BANDUNG – Praktisi kehumasan harus memiliki relasi baik, sekaligus mampu mempraktekkan penulisan kehumasan yang baik, agar menarik minat wartawan dan media massa mempublikasikannya.
Slamet Parsono, Dosen Digital Public Relations Telkom University mengatakan, saat masih aktif jurnalis, rilis yang dikirim seharian bisa sampai 20 artikel perhari.
“Namun yang dikutip hanya 1-2 saja karena tidak semuanya memiliki nilai berita. Banyak yang isinya terlalu promosi sehingga media kesulitan menayangkannya,” katanya dalam Abdimas Prodi Digital PR ke Desa Berdaya secara daring, Jumat (26/11/21).
Menurut dia, humas selain mampu menuliskan rilis yang baik, juga harus aktif membangun relasi yang baik dengan personal media massa.
Antara lain sering silaturahim ke kantor media justru bukan saat akan butuh diberitakan.
Hal ini, sambung eks Redaktur Koran Sindo (MNC Grup) karena media massa bekerja dalam tekanan tenggat. Karena itu, tak cukup hanya ada relasi personal baik, tapi juga konten di dalamnya sudah siap ditayangkan.
Ono, panggilannya, mengatakan relasi yang baik bahkan membuat media massa jadi menjalin kerjasama (MoU) dengan humas, sehingga setiap rilis malah menjadi wajib untuk ditayangkan.
“Pendekatan humas adalah publisitas, yakni memunculkan berita tanpa harus keluar uang. Harus bisa meningkatkan citra, persepsi, dan arus informasi dengan bertumpu pada kemampuan kita menulis,” katanya.
Bertindak sebagai moderator adalah Choirina Anggraeni, yang juga Dosen Digital PR Tel-U. Adapun sesi ini diikuti oleh puluhan aktivis sosial yang tergabung dalam Desa Berdaya, organ di bawah Rumah Zakat.
Muhammad Sufyan Abdurrahman menekankan, nilai berita menjadi sangat penting karena menulis rilis itu ditujukan utamanya ke media massa yang kemudian menyebarkannya ke publik.
“Jangan menulis untuk kepentingan institusi kita semata. Tapi dari sudut pandang kebutuhan jurnalis dan masyarakat dengan pola SPOK, satu kalimat 20-25 kata, serta selalu memiliki nilai berita,” pungkasnya. (sulthoni)