Waspada Bahaya Glaukoma, Dokter Prima Maya Sari Ungkap Cirinya

PALEMBANG – Pekan kedua Maret ini bertepatan dengan peringatan hari Glaukoma sedunia. Sebagai salah satu penyakit yang menyerang mata, Glaukoma menjadi perhatian serius dibanyak negara termasuk di Indonesia. Glaukoma menjadi penyakit yang penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI jumlah penderita Glaukoma di Indonesia mencapai 76 juta. Dibanding satu tahun sebelumnya mengalami peningkatan 25.6 persen.

Menurut Dokter Spesialis mata dari Rumah Sakit Muhammad Hoesin Palembang, jumlah penderita Glaukoma dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Oleh sebab itu, Glaukoma perlu diwaspadai masyarakat.

Dikatakan dokter Prima Maya Sari, penderita Glaukoma bisa dialami oleh semua orang termasuk bayi yang baru lahir hingga orang dewasa pada usia 40 tahun. Kasus terbanyak lebih disebabkan faktor keturunan atau genetik dibandingkan karena penyebab lain, misalnya seperti kecelakaan.

“Umum penyakit ini, bagi penderitanya tidak mempunyai gejala khusus. Tetapi dengan pemeriksaan rutin ke dokter mata baru dapat diketahui terkena Glaukoma atau tidak bagi pasien,” ujar Prima.

Dijelaskan Prima, anak-anak yang menderita Glaukoma dapat dilihat dari ciri berikut, seperti perkembangan bola matanya lebih besar, matanya sering berair, merasakan sakit dan rewel. Sementara pada orang dewasa dirasakan hampir tidak ada, tetapi sering merasakan pusing, mual bahkan muntah. Ini perlu segera dilakukan pemeriksaan pada dokter mata sehingga gejala tersebut patut diwaspadai. Apalagi jika ada keluarga yang telah menderita sebelumnya, diikuti dengan faktor bawaan seperti diabetes dan hipertensi. Perlu dilakukan pemeriksaan rutin.”

Dituturkan Prima bahwa pasien penderita Glaukoma tidak bisa disembuhkan secara permanen, tetapi bisa dikendalikan dengan melakuka terapi dan penggunaan obat secara teratur. Prima juga mengatakan jika Gluakoma merupakan kerusakan saraf mata yang ditandai dengan penyempitan sudut pandang yang terjadi tekanan pada bola mata, sehingga menyebabkan ketidak seimbangan dalam produksi cairan mata.

“Mula-mula terjadi pada kerusakan pada satu mata, mata satunya bisa terjadi juga karena lama kelamaan akan terjadi penyempitan. Oleh karena perlu dilakukan pendeteksian dini,” tuturnya.

Sementara itu Yuliana salah satu penderita Glaukoma mengaku tidak mengetahui dirinya menderita. Karena tidak mempunyai gejala gejala yang dirasakan.

“Saya mula merasakan pusing, dan hanya berobat di rumah sakit di Tanjung Enim. Tetapi oleh dokter mata disana saya ditujukan ke Palembang. Dari sini saya baru tahu bahwa menderita Glaukoma,” ujar Yualina.

Dikatakan Yuliana mengatakan sebelum dirinya telah memakai kaca mata, tetapi dilihat dari slindernya tidak besar.
“Tetapi Alhamdulillah saya sudah merasakan ada kemajuan sejak melakukan terapi dan penggunaan obat secara teratur, saya hanya diminta untuk kunjungan ke Palembang 6 bulan sekali,” jelasnya. (noverta)

Related posts

Komodo National Park Resmi Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia

FFH Edisi ke-5, Pengaruh Negatif Film Dijaga Lewat Sensor dan Suzanna Film Terpilih

Takato Castle Park Dipenuhi Wisatawan Saat Sakura Mekar Sempurna