Orang tua sebagai lingkungan terdekat anak mempunyai peran yang penting dalam mendukung perkembangan anak.
Salah satu hal yang dapat mendukung perkembangan anak ialah pola asuh yang diterapkan oleh orang tua.
Penelitian Baumrind menyimpulkan ada empat gaya pola asuh yaitu Authoritative (otoritatif), Authoritrian (otoriter), Permissive (memanjakan) dan Uninvolved atau neglacful (abai).
Lalu bagaimana potensi dampak pengasuhan otoriter pada anak usia prasekolah atau sekitar 3-6 tahun terutama di perkembangan psikososialnya ?. Orang tua harus baca ini.
Pola asuh authoritarian atau otoriter lebih berorientasi pada adanya permintaan yang tinggi dari orang tua terhadap anak dan tidak dibarengi dengan tingginya respon orang tua terhadap anak (keintiman emosional), hal ini cenderung memperlihatkan kekuatan (power) dan kendali alih-alih koneksi.
Sedang anak usia prasekolah adalah anak yang berada di usia antara 3-6 tahun.
Di usia ini anak mengalami pertumbuhan fisik yang melambat dan perkembangan psikososial serta kognitifnya meningkat.
Rasa ingin tahu dan kemampuan berkomunikasi pada anak di masa ini juga mulai berkembang.
Pada usia prasekolah atau usia 3-6 tahun ini, sesuai dengan klasifikasi teori perkembangan psikosial menurut Erik Erikson berada di tahap ketiga yaitu Iniative versus Guilt (inisiatif versus
rasa bersalah).
Pada tahap ini, anak belajar untuk melakukan tindakan dalam penyelesaian masalahnya sendiri dan ditahap ini seharusnya orang tua bisa mendorong dan membimbing anak untuk menumbuhkan kemampuan inisiatifnya serta rasa percaya diri.
Penerapan pola asuh otoriter dapat membuat anak merasa kepentingan dan hobinya tidak dianggap penting, anak juga bisa merasa kecewa dan akhirnya frustasi karena sikap orang tua dalam menerapkan pola asuh otoriter lebih banyak menuntut anak dan hal tersebut dapat menjadi beban bagi anak.
Ciri khas pola asuh otoriter antara lain:
1. Berpusat pada kendali orang tua
2. Berpusat pada hukuman alih-alih konsekuensi
3. Pendapat anak tidak didengarkan, sehingga anak tidak memiliki eksistensi di rumah
4. Tingkah laku anak dikontrol sangat ketat
Dampak Pola Asuh Otoriter Terhadap Perkembangan Psikososial Anak Usia Prasekolah
Setiap orang tua tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Setiap tipe pola asuh yang ada pastinya mempunya sisi positif maupun negatif yang dapat berdampak pada anak.
Pola asuh yang sama mungkin akan berbeda hasil atau dampaknya jika diterapkan di dalam kondisi ataupun situasi yang berbeda.
Sama halnya dengan pola asuh otoriter. Pola asuh otoriter dengan penerapan sikap disiplin dari orang tua terhadap anak tentunya memiliki dampak yang baik untuk disiplin anak
kedepannya.
Namun, apabila tidak disertai keseimbangan antara tuntutan dan kendali juga minimnya koneksi emosional dengan anak, maka di khawatirkan pada tahapan perkembangan psikososial anak di usia 3-6 tahun yang lebih membutuhkan stimulus dari orang tua berupa rasa kebebasan yang didapat oleh anak untuk mengeksplor rasa ingin tahunya, sikap kemandiriannya, dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya malah akan menjadi faktor penghambat perkembangan.
Orang tua hendaknya memahami dan mempelajari berbagai tipe pola asuh yang ada serta bisa selektif untuk dalam memilih pola asuh yang akan diterapkan kepada anak.
Pola asuh sangat berdampak pada perkembangan anak sehingga orang tua harus mengetahui pola asuh mana yang tepat bagi perkembangan anak sesuai dengan usianya.
Jadi selamat dan semangat parents. Berproses dan bertumbuh bersama anak, alih-alih melawan
Berkolaborasi daripada mengedepankan koreksi dengan menguatkan koneksi.
Jabat erat dan dekap hangat Hello konselor parenting. Konsul dan terapi, WA : 0859 3227 8203, Email : tionovi.konselor.hattra@gmail.com
Mamak Oppie
(Dialektika Konselor)