Sabtu, 1 Oktober 2022 ini, tepat 17 tahun saya mulai mandiri. Menjadi orang bebas merdeka. Atasan satu-satunya hanya TUHAN. Saya sangat mensyukuri dan menikmatinya. Pilihan hidup yang tepat sekali.
Hari terakhir saya sebagai karyawan pada 30 September 2005 di Semen Cibinong. Setelah bekerja sekitar 10 tahun di perusahaan swasta itu.
Namanya berubah jadi Holcim Indonesia sesudah dibeli korporasi besar dari Swiss. Belakangan ganti nama menjadi Solusi Bangun Indonesia setelah beralih ke Semen Indonesia.
Semen Cibinong adalah perusahaan terakhir tempat saya bekerja. Sesudah 17 tahun sebelumnya, tepatnya 27 Desember 1988 memulai karir sebagai wartawan di harian Suara Indonesia, anak perusahaan Jawa Pos.
Bersamaan dengan itu saya kuliah semester pertama di Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang.
Saya sengaja kuliah sambil kerja karena untuk membiayai hidup sehari-hari. Juga buat membayar uang kuliah.
Selama 17 tahun bekerja sebagai karyawan di enam perusahaan yang berbeda-beda dan 17 tahun mandiri yang totalnya 34 tahun, banyak pelajaran dan pengalaman menarik yang saya peroleh. Semuanya sangat bermanfaat.
Salah satu pengalaman tersebut adalah setiap mau berhenti kerja, selalu saja ada beberapa teman yang menunjukkan empati plus menakut-nakuti.
“Aqua, kamu kalau tidak bekerja sebagai karyawan, tidak akan dihormat siapapun,” ujar mereka senada.
Merespon mereka, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Diiringi dengan jawaban, “Saya tidak dihargai siapapun, sama sekali ngga masalah. Terpenting mendapat penghargaan dari TUHAN. Itu yang paling utama dan hakikih bagi saya.”
Saya meyakini plus pengalaman pribadi, seseorang dihargai oleh orang lain bukan karena jabatan, pangkat, kekayaan, kecerdasan, wajah, dan hal lainnya yang terkait dengan duniawi.
Namun, penyebabnya dua hal utama yakni bagaimana menghargai diri sendiri dan orang lain secara universal.
Selama 34 tahun bahkan jauh sebelum itu, saat masih sekolah, saya telah merasakan hal tersebut. Makanya setiap berhenti bekerja sebagai karyawan termasuk total mandiri, saya sama sekali tidak khawatir.
Yakin punya TUHAN. Sangat meyakini TUHAN akan selalu memberikan rezeki dan pertolongan saat saya membutuhkannya.
Juga yang terpenting secara konsisten melakukan tiga hal. Menjaga hati selalu bersih, komunikasi yang baik sama semua orang, dan tetap berpikir positif.
Kualitas Kehidupan Lebih Baik
Keyakinan saya itu terbukti. Selama 17 tahun atasan satu-satunya hanya TUHAN, kualitas kehidupan saya dari berbagai aspek jauh lebih baik dibandingkan saat masih menjadi karyawan.
Saya bisa meneruskan pendidikan hingga mentok ke jenjang S3. Semuanya linier Ilmu Komunikasi.
Begitu juga rezeki dalam bentuk materi terus mengalir. Sama sekali tidak pernah kekurangan. Bahkan sering lebih sehingga bisa berbagi pada sesama yang membutuhkannya.
Bagi saya rezeki itu tidak semata-mata materi. Hal tersebut bagian kecil dari rezeki.
Paling utama adalah rezeki dalam bentuk kesehatan. Selama ini termasuk saat pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2021, saya sekeluarga diberi TUHAN kesehatan yang prima.
Selama pandemi Covid-19 pula aktivitas saya meningkat drastis. Banyak orang yang membutuhkan motivasi terutama mereka yang kehilangan pekerjaan dan yang usahanya lesu. Saya hadir di tengah-tengah mereka.
Rezeki berikutnya memiliki banyak teman. Saya sangat bersyukur karena punya banyak kawan baik di Indonesia maupun di mancanegara. Jumlahnya terus bertambah. Begitu juga kualitas pertemanannya.
Sebagian teman tersebut setiap hari intens berkomunikasi sama saya. Menariknya, banyak kawan yang setiap saat siap memberikan bantuan jika sewaktu-waktu saya membutuhkannya.
Selanjutnya mendapatkan amanah. Telah ratusan perusahaan dan institusi yang memberikan kepercayaan kepada saya, baik untuk Sharing Komunikasi dan Motivasi maupun sebagai konsultan Komunikasi.
Memotivasi Lebih Sejuta Orang
Alhamdulillah sampai sekarang saya telah memberikan Sharing Komunikasi dan Motivasi kepada lebih dari sejuta orang. Tempatnya di 34 provinsi di Indonesia dan puluhan negara.
Pesertanya beragam. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Sedangkan materinya disesuaikan kebutuhan mereka, dengan penekanan utama pada komunikasi. Itu sesuai dengan kompetensi saya.
Komunikasi menjadi hal utama dan paling dominan dalam kehidupan. Sampai sekarang masih banyak orang termasuk yang pendidikan dan jabatannya tinggi yang komunikasinya buruk. Sehingga hidupnya bermasalah baik dengan dirinya maupun dengan orang lain.
Rezeki yang terakhir dalam bentuk materi. Jumlahnya relatif. Banyak atau sedikit tergantung seseorang mensyukurinya.
Mereka yang bersyukur, biasanya selalu merasa cukup bahkan lebih, berapapun materi yang diterimanya. Sebaliknya mereka yang tidak bersyukur, sering merasa kurang. Hidupnya tidak tenang.
Menariknya semua rezeki itu adalah titipan. Setiap saat: detik, menit, dan jam semuanya bisa diambil TUHAN sebagai pemiliknya. Sedang mereka yang medapat titipan harus mempertanggungjawabkannya.
Insya ALLAH hingga akhir hayat, atasan saya satu-satunya tetap hanya TUHAN. Tidak ada yang lainnya.
Saya akan berhenti beraktivitas termasuk silaturahim serta melaksanakan Sharing Komunikasi dan Motivasi jika TUHAN telah menghentikannya. Selanjutnya mempertanggungjawabkan semuannya kepada TUHAN sebagai pemiliknya.
17 tahun menjadi orang bebas merdeka, TUHAN telah memberi banyak rezeki kepada saya sekeluarga. Semuanya sangat saya syukuri dan nikmati. Alhamdulillah…
Atas ridho TUHAN semoga saya bisa terus berkarya dan maksimal membantu sesama yang membutuhkannya. Aamiin ya robbal aalamiin…
Dari Bogor saya ucapkan selamat mensyukuri semua rezeki dari TUHAN. Salam hormat buat keluarga.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional