KECINTAAN

KECINTAAN. Foto/Ilustrasi/Ist

Kyai (Kang) Ahmad kepada Rasulullah SAW memang luar biasa. Ekspresi cintanya bukan hanya di Bulan Maulidurrosul (Robiul Awal) saja, tetapi di bulan-bulan lain.
Setiap harinya, tanpa kenal lelah, beliau terus mengembara mencari rombongan/pengajian yang sedang baca Barjanzian/Diba’an/Rawian di masjid, mushola, maupun majlis ta’lim.
DENGAN pakaian kaos oblong sederhana merek Swan (Soang) dan celana prapatan, layaknya petani yang akan ke sawah, Kang Ahmad keliling kota dan desa. Sambil membawa lampu lentera melewati gelapnya malam, beliau terus mencari suara yang membaca Kitab Majmuatul Mawalid (Kumpulan Tentang Kisah Kelahiran Rasulullah SAW) – Majmu’atul Mawalid Waad ‘iyah (Kumpulan Tentang Kisah Kelahiran Rasulullah SAW dan doa-doa).
KALAU ada yang sedang baca Barjanzian/Diba’an/Rawian, Kang Ahmad langsung berhenti dan bergabung untuk mendengarkan bacaan tentang kelahiran dan sejarah Rasulullah SAW. Sampai selesai ? Yah, sampai selesai, bahkan jika ada makan-makan, beliau ikut makan bersama.
SEHINGGA, tak heran untuk daerah Kecamatan Arjawinangun dan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kang Ahmad dikenal sebagai “pemburu” Barjanzian/Diba’an/Rawian.
SETELAH selesai ikut mendengarkan, Kang Ahmad kembali keliling kembali mencari sekelompok orang yang larut dalam nikmatnya membaca perjalanan kehidupan dan pujian-pujian kepada Rasulullah SAW. Perilaku ini terus dilakukan berulang-ulang.
KEBIASAAN “aneh” itu membuat warga dan para tokoh lainnya terheran-heran. Hingga suatu saat di musim haji, sekelompok kyai tiba-tiba bertemu dengan beliau di depan Masjidil Haram. Mereka bertanya-tanya, bukankah Kang Ahmad ada di Tanah Air.
MALAH, salah seorang yang bertemu di Mekah diberi sebuah cincin dan meminta agar tak bilang-bilang kepada lainnya, jika orang tersebut bertemu dengan dirinya di Tanah Haram. “Aja ngomong-ngomong ya bari wong liya (Jangan ngomong ngomong yang sama orang lain),” begitu kata Kang Ahmad dengan bahasa Ndramayuan.
SETIBANYA di Tanah Air, tiga orang yang notabene kenal dengan Kang Ahmad pun bertanya-tanya. “Kang Ahmad bisa mengkonon ya. Ana neng Mekah, mangkate kapan ? (Kang Ahmad bisa begitu ya. Tiba-tiba ada di Mekah, berangkatnya kapan ? ),” ucap salah seorang temannya.
MEREKA pun berencana hendak ke rumah Kang Ahmad untuk memastikan apakah beliau benar-benar musim haji berangkat ke Mekah. Namun, tak lama rencana mau silaturahmi, tiba-tiba Kang Ahmad dikabarkan meninggal dunia.
BAGi Kang Ahmad, Mauludan adalah setiap hari, bahkan, setiap waktu. Titik fokusnya, bukan semata-mata kapan dilahirkannya (Maulidan), tetapi siapa yang dilahirkannya (Mauludan). Dialah manusia agung, keberadaannya adalah anugerah dan rahmat bagi seluruh alam. Yang bagus rupanya dan bagus akhlaknya.
KANG Ahmad memang telah tiada, tetapi kebiasaan “aneh” Kang Ahmad harus dilanjutkan. Yang menjadikan 11 bulan lainnya, laksana Bulan Rabiul Awal yang semarak dengan Barjanzian/Diba’an/Rawian. Sollu Alannabi Muhammad.
Buat Kang Ahmad, Alfatikha… MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis

Related posts

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah

Bersyukur Semua Teman di Kejaksaan Promosi Kajati dan Sekretaris Jaksa Agung Muda

Pernyataan Resmi Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia