Menyebut nama Kota Bukittinggi, kita langsung terkenang Jam Gadang, bangunan yang identik dengan Bukittinggi dan merupakan landmark kota tersebut.
Bangunan peninggalan era Hindia Belanda ini adalah sebuah menara penunjuk waktu yang berada di pusat Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat.
Monumen Jam Gadang setinggi 26 meter berdiri di atas bangunan dasar seluas 13 x 4 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih.
Lokasinya dikelilingi Pasar Bawah, Pasar Atas, Plaza Bukittinggi dan Istana Bung Hatta, serta dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol) Kota Bukittinggi.
Kata “gadang” pada nama Jam Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “besar”.
Karena ukuran jam yang terdapat di keempat sisi menara tersebut memang cukup besar, diameternya mencapai 80 sentimeter, sehingga bangunan tersebut dinamakan seperti itu.
Jam Gadang Bukittinggi buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Harga tiket masuk ke museum jam ini sekitar Rp10.000 perorang.
Selain itu, wisatawan juga dapat menyewa pakaian adat Minangkabau seperti baju kurung, selendang, dan songket sehingga mereka dapat berfoto dengan pakaian khas Minangkabau.
Selain itu, wisatawan juga dapat menyewa pakaian adat Minangkabau seperti baju kurung, selendang, dan songket sehingga mereka dapat berfoto dengan pakaian khas Minangkabau
Jam Gadang dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda.
Jam ini merupakan hadiah bagi sekretaris kota atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) yang menawarkan saat itu yakni HR Rookmaaker.
Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rookmaaker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Menara jam ini dirancang oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh.
Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden, sebuah nilai yang cukup besar saat itu.
Reportase: Theo Esto