JAKARTA – Acara diskusi kebudayaan ‘Suhardi Presiden Pelukis Penyampai Kebenaran’ untuk mengenang wafatnya pemilik nama lengkap KP Hardi Danuwijoyo (1951-2023).
Diskusi berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Rabu (3/1/24) dihadiri para seniman, jurnalis, budayawan, usahawan dan mahasiswa.
Agenda diskusi menghadirkan Ketua Komite Seni Rupa DKI Aidil Usman, Kurator Seni Rupa Bambang Asrini Wijanarko, Novelis Fanny Jonathans Poyk dan Kritikus Seni Yusuf Susilo Hartono. Sedangkan moderator acara Amien Kamil.
Diskusi budayaan ‘Suhardi Presiden Pelukis Penyampai Kebenaran’, kata Amien, dilaksanakan untuk mendapatkan lanskap sosok Suhardi yang fenomenal dengan menampilkan keempat narsum ini.
“Seniman-seniman saat ini berbeda dengan seniman tahun 70-an. Ini (Diskusi Budaya) sebuah refleksi untuk merenung dan menggugah nurani agar saling peduli terhadap sesama seniman,” jelas Amien.
Pembicara pertama Aidil mengatakan, sosok Suhardi adalah seniman yang lantang dalam menyampaikan kritik.
“Sepertinya, setelah dia tidak ada lagi sosok seniman seperti Suhardi yang sangat konsisten dalam berkarya dan kritikal,” ungkapnya.
Aidil melanjutkan, setiap peristiwa penting dan bernilai sejarah selalu bisa dijadikan ‘nilai’ dalam setiap karya lukisan Suhardi.
Sedangkan Fanny mengatakan, dirinya mengenal sosok Suhardi sejak tahun 70-an di Pulau Dewata, Bali.
“Saya mengenal saat saya masih kelas 6 SD. Saya diajak ayah untuk melihat kehidupan para pelukis di Bali,” jelasnya mengenang.
Sikap keseharian Suhardi, jelas dia, sangat penuh kritik. “Itu (Kritik) sebagai bentuk jalur kesenian yang dipilihnya. Kritik terhadap pemerintah itu sebagai bentuk kejujuran dan dia tidak munafik,” paparnya.
Sementara Yusuf mengenang perjumpaan pertama dengan Suhardi pada tahun 80-an di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Balai Budaya, Jakarta.
“Suhardi orang yang blak-blakan. Dia sangat percaya diri. Suhardi adalah seniman yang membawa ekponen gaya baru,” katanya.
Suhardi, jelas dia, selalu mengusung tema-tema sosial dalam setiap karyanya. Menurutnya, Suhardi perupa yang berani melawan dan mengkritik Soeharto.
“Suhardi dalam memelihara persahabatan itu antara benci dan rindu. Sosok yang tidak ada gantinya. Dia pintar menjalin jaringan dan punya hubungan baik juga dengan penguasa,” paparnya.
Yusuf mengungkapkan, Suhardi ingin meniru kesuksesan Raden Saleh dan Basuki Abdullah.
“Dia menyebut dirinya sebagai seniman intelektual. Karya-karyanya juga sarat kebangsaan,” pungkasnya.
Sementara itu, nara sumber Bambang menilai Suhardi adalah seniman multiparas dan eksentrik.
“Dalam satu sisi keras terhadap penguasa, tapi pada sisi lain dia pintar menjalin hubungan dengan penguasa juga karena harus survive secara materi,” paparnya.