SEMASA mudanya, terlihat “bandel” seperti anak muda lainnya. Bahkan, menjadi anak tongkrongan dan dekat dengan anak jalanan. Gaya pergaulan yang menyesuaikan anak muda, ternyata menjadi area dakwahnya.
Mengajak kaum milenial saat itu, untuk tidak alergi duduk di majlis dzikir dan ilmu. Metode syiar ini ternyata berhasil, karena kesabaran dan keuletannya dalam berdakwah.
LITERASI menyebutkan, beliau pernah “nyantri” di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum, Peterongan, Jombang, yang diasuh KH. Musta’in Romly, dilanjutkan mondok di Ponpes Pare, Kediri, asuhan KH. Juwaini bin Nuh dan Ponpes Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta yang didirikan KH. Munawwir, dan terakhir beliau mondok Ponpes Buntet Cirebon, asuhan KH. Abdullah Abbas.
DIKISAHKAN, beliau ditakdirkan menjadi Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah diusia muda, yakni 30 tahun.
Sempat menolak ketika hendak diangkat menjadi mursyid karena belum pantas dan usianya masih muda dibanding saudara tua lainnya.
NAMUN, beliau tak bisa menolak ketika ayahnya, yang juga seorang mursyid tetap menunjuk beliau sebagai penggantinya.
Kini, jama’ahnya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan Asia dengan sebutan Al Khidmah. Bersifat terbuka (inklusif), bagi siapapun bisa mengikuti jamaah tersebut yang digelar setiap bulan.
KETIKA hendak dimakamkan, disebelahnya ditemukan sumber air yang dipercaya bisa menjadi wasilah menyembuhkan berbagai penyakit.
Sikapnya sangat tawadhu, lemah lembut, dan dekat semua kalangan, termasuk masyarakat tidak mampu.
DILAHIRKAN di Surabaya, 17 Agustus 1951 dan wafat pada 18 Agustus 2009 bertepatan dengan 26 Sya’ban 1430 Hijriah pada pukul 02.00 WIB.
Beliaulah KH. Asrori Usman Al Ishaqy, putra dari pasangan KH. Muhammad Usman Al Ishaqy dan Ibu Nyai Hj. Siti Qomariyah binti KH. Munadi.
Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq, ayah dari Sunan Giri, karena KH. Utsman merupakan keturunan ke -14 dari Sunan Giri (Raden Paku/Syekh Ainul Yaqin). Dari jalur ibu, nasabnya tersambung hingga Sunan Gunung Jati.
JIKA dirunut sampai ke Rasulullah SAW, beliau keturunan yang ke 38. Berikut susunan silsilahnya ; KH. Asrori Al Ishaqy, Muhammad Utsman Al Ishaqy, Nyai Surati, Kyai Abdullah, Mbah Dasha, Mbah Salbeng, Mbah Jarangan, Kyai Ageng Mas, Kyai Panembahan Bagus Kyai Ageng Pangeran Sadang Rono, Panembahan Agung Sido Mergi, Pangeran Kawis Guwa, Syekh Fadllullah (Sunan Prapen), Syekh Ali Sumadiro, Syaikh Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri), Syekh Maulana Ishaq, Syaikh Ibrohim Akbar (Ibrohim Asmorokondi), Syekh Jamaluddin Akbar (Syekh Jumadil Kubro), Syekh Ahmad Syah Jalal Amir, Syekh Abdullah Khon, Syekh Alwi, Syekh Abdullah, Syekh Ahmad Muhajir, Syekh Isa Ar Rumi, Syaikh Muhammad Naqib, Syekh Ali Al ‘Iridhi, Syekh Ja’far Shodiq, Syekh Muhammad al Baqir, Sayyid Ali Zainal ‘Abidin, Sayyid Imam Al Husain, Sayyidah Fathimah Az Zahro Nabi Muhammad SAW.
KETIKA wafat di usia 58 tahun, mendekati Bulan Ramadhan, ribuan orang ikut mengiringi jenazahnya. Semua kalangan, dari pejabat hingga masyarakat kecil berduka, khususnya kawasan Jawa Timur, merasa kehilangan tokoh panutannya.
Indonesia benar-benar berduka ketika itu. Untuk KH. Asrori Utsman Al Ishaqy bisirril fatikha…
MOHON maaf lahir dan bathin, Semoga bermanfaat, Wallahu’alam…
Nucholis Qadafi
Penceramah, Usahawan dan Jurnalis