JIKA Syekh Nawawi Al Bantani ingin berkirim surat, cukup menenggelamkan kertas ke sumur, sampailah surat ke Tanah Arab. Pun, jika ingin bolak-balik ke Mekah, tak butuh waktu lama baginya.
“Dulu, kalau mau kirim surat, tinggal buang (taruh) ke sumur, sudah sampai ke Mekah,” begitu kata Kyai Syarwani, salah seorang putra dari Bani Tamim (Kyai Tamim), adik dari Syekh Nawawi kepada penulis.
BUKAN lewat kantor pos atau perusahaan paket internasional yang saat itu belum tersedia. Sumur itu berada di belakang rumah tempat kelahirannya di Tanara, Banten. Hingga kini, masih terawat keberadaannya. Semula, air bawah tanah tersebut terbuka.
Tetapi, demi kelestarian sejarah, kini ditutup dengan semen. Lewat paralon panjang, air bawah tanah itu disalurkan ke tempat pemandian yang berada di luar. Bagi yang ingin tabarukan (ngalap berkah), pengunjung bisa mandi di kamar bersih-bersih itu.
BANGUNAN kuno di depannya adalah tempat kelahirannya, sebelum pergi menuntut ilmu ke Tanah Arab. Hingga kini masih terawat dan menjadi tujuan ziarah. Pemimpin ulama Tanah Hijaz dan imam tetap Masjidil Haram itu memang dimakamkan di Jannatul Ma’la, Mekah, berdekatan dengan makam kerabat Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
TETAPI, kebesaran ilmunya membuat masyarakat Indonesia bangga dan berduyun-duyun untuk melihat lebih dekat tempat sejarah di tempat kelahirannya. Mulai keluarganya, petilasan, dan yang berhubungan dengan Syekh Nawawi. Ada makam ayahnya Kyai Umar dan ibunya Nyai Zubaidah.
Pangeran Sunyararas dan kerabat lainnya. KH. Abdul Karim dan Syekh Muwafa, tokoh thorikot pada zamannya dan lain sebagainya. Hampir semua tersambung silsilahnya ke Sultan Hasanuddin, Putra dari Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
TAK jauh dari rumahnya, ada masjid ketika Syekh Nawawi masih kecil. Ada juga Bayt Nawawi, bangunan yang dijadikan ulama dunia ini mengarang kitab. Hingga kini, jadi saksi sejarah keberadaan manusia pilihan itu. Suatu malam saat mengarang kitab, terjadi pemadaman lentera. Tiba-tiba, atas izin Allah SWT, telunjuk tangannya mengeluarkan cahaya hingga penulisan pun dilanjutkan. Entah, apalagi karomah yang beliau miliki.
SEPANTASNYA, Bangsa Indonesia bangga memiliki rakyat se’alim (pintar) Syekh Nawawi hingga dikagumi oleh ulama-ulama dunia. Analisa hukum mati syahid di medan perang menjadi fenomenal kecerdasan ilmunya.
SYEKH Nawawi berpendapat, tidak semuanya orang yang wafat dalam perang membela agama disebut mati syahid, jika diniatkan mengejar predikat syahid. Disebut mati syahid, jika Allah SWT menakdirkan wafat dalam perang karena diniatkan membela agama Allah SWT dan bertujuan agar menang dalam perang. Pendek kata, tidak mudah untuk meraih syahid.
Sejak itu, keberadaannya makin dihormati dan menjadi referensi utama dalam kasus penghukuman masalah agama dan sosial.
TIDAK kurang 114 kitab kuning (salaf) dikarangnya. Nashoihul Ibad, Maroqil Ubudiyah Tankihul Qoul, di antaranya. Tersebar seluruh dunia mewarnai tradisi aneka ragam ilmu, baik fiqih maupun tasawuf.
Muridnya, satu di antaranya Syekhuna Kholil Bangkalan yang dijuluki gurunya para guru di Pulau Jawa. Syekh Nawawi lahir 1230 H/1813 M dan wafat pada 25 Syawal 1314 H/1897 M. Semoga jejak beliau menginspirasi kita semua. Aaamiiin YRA. Alfatikha…
MOHON maaf lahir dan bathin. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam