Saya mendengar kabar buruk. Ada perusahaan besar di Indonesia yang sejak pandemi Covid-19 hingga sekarang, pemiliknya berbuat semena-mena kepada para karyawannya. Salah sedikit langsung pecat.
Tidak hanya itu, karyawan yang telah lama bekerja bahkan hingga belasan tahun, yang mengundurkan diri dari perusahaan, sama sekali tidak mendapat pesangon. Hak-haknya diabaikan.
Hampir setiap minggu, karyawan di perusahaan itu berkurang. Ada yang mengundurkan diri. Namun tidak sedikit pegawai yang dipecat. Tanpa ada peringatan lisan dan tertulis lebih dulu.
Ironisnya, berkurangnya karyawan di perusahaan itu baik karena dipecat maupun mengundurkan diri, tidak diiringi dengan penambahan pegawai baru. Akibatnya beban kerja karyawan yang masih bertahan bertambah tanpa ada tambahan kesejahteraan.
Kondisi itu diperparah dengan para pegawai yang bekerja lebih dari delapan jam sehari tanpa mendapatkan uang lembur.
Suka tidak suka para pegawainya harus melaksanakan itu. Jika tidak konsekuensinya keluar dari perusahaan tersebut.
Pasca pandemi Covid-19 di mana banyak perusahaan yang memberhentikan karyawannya —kondisi seperti ini masih terus berlangsung— mencari kerja susah.
Akibatnya para karyawan di perusahaan besar itu dengan terpaksa bertahan. Sebelum mereka menemukan tempat kerja baru.
Tidak Tenang dan Resah
Kondisi di perusahaan itu sangat tidak kondusif. Hampir sebagian besar karyawannya di semua level: mulai dari pelaksana, manajer, hingga direksi, merasakan hal serupa.
Perasaan mereka sama-sama tidak tenang dan resah. Setiap saat bakal menghadapi ancaman pemecatan. Hanya masalah waktu saja.
Akibatnya berpengaruh pada kinerja mereka. Konsumennya secara signifikan merasakan penurunan kualitas pelayanan perusahaan itu.
Hari ini perusahaan itu masih besar. Namun jika situasi dan kondisinya tidak segera diperbaiki terutama memanusiakan semua manusia yang bekerja di perusahaan tersebut, hanya menunggu waktu saja, bakal menjadi perusahaan kecil bahkan gulung tikar alias bangkrut.
Itu bisa terjadi sewaktu-waktu. Sudah banyak contoh tentang hal tersebut. Pemilik perusahaan yang tidak menghargai semua pegawainya, bakal mengalami kebangkrutan. Hanya tinggal nama saja.
Seharusnya pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir tiga tahun, menyadarkan semua orang terutama pemilik perusahaan, betapa sangat berharganya para karyawan dan konsumen. Dua hal yang saling terkait erat. Sama-sama menjadi aset utama.
Semoga TUHAN segera menyadarkan pemilik perusahaan yang semena-mena itu, sebelum Sang Pencipta alam semesta dan seisinya dengan caraNYA mengambil semua titipanNYA. Aamiin ya robbal aalamiin…
Dari Jakarta menjelang silaturahim dan belajar kepada seluruh teman yang ditemui, saya ucapkan selamat berusaha menghargai semua orang. Salam hormat buat keluarga.
Dr Aqua Dwipayana
Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional