“Ini rezeki Pak Aqua. Biasanya pesawat Batik Air berangkatnya tepat waktu. Bahkan terkadang lebih cepat beberapa menit dari jadwalnya. Namun kali ini pesawatnya terlambat,” ujar pejabat sementara asisten penanggung jawab Lion Group Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, Jamaludin, Senin (3/1/22) sore.
Setelah tadi diskusi hampir dua jam dengan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Mayjen TNI Teguh Muji Angkasa dan Pembina Asosiasi Pengusaha Oleh-Oleh Jawa Tengah Edy Soehartono di teras gedung Flamboyan Markas Kopasssus (Makopassus) Cijantung, Jakarta Timur, sekitar pukul 16.45 WIB, saya pamit kepada Teguh.
Pertemuan itu sekaligus melepas rindu karena sudah lama kami tidak ketemu.
Terakhir kami bertemu lebih dua tahun lalu saat Teguh masih menjabat Kasdam IV/Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah. Selama pandemi Covid-19 karena kesibukan masing-masing, kami tidak pernah jumpa.
Saya lihat di google maps jarak tempuh dari Makopassus ke terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta sekitar satu jam.
Lalu lintas terutama di jalan Lingkar luar Jakarta cukup padat. Sementara naik pesawatnya pukul 17.30.
Logikanya saya bakal terlambat tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Mungkin saja ketinggalan pesawat. Namun saya yakin TUHAN dengan caraNYA akan menolong saya agar tetap bisa naik pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID-6588.
Belakangan keyakinan saya itu terbukti. TUHAN menolong saya dengan cara pesawatnya terlambat berangkat. Seharusnya pukul 18.00 jadi pukul 18.25
Bantu Proses Keberangkatan
Sesaat setelah meninggalkan Makopassus, Jamal, panggilan akrab Jamaludin kirim WhatsApp. “Selamat sore Pak Aqua. Izin Bapak, saya mau konfirmasi keberangkatan Bapak ke Surabaya sore ini.”
Jamal yang belum sebulan memiliki bayi yang merupakan anak pertamanya, mendapat tugas dari Station Manager Lion Group Bandara Soekarno-Hatta Mamat Gunawan untuk membantu semua proses keberangkatan saya di Bandara itu.
Saya langsung telefon Jamal. Menginfokan sedang dalam perjalanan dari Makopassus menuju Bandara Soekarno-Hatta.
“Siap Pak Aqua. Seperti biasa, saya tunggu di pintu 4. Tiket Bapak sudah saya pegang. Tinggal naik pesawat saja,” ujar Jamal.
Begitu tiba di pintu 4 Terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta, saat ketemu Jamal, dia menawarkan kepada saya untuk menunggu di lounge Batik Air. Karena belum ada panggilan untuk naik pesawat.
“Pak Aqua belum ada panggilan naik pesawat. Bapak mau menunggu di lounge atau langsung ke ruang tunggu? ” Tanya Jamal.
Agenda Silaturahim
Meski tidak membawa bagasi, saya memutuskan untuk langsung ke ruang tunggu E4. Saat menuju ke sana, kami berpapasan dengan Mamat yang baru saja mengontrol di terminal kedatangan.
Hari ini lebih dari 20 ribu penumpang Lion Group tiba di Jakarta dari berbagai daerah.
Pesawat Batik Air jenis Airbus A320 yang saya naiki “nempel” dengan ruang tunggu. Sehingga Jamal bisa langsung memasukkan semua barang bawaan saya ke kabin.
Sambil menunggu naik pesawat, saya memilih yang paling akhir masuk pesawat itu, saya ngobrol sama Mamat.
Membicarakan hal-hal terkait penerbangan komersial termasuk rencana penutupan sementara Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.
Atas kehendak TUHAN akhirnya saya dapat tetap berangkat ke Surabaya. Sehingga agenda silaturahim dengan beberapa teman di Kota Pahlawan bisa dilaksanakan sesuai rencana. Alhamdulillah…
Dalam suasana hujan lebat, sesaat setelah mendarat di Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo dan menjelang silaturahim ke teman-teman, saya ucapkan selamat membiasakan diri untuk selalu yakin pada pertolongan TUHAN. Salam hormat buat keluarga.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional