Santri

Santri. Foto/Ilustrasi/Ist

SANTRI “memaksa” manusia dewasa sebelum waktunya. Ia harus beradaptasi dengan ratusan, bahkan ribuan teman dari berbagai daerah yang berbeda-beda. 

Makan juga dengan keterbatasan lauk pauk. Itu dulu, sekarang ada banyak pilihan. Mau katering atau masak sendiri.

SANTRI, harus pantai mengatur duit, agar sebelum jatuh tempo kiriman, uangnya masih cukup. Ia harus kurang tidur karena tersita waktu belajar pagi dan malam.

Dia juga harus pandai mencuci, menyertika, juga menyapu. Itu dulu, sekarang sudah ada laundry. 

SANTRI, makannya gak boleh berlebihan, karena pasti yang satu nampan marah. Hahaha. 

Dia tak boleh ekselusif dalam pergaulan, karena yang lain protes. Ia harus bangun pagi, kalau nggak, mandinya pasti antre. Itu dulu, sekarang kamar mandinya banyak. 

SANTRI, nggak boleh keluar pondok sebelum liburan, biar tidak terkontaminasi dengan “angin luar”. 

Terpaksa santri manjat pohon jambu kyainya, kalau duit agak menipis. Tetapi jambunya harus dibagi ke teman-temannya, kalau nggak bisa dilaporin ke kyai. Hahaha….

SANTRI, dituntut baca Qur’an dengan fasih, karena kalau bacaanya buruk, pengasuhnya pasti ngomel-ngomel. “Kok, gak paham paham,” begitu kalimatnya. 

Santri juga hafal nadzoman, bait, sebagian Qur’an dan hadist, untuk persiapan naik kelas. Kalau nggak hafal, jadi persoalan.

SANTRI, harus bisa menyesuaikan teman yang tua maupun yang lebih muda, supaya bisa akrab, termasuk joint satu batang rokok bareng bareng. 

Tetapi, itu juga ngumpet-ngumpet. Kalau ketahuan pengasuh, bahaya. Santri harus patuh sama kyainya, kalau nggak ilmunya khawatir tidak barokah. 

SANTRI, dituntut harus bisa ngimamin sholat, wiridan, tahlilan, ceramah dsb, kalau nggak bisa, nanti disangka tidur doang selama di pondok. Seperti jasa pelayanan, one stop service. Harus bisa apa saja. 

SANTRI harus patuh sama peraturan pondok, kalau enggak dihukum, dipotong rambutnya. Juga harus lincah, karena kalau lelet (lambat) selalu gak kebagian apa-apa. Santri harus mental baja, sebab jarang ketemu orang tua. 

SANTRI nggak boleh pelit, kalau pelit, lemarinya ada yang bobol. Maksudnya ? Santri harus dermawan, kalau nggak temannya sedikit. 

Kesannya memaksa, tetapi mendidik agar biasa peduli sama sesama. Apa saja, santri harus menerima keadaan. 

Kalau nggak, setiap hari pasti kepikiran melulu. Seperti dikarantina, digembleng mental dan ilmunya, agar siap pakai ketika terjun di masyarakat. 

KALAU ada kriminal santri, pasti itu sudah keterlaluan. Ilmu yang diberikan pengasuh, belum mendarah daging untuk diresapi.

Atau karena pengaruh budaya luar. Atau lemahnya pengawasan pihak pondok. Sebab, takdir memang tak bisa dihindari.

SANTRI dulu memang beda sama santri sekarang. Tetapi, judulnya sama. Sama sama ingin belajar ilmu agama karena hukumnya fardhu ain (tidak bisa diwakili). 

DUHAI santri, engkau kini bukanlah milik pribadi. Tetapi sudah menjadi “simbol” bangsa. 

Arah pikir dan gerakmu harus berbanding lurus dengan cita-cita pendiri negara ini. Membangun peradaban positif bagi kemajuan Tanah Air. 

SANTRI sesungguhnya tidak harus dan melulu yang pernah mondok saja. 

Tetapi, siapapun yang berakhlak seperti santri (akhlakul karimah/beretika/beradab) dialah seorang santri sejati (KH. Mustofa Bisri).  

TEPAT, 22 Oktober ditetapkan HARI SANTRI. Semoga santri tetap menjadi santri yang mandiri. 

Harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Jangan cengeng, jangan manja, jangan kolokan dan jangan coreng negeri ini. Untuk santri Indonesia. Alfatikha… 

MOHON maaf lahir dan bathin Semoga bermanfaat.Wallahu’alam.

H Nurcholis Qadafi

Penceramah, Usahawan dan Jurnalis Senior

Related posts

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah

Bersyukur Semua Teman di Kejaksaan Promosi Kajati dan Sekretaris Jaksa Agung Muda

Pernyataan Resmi Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia