Hati-hati, Terlalu Sibuk di Dunia Online Ternyata Bisa Menyebabkan Kesepian

Foto/Facebook.com

JAKARTA – Menkeu Sri Mulyani mengaku khawatir jika di tahun 2045 akan banyak orang yang kesepian. Mengapa hal itu dapat terjadi? Menurut Sri Mulyani, hal ini dikarenakan perkembangan teknologi digital yang semakin canggih tentu membuat semua menjadi lebih mudah.

Namun, disisi lain juga ada konsekuensi dan resiko ke hubungan sosial antarmanusia. Hal ini disebabkan karena kedekatan personal tidak lagi nyata sebab difasilitasi secara virtual sehingga salah satu potensi resiko yang akan muncul adalah issue kesepian. Mereka yang tidak bisa masuk ke dunia tiga dimention virtual world, lalu mereka left out di dunia reality dan kesulitan membangun hubungan.

Selaras dengan kekhawatiran antara manfaat dan resiko perkembangan digital ini, maka Ad Familia Indonesia, sebuah lembaga konsultasi dan pelatihan berbasis psikolog yang juga concern terhadap permasalahan kesehatan mental, menganggap apa yang dikhawatirkan akan terjadi di masa depan sejatinya sudah mulai terjadi pada saat ini (tidak perlu menunggu hingga tahun 2045).

Kesepian yang terjadi juga bukan hanya karena kesulitan membangun relasi dengan sesama, namun juga karena manusia modern rentan dengan kesibukan dan kegaduhan diluar dan jarang menyapa serta berefleksi ke dalam sehingga malah asing terhadap diri.

Sebuah penelitian mengungkap issue ini bahwa sesungguhnya kita sudah mengalami keterasingan baik pada diri, sesama juga semesta. “ Di tengah dunia yang terkoneksi melalui internet dihampir seluruh penjuru dunia, yang mempermudah kita untuk terhubung, saling menyapa dan berinteraksi, sesungguhnya kita sedang mengalami ‘disconnected worls’”. (Rashedi, Plante, Callister, 2015).

Tidak hanya kesepian, namun juga angka kekerasan dan kriminalitas terus meningkat. Penderitaan psikologis (selain kesepian) seperti kesedihan, rasa takut, rasa bersalah terus meningkat. Termasuk penderitaan relasional dan eksistensial.

Maka itu, Ad Familia menghimbau agar kita bersama mengkoneksikan kembali dengan lebih banyak mendengar dan menyimak daripada berbicara. Lebih mau untuk memahami daripada dipahami. Lebih banyak memberikan apresiasi daripada menghakimi. Membangun empati dan memperlakukan orang lain dengan kebaikan dan hormat. (sinse_novi)

Related posts

CEO PT Strategy Art Entertainment Andree Dahlan Buka Kerjasama dengan Turki lewat Program Realty Show

Komodo National Park Resmi Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia

FFH Edisi ke-5, Pengaruh Negatif Film Dijaga Lewat Sensor dan Suzanna Film Terpilih