Membaca Kondisi Real Koalisi Calon Pemimpin Nasional Menuju 2024

Ada baiknya sebelum kita mengetahui gambaran koalisi calon Presiden, kita harus paham dulu peta politik dan gerakan politik para user atau pemain politik di Indonesia.

Kita harus paham bahwa ada DUA kubu sebagai Big Power yang sedang saling proxy war di dalam Geopolitik Indonesia.

Pertama, Kubu “Merah” adalah kubunya LBP yang belakangnya diback up Cina Komunis. Orang-orang dalam asuhan dan binaannya Cina RRC yang dipimpin oleh Luhut adalah :Jokowi, Ganjar, Ahok, Airlangga, Zulhas, Erick Tohir, Dudung dll.

Kedua, Kubu “Merah Putih”, adalah kubunya Prabowo Subianto yang dibelakang diback-up Amerika. Orang-orang dalam asuhan dan binaannya Amerika yang dipimpin Prabowo adalah: Anies, AHY, Puan, Andika dll.

Format ini semua adalah Real apa yang telah terjadi di lapangan, bukan sekedar hasil dari analisa-analisaan belaka.

Jadi orang-orang ini sudah dipinang oleh salah satu Dua Kubu tersebut, entah Kubu Merah atau Kubu Merah Putih.

Orang-orang tersebut telah memiliki political area atau wilayah kapling politik masing-masing yang sudah terpetakan secara alami sesuai arah tujuan Geopolitik “tuannya”, yaitu Cina atau Amerika.

LBP telah persiapkan Ganjar menjadi pengganti Jokowi sebagai Presiden Boneka Kedua.

Jadi tidak akan mungkin tiba-tiba Ganjar loncat ke kubunya “Merah Putih”, atau Anies terbang ke kubunya “Merah” kecuali meraka dicap berkhianat.

Karena semua pemilihan Presiden Indonesia dari dahulu sampai sekarang tidak pernah lepas dari peranannya Amerika.

Dan saat inilah giliran si Cina Komunis ingin merebut dan mengambil alih peran Amerika terhadap calon pemimpin Indonesia.

Ada wacana koalisi antara Prabowo sebagai Capres dan Jokowi sebagai Cawapres. Ini adalah wacana sontoloyo dan dagelan politik.

Jokowi majikannya adalah Cina Komunis dan Prabowo tuannya adalah Amerika. Keduanya memiliki kepentingan, misi yang berbeda, bertolak belakang dan berseberangan, jelas tidak akan mungkin bersatu.

Ini tak akan mungkin terjadi dan terwujud karena antara paslon ini memiliki dua “Majikan” besar yang dua-duanya adalah musuh bebuyutan yang saling serang.

Terlebih Jokowi disini jadi “turun pangkat” dari Presiden menjadi Wakil Presiden.

Atau apa maksud dan tujuan dari Koalisi Kontroversi ini ? Ada dua alasan manuver koalisi ini.

Pertama, jelas ini wacana koalisi Prabowo-Jokowi adalah sebuah upaya test case atau strategi test ombak untuk melihat bagaimana gelombang pro kontra yang dihasilkan besar atau kecil terhadap koalisi Prabowo- Jokowi dan menghitung kekuatan pendukung Jokowi.

Kedua, jika ini benar diwujudkan oleh Prabowo, maka ini adalah manuver politik justeru ini akan memecah suara para pendukung Jokowi.

Tapi ingat setelah Prabowo berhasil menjadi Presiden, maka Prabowo harus selesaikan “tugas-tugas”nya. Jika ini tidak diselesaikan, maka bisa menjadi bumerang bagi Prabowo sendiri.

Lagi-lagi Prabowo melakukan manuver koalisi yang super kontroversial akan sulit direstui oleh LBP dan Cina Komunis.

Bila terjadi koalisi pun tentu ada “kontrak politik” antara Prabowo dengan LBP. Tapi itu bakal menjadi “buah simalakama” juga bagi LBP dan Cina, jika Prabowo benar berhasil menjadi Presiden. Maka seluruh power influence termasuk project Cina bakal disapu bersih oleh Prabowo.

Bagaimanapun bagi Cina, Prabowo merupakan agen Amerika yang anti Cina. Sedangkan bagi Amerika, LBP adalah agen Cina yang anti Amerika.

Yang jelas tidak akan mungkin bersatu berkoalisi untuk memilikii satu misi secara tulus kecuali masing-masing memang memiliki kepentingan.

Ikuti saja terus fragmen sandiwara politik ini, bagi rakyat diluar pendukung koalisi ini siapkan saja energi yang besar terutama bagi pendukung Anies.

Selamat berjuang di negeri sontoloyo..

Kanjeng Senopati
Pemerhati Intelijen, Cicit Paku Buwono X, Raja Keraton Kasunanan Surakarta 1894-1939

Related posts

Dua Tahun Prabowo, Antara Negara Kuat dan Pemerintahan Efektif

Memulihkan Kepercayaan, Tempat yang Layak bagi Taiwan di Dunia Bebas

Kalau Alam Sudah Menegur