SAAT Almaghfur Almaghfurlah Murobbi Ruuhina DR. KH. Noer Muhammad Iskandar, SQ (Kyai Noer) curhat terkait warna kulitnya yang tidak lebih cerah dari saudaranya ketika masih kecil.
Ayahandanya KH. Askandar (Mbah Kandar) spontan menjawabnya,” Tetapi, kamu yang kelak akan menggantikan Abah (Memimpin Pesantren),” kata Mbah Kandar, seperti ditirukan Nyai Sa’adah, adik dari Kyai Noer.
DIALOG ringan berisi doa puluhan tahun silam tersebut benar-benar menjadi kenyataan.
Takdir berkata, Kyai Noer berhasil membangun lebih dari 10 Pondok Pesantren (Ponpes) Asshiddiqiyah yang tersebar di kota besar, termasuk Ibu Kota Negara bernama Jakarta.
SEBUAH pencapaian luar biasa, melebihi doa Sang Ayah yang bisa jadi hanya berpikir sebatas daerah paling timur Pulau Jawa yaitu Banyuwangi.
“Kalau ada penghargaan pendiri pesantren terbanyak, maka Kyai Noer lah orangnya,” begitu kata KH. Masdar Farid Mas’udi, seorang tokoh ulama kenamaan.
PEPATAH dzuriyah “macan” akan menjadi “macan” ada benarnya, meskipun tidak selamanya benar.
Kyai Noer benar-benar menjadi “macan panggung” sezaman Habib Idrus Bin Alwi Jamalullail, KH. Abu Hanifah, KH. Zainuddin MZ, dan KH. Manarul Hidayat.
Jika di atas panggung, bukan hanya suara tinggi yang terdengar menggelegar, tetapi tubuhnya pun bergerak mengamini kata kebenaran.
GERAKAN dakwahnya yang fenomenal dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran terbukti saat “melawan” undian berkedok amal dengan sebutan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) hingga benar-benar tutup pada zaman Orde Baru (Orba).
MENDIRIKAN Ittihadul Mubalighin (Persatuan Mubaligh) dan Induk Koperasi Pondok Pesantren (INKOPONTREN) merupakan dua buah hasil karyanya dari sederet karya bakti keumatannya.
Ini bukti, Kyai Noer bukan hanya fokus agama tetapi memikirkan ekonomi umat. Hingga khas sekali saat menasehati para santri ; “Santri jangan hanya jadi ulama, tetapi juga harus menguasai semua bidang. Ada yang jadi politisi, teknokrat, diplomat, bahkan konglomerat!”
TUJUANNYA, agar di semua lini kehidupan, didominasi oleh manusia yang notabene beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Sebab, kunci dalam kesuksesan membangun bangsa dan negara harus dibentengi dengan kekuatan keagamaan.
Begitu katanya, dengan suara lantang seperti Bung Tomo saat menggerakkan mental ribuan “Arek-Arek Suroboyo” melawan penjajah.
ULAMA yang sangat mencintai ulama ini tidak pernah separuh hati dalam mewujudkan cita-citanya. Beliau selalu sepenuh hati untuk membuktikannya, walaupun nyawa taruhannya.
Pesantrennya sering dijadikan konsolidasi keumatan, demi kemajuan bangsa dan negara. Sebab, negara kuat hanya bisa diwujudkan mental umat yang hebat.
HINGGA akhirnya fakta membuktikan, Kyai Noer menjadi pusat rujukan bagi ulama lain dalam menentukan arah kebijakan dakwah, termasuk menjadi acuan nasehat bagi pemerintah.
DOANYA dikenal mustajabah, lakunya tak lepas dari riyadho, tirakatnya dilakukan yang terbaik ala Nabi Dawud.
Tahajud hampir tak pernah ketinggalan, Sholawat dan Yasin Fadhilah menjadi rutinitas sehari-hari, termasuk kedermawanannya diakui banyak orang.
SETIAP momentum adalah kawah candra dimuka. Maka tak jarang ujian, fitnah, dan perlawanan kerap menghantuinya.
Hujatan sekaligus pujian menjadi kelumrahan, sama seperti Rasulullah SAW ketika menghadapi ujian dakwah, dilalui dengan penuh kesabaran dan kepasrahan. Biarkan Gusti Allah yang menjadi hakim kebenaran.
KEPIAWAIANNYA dalam dunia pergaulan, membuat eksistensinya semakin diperhitungkan. Baik di mata masyarakat, pejabat, tak terkecuali penguasa.
Terlebih, ketika KH. Abdurrahman Wahid menjadi “saudara tuanya” dalam membumisasikan Islam Rahmatan Lil Alamin (Islam agama kasih sayang, seluruh alam), toleransi dan moderasi beragama makin terasa.
DI USIANYA yang tak muda lagi dan kondisi fisiknya yang semakin lemah, untaian kata maaf tak lepas dari mulutnya.
Sebuah sikap rendah hati dari seorang hamba yang pernah ditakdirkan menjadi seorang ulama besar di Tanah Air ini.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya jika dalam hidupnya banyak kesalahan,” ujarnya terus menerus.
AIR mata sering menetes di setiap kesempatan maupun pertemuan. Bukti pengakuan beliau sebagai manusia lemah dan penuh alpa.
Kemampuannya hanya pinjaman, keberhasilannya hanya titipan dari Allah Yang Maha Membahagiakan. Semakin lama berbicara, semakin sulit menghitung berapa banyak jumlah tetesan air mata yang jatuh ke bumi.
TAK terasa, semua orang yang berada di sekelilingnya ikut meneteskan air mata hingga berubah menjadi tangisan bersama. Kejadian ini berulang, seiring pengulangan ucapan maaf yang selalu disampaikan kepada orang lain.
HARI Jum’at, tanggal 3 Desember 2021 (28 Rabiutsani 1443 H), genap satu tahun (Haul) wafatnya manusia pembawa peradaban baru Islam di era-1990 an ini.
Meski jasadnya telah tiada, tetapi ajarannya masih hidup seiring kemanfaatan ilmu yang terus diamalkan oleh orang lain maupun para santrinya. Semoga Allah SWT Yang Maha Kuasa meridhoinya. Aaaamiiin YRA.
TERUNTUK dan terkhusus Ayahanda DR. KH. Noer Muhammad Iskandar SQ, bibarokati surotil fatikha….
MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis