASTI TIFA”, Theo menegaskan banyak tantangan yang dihadapi di Lembaga Pemasyarakat. Di antaranya jumlah warga binaan melebihi kapasitas, kemampuan sumber daya manusia yang harus digerakkan bekerja cepat, kerja keras, dan kerja produktif, sarana dan prasarana yang belum memadai.
Selain itu banyak di Unit Pelaksana Teknis (UPT) tidak memiliki dukungan yang komprehensif untuk mendukung program pembinaan dan keamanan, peran media yang sangat besar dan ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan publik harus terus dikerjakan dan dilakukan.
“Masalah pemasyarakatan bisa diidentifikasi agar dapat menyusun strategi-strategi yang tepat untuk meminimalisir gangguan Kamtibmas yang sering terjadi. Kemudian mengimplementasikannya,” tegas Theo.
Dikatakan bapak dua anak itu pada kurun waktu terakhir permasalahan yang menonjol adalah adanya pelarian delapan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Narkotika Jayapura. Juga kejadian pengeroyokan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Merauke akibat salah pengertian.
Theo meminta seluruh Kepala UPT agar segera mencari solusi terbaik setiap ada masalah di lingkungan kerjanya. Juga harus bisa menginisiasi untuk melakukan perubahan dengan melaksanakan deteksi dini di jajarannya.
“Selain itu melakukan komunikasi terutama koordinasi dengan semua pihak karena kerja kita membutuhkan orang lain. Itu penting dilaksanakan untuk menjawab setiap tantangan yang ada terutama di lingkungan kerja masing-masing,” pungkas Theo yang juga mantan Kakanwil Kemenkumham Papua Barat. (abd)