Rusaknya Silaturahim karena Berebut Jabatan

Dr Aqua Dwipayana Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Saya sering menyaksikan sendiri, persahabatan yang dibina selama puluhan tahun, yang dimulai sejak sama-sama mengikuti pendidikan, rusak karena rebutan jabatan. Padahal semua itu semu dan hanya sesaat.

Sementara persahabatan itu bisa sepanjang masa. Tidak ada batas usianya. Berakhir secara fisik jika salah satu diantaranya meninggal.

Menyedihkan sekali memang. Tapi itulah realitanya. Selama pendidikan bersama-sama. Berjuang bahkan terkadang sampai mengeluarkan air mata.

Persahabatannya terus dibina selama puluhan tahun. Saling menguatkan dan menolong. Terutama saat memulai karir dan selama bekerja di institusi yang sama.

Begitu mau mencapai puncak, untuk mendapatkan jabatan, sikut-sikutan dan menjegal. Bahkan saling menjelek-jelekan. Seakan lupa pada masa perjuangan yang dimulai sejak di pendidikan puluhan tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu. Semua jasa baik sahabat juga dilupakan. Bahkan seperti tidak pernah berbuat baik kepada sesama teman seperjuangan.

Kesannya jabatan puncak itu adalah segala-galanya. Kekal selamanya. Bahkan dibawa mati.

Rawat Persahabatan
Padahal itu tidak sama sekali. Semuanya ada limitasinya. Paling lama menjabat sekitar lima tahun. Itu pun sudah lama sekali.

Setelah itu, jabatan tersebut diserahkan ke orang lain. Kembali tidak menjabat. Jadi orang biasa. Apalagi saat pensiun.

Lantas bagaimana dengan hubungan yang rusak parah bahkan total dengan sahabat-sahabatnya. Nasi sudah menjadi jujur. Hanya muncul penyesalan. Itu pun tiada gunanya.

Mereka yang sudah mengalami itu biarkanlah. Tidak bisa diulangi kembali. Sama dengan jarum jam yang terus berputar. Tidak pernah berhenti kecuali kiamat.

Belajar dari semua pengalaman di atas, janganlah pernah mengulangi kesalahan serupa. Agar tidak timbul penyesalan di kemudian hari.

Bagaimana caranya? Teruslah rawat persahabatan dengan semua orang termasuk teman seangkatan yang juga seperjuangan. Saling mendukung untuk mencapai jabatan puncak.

Untuk meraih jabatan puncak itu lakukan dengan cara yang legal dan halal. Sehingga tidak ada yang merasa tersakiti termasuk teman sendiri.

Cobaan Terbesar
Saat berada di jabatan puncak jangan pernah berubah tutur kata dan tingkah lakunya. Bahkan upayakan makin rendah hati.

Bantulah siapa pun yang membutuhkannya. Terpenting tidak melanggar aturan dan norma-norma yang ada. Niatkan melakukannya semua dengan ikhlas.

Semua itu merupakan investasi yang bakal dibutuhkan setelah tidak menjabat. Bahkan di akhirat kelak.

Ingat, jabatan bukanlah segala-gala dan semu. Semuanya bakal berakhir. Hanya masalah waktu.

Jadi ketika mendapatkan amanah jabatan termasuk di posisi puncak, hati-hatilah. Justru ini salah satu cobaan terbesar dalam hidup.

Jagalah terus silaturahim dengan semua orang. Karena itu yang kelak bakal menolong manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga mereka yang sedang berada di jabatan puncak dan yang bakal berada di posisi itu, menyadari bahwa konsisten menjalin silaturahim dengan ikhlas kepada semua orang adalah upaya terbaik menghindari dari berbagai hal negatif yang tidak diinginkan setelah tidak menjabat.

Sehingga perlu terus-menerus menjaga, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkannya tanpa ada sekat-sekat yang membatasinya. Aamiin ya robbal aalamiin….

Dari Bogor saat menikmati udara yang sejuk saat hujan, saya ucapkan selamat mengutamakan menjaga silaturahim tanpa pamrih dengan semua orang termasuk para sahabat. Salam hormat buat keluarga.

Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional

Related posts

Di Bandung, Sehari Tiga Sesi Memotivasi Ratusan Orang

JK Bersuara, Jokowi Sengsara

Semburan Fitnah Khas Komunis dari Jokowi