CAMPUR haru dan bangga, ketika penulis mengisahkan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi dirubrik Cerita Pagi, sindonews, beberapa tahun lalu.
Seorang ulama Tanah Air yang dipercaya menjadi imam dan khatib di Masjidil Haram, Mekah.
MENDENGAR informasi ini, buru buru mencari literasi lain untuk memperkuat data tersebut hingga kemudian ditayangkan.
Beliaulah orang pertama dari Indonesia yang diangkat menjadi imam dan khatib Masjidil Haram, setelah itu disusul Syekh Imam Nawawi Al Bantani, dalam kurun yang berbeda.
MASJID terbesar di dunia, yang tak pernah berhenti aktivitasnya selama 24 jam, yang disebut dalam Al Qur’an, yang menjadi awal pijakan perjalanan Isra’ dan Mi’raj, yang di dalamnya berdiri Ka’bah sebagai kiblat sholat, yang pahala sholatnya 100.000 kali lipat dibandingkan masjid lain dan seterusnya dan seterusnya.
UNTUK masa tertentu, Syekh Khatib (Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi) dipercaya untuk menjadi imam dan khatib tetap di Masjidil Haram.
Prestasi yang sangat luar biasa, yang belum tentu orang lain mengalaminya.
TAK lama setelah terpublikasi dirubrik Cerita Pagi, barokahnya masyarakat mulai mengenal ulama hebat dari Ranah Minang, Sumatera Barat.
Ramai-ramai menjadi pembicaraan sejarah, yang kala itu medsos tak seheboh sekarang.
KELEBIHANNYA ini, hanya sebagian dari kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki Syekh Khatib. Sebab kealimannya dan kesalehannya, beliau pun dijadikan mantu oleh pemilik kitab di Kota Mekah, Saleh Kurdi.
BELIAU lahir di Koto Tuo, Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 6 Dzulhijah 1276 H (1860 M) dan meninggal di Mekkah pada tanggal 8 Jumadil Awal 1334 H (1916 M).
Putra dari Abdul Latif Khatib Nagari asal Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam dan ibu bernama Limbak Urai asal Koto Tuo, Balai Gurah.
Jika ditilik dari pihak ayah, bersaudara dengan Haji Agus Salim, sementara dari pihak ibu bersepupu dengan H. Thaher Jalaluddin, ulama ilmu falaq yang meninggal di Malaysia.
DUA pendiri organisasi keagamaan terbesar KH. Hasyim Asy’ari (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) adalah muridnya, selain ulama besar nusantara lainnya.
Apria Putra dan Chairullah Ahmad dalam “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau Awal Abad XX” (2011) mencatat, 15 buku (kitab) dan risalah karya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.
Malah riwayat lain menyebutkan, terdapat 45 karya beliau. Antara lain ; 1) Fathul Mubin fima Yata’allaqu bi-Umuriddin, 2) Izhharuz zaghlil Kazibin fi Tasyabbuhihim bis Shadiqin, 3) Al-Ayatul Bayyinat lil Munshifin fi Izalati Khurafat Ba’dh Muta’assibin, 4) As-Saiful Battar fi Mahqi Kalimati Ba’dh Ahlil Ightirar.
5) Ad-Da’il Masmu’ fir Radd ‘ala man Yuwarits al-Ikhwn wal Aulad akhwat ma’a wujudil Ushul wal Furu’, 6) Al-Manhajul Masyru’, 7) Khittatul Mardhiyyah fi Raddi Syubhati man Qala bibid’ati talaffudzi bin Niyyati, Ar-Riyadhul Wardhiyyah fil Ushulit Tauhidiyyah wal Furu’il Fiqhiyyah, 9) An-Nafahat Syarh Waroqot.
10) Sulhul Jum’ati, 11) Iqna’un Nufus, 12) Raf’ul Iltibas, 13) Irsyadul Haraya, 14) Tanbihul Awam (tentang masalah Syarikat Islam), 15) Istbatuz Zein.
HAUL peringatan wafatnya beliau yang ke 109 dalam hitungan hijriah (1334-1443) jatuh pada Senin, 8 Jumadil Awal (13 Desember 2021).
Semoga kealiman dan kecerdasannya dalam bidang keagamaan menginspirasi Bangsa Indonesia. Untuk Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Alfatikha.
MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis