JAKARTA – Setelah 1 miliar stream, dua album Top 10, dan nominasi Mercury Prize, duo produser asal Inggris, Jungle, kembali lebih besar, lebih berani, dan lebih ambisius melalui album ketiga mereka, ‘Loving In Stereo’, yang dirilis hari ini.
Loving In Stereo adalah sebuah album disko dinamis yang membawa semangat lantai dansa dan semua hal yang membuat musik menyenangkan. Era terbaru Jungle ini menjadi kesempatan duo yang terdiri dari J dan T tersebut merambah ke lanskap pop sekaligus memperluas jangkauan mereka dalam bermusik.
Hasilnya adalah sebuah album yang akan membawa Jungle ke bagian atas chart-chart di seluruh dunia seraya musik disko pop yang mereka tampilkan memperkenalkan Jungle ke pendengar-pendengar baru. Jungle telah menjadi incaran sejumlah musisi terbesar dunia. Baru-baru ini mereka berkolaborasi dengan Diplo di lagu “Don’t Be Afraid” dan mereka dijadwalkan menjadi musisi pembuka tur ‘Happier Than Ever’ dari Billie Eilish di Inggris bulan Juni 2022 mendatang.
Jungle mengatakan, “Kami belajar untuk menangkap energi suatu momen dengan baik tanpa memikirkannya terlalu dalam. Kami juga menyadari bahwa dua album pertama kami memiliki nuansa yang lebih laidback dan kami tidak pernah keluar dari tempo 120 bpm, ada sebuah energi yang tidak ditemukan, seperti seakan kami
ditutupi sebuah atap kaca. Tujuan utama kami adalah meninggalkan kesempurnaan dan menyadari betapa musik kami dapat menjadi sangat energetik dan jujur.”
Energetik dan jujur adalah dua kata pertama yang hadir saat kita mendengar single-single yang telah mereka lepas dari album ini meliputi “Truth”, “Keep Moving”, dan “Talk About It”. Dunia telah menerima versi terbaru dan termutakhir dari Jungle. “Romeo” yang menampilkan rapper Bas menjadi kali pertama Jungle berkolaborasi dengan musisi lain. Merasa saling terhubung saat mereka pertama bertemu, Jungle dan Bas kemudian bertemu kembali di London beberapa bulan kemudian untuk mengerjakan “Romeo” — sebuah lagu old school hip-hop yang karismatik dan menangkap semangat kebersamaan dan menjadi katalis album ini.
Sejumlah sesi Jungle di studio The Church, London melahirkan sebuah suasana penuh semangat yang dapat didengar di “Keep Moving”, lagu bernuansa nostaljik bernuansa post-modern “All Of The Time”, dan “What D’You Know About Me?” yang penuh dengan warna avant-funk/post-punk. Album ‘Loving In Stereo’
juga menghadirkan warna-warna yang Jungle belum pernah tampilkan selama ini, dan lagu “Fire” menjadi salah satu bukti tersebut. Drum break yang menghentak di lagu itu menjadi fondasi eksplorasi musik yang sangat menarik. Di lagu “Truth”, Jungle menelisik lebih dalam lagi dengan energi ala punk dan ritme Motorik
serta harmoni vokal yang menggugah. Jungle menyimpan lagu terbaik di bagian akhir dengan “Can’t Stop The Stars”. Diwarnai dengan lapisan-lapisan strings, brass, dan woodwind yang sedemikian rupa, lagu tersebut adalah sebuah komposisi sinematik tanpa batas dengan pesan yang bijak tentang “membebaskan diri kita dari ekspektasi-ekspektasi tidak realistis yang kita miliki untuk diri kita sendiri agar kita dapat hidup lebih bahagia dan terpenuhi.”
Video klip persembahan Jungle selama ini berhasil menarik perhatian semua mata, namun di album ini mereka membawa segalanya ke tingkat selanjutnya dengan JFC Productions (Charlie Di Placido dan J) yang menyutradarai video klip untuk semua lagu di album ‘Loving In Stereo’. Seperti yang telah mereka tease di video-video klip mereka di era ini, visualisasi teranyar mereka membentuk sebuah narasi yang jauh lebih besar yang akan menjadi semakin jelas — menambah sisi lebih dalam dari koreografi yang ditampilkan dan lokasi-lokasi urban dengan street style yang telah menjadi karakter estetik visual Jungle.
Sepanjang karir mereka, Jungle telah tampil di berbagai benua, mulai dari Kuala Lumpur hingga Moskwa, dan memenangkan hati para pencinta musik di beragam festival musik ternama dunia meliputi Glastonbury, Coachella, Bonnaroo, dan Lollapalooza.
Para penikmat musik telah jatuh cinta dengan kebahagiaan dan energi yang Jungle selalu berhasil bawa di penampilan live mereka. Kualitas-kualitas itu terdengar hampir di setiap momen di ‘Loving In Stereo’ bayangkan suasananya kelak saat mereka dapat tur kembali. Termotivasi oleh keinginan Jungle untuk mendobrak batas BPM, ‘Loving In Stereo’ menjadi momentum J dan T kembali ke akar mereka yaitu bermusik untuk dinikmati dan mengikuti insting mereka. (slyika)