JAKARTA – Delapan atlet putri nasional cabang olahraga dayung kano Indonesia tetap menjalani latihan keras untuk meraih tiket ke Olimpiade ke-33 di Paris yang diperebutkan pada babak kualifikasi di Jepang 18-21 April 2024.
Atlet asal Wajo (Sultra) berusia 32 tahun, Dayumin, dinilai memiliki peluang besar mengatasi pesaing-pesaing berat dari Kazakhstan, Uzbekistan, Vietnam, Thailand, dan Iran di nomor kano-perorangan putri 200 meter (W C1 200).
“Dayumin menunjukkan penampilan yang menjanjikan selama berlatih 4 pekan bersama atlet nasional Georgia (Eropa-Timur/Asia-Barat) dan peraih medali Olimpiade asal Ukrainia di Antalya (Turki) 6 Maret hingga 3 April, dan kemudian berlanjut latihan di Cipule (Jabar),” kata Andrii Kraitor, 32 tahun, pelatih asal Rusia yang bermukim di Bulgaria dan beberapa kali berlomba di berbagai kejuaraan tingkat Eropa maupun dunia dengan membawa bendera Ukraina dan Azerbaijan.
Sementara itu peluang tiket ke Olimpiade Paris di nomor kano-ganda putri 500 meter (W C2 500) dipercayakan kepada pasangan-baru Nur Meni asal Pulau Bontu-Bontu (Sultra) berusia 32 tahun dan Sella Monim asal Sentani (Papua) berusia 26 tahun.
“Walaupun Meni dan Sella adalah pasangan baru yang belum berpengalaman lomba, namun selama berlatih di Antalya, keduanya mencatat kemajuan yang pesat sehingga memiliki peluang,” kata Andrii yang pernah melatih tim nasional kano China 2018 hingga 2021, sebelum melatih di Pelatnas Dayung Kano Indonesia sejak 2022.
Cuaca di Jepang
Dayumin, Meni, dan Sella bersama tiga atlet nasional dayung kano putri Indonesia lainnya bertolak ke Jepang Sabtu (13 April) dipimpin Manajer Tim Edy Suyono, yang juga Sekjen Pengurus Besar PODSI (Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia), didampingi pelatih-kepala asal Jabar, M. Suryadi, dan pelatih asal Jambi, Roinadi.
“Panitia lomba telah membantu tim Indonesia dengan meminjamkan perahu untuk berlatih, berhubung perahu yang kami bawa dari Indonesia belum tiba karena masalah teknis-administrasi di bea cukai Jepang,” kata Edy Suyono.
Sementara Pelatih Andrii Kraitor bersama seorang pelatih dan dua atlet putri lainnya menyusul ke Jepang 16 April karena keterlambatan proses visa.
Perihal peluang atlet dayung kano Indonesia meraih tiket ke Olimpiade Paris, Juli-Agustus 2024, dalam “2024 ACC Canoe Sprint Asian Championships & Olympic Qualifier” atau Kejuaraan Kano Sprint Asia dan Kualifikasi Olimpiade ACC (Asian Canoe Confederation) 2024 di Sea Forest Waterway di Teluk Tokyo, Jepang, 18-21 April 2024, Andrii menjelaskan, banyak faktor yang dapat mempengaruhi penampilan para atlet peserta lomba, termasuk cuaca dingin dan angin kencang.
“Mari kita doakan bersama agar para atlet kita mampu mengatasi semua kendala dan berhasil meraih tiket Olimpiade Paris 2024,” kata Andrii.
Panitia lomba menyampaikan bahwa temperatur terrendah udara di Tokyo pada bulan April dapat mencapai 10,6 derajat Selsius, dan kelembaban (kandungan uap air di udara) mencapai 67 persen.
Sementara itu tingkat kelembaban yang nyaman di Indonesia menurut Permenkes RI No. 5/2018 adalah 40 persen hingga 60 persen.
Kecepatan angin rata-rata 1,6 meter/detik, dan yang tertinggi pernah mencapai 4,1 meter/detik pada tengah-malam.
Tempat lomba dayung Sea Forest Waterway yang terletak di jantung Kota Tokyo, di seberang Tokyo International Cruise Terminal, merupakan kanal di perairan lepas pantai dengan lintasan sepanjang 2.300 meter, lebar 200 meter, serta kedalaman air lebih dari 5 meter, dilengkapi pengendali gelombang laut, dan tribun penonton berkapasitas 12.800 orang.
Berdasarkan jadwal UPP (Upacara Penghormatan Pemenang), pengalungan medali juara nomor kano-ganda putri 500 meter (W C2 500) akan berlangsung pada 19 April pukul 12:06 waktu setempat (10:06 WIB), sedang nomor kano-perorangan putri 200 meter (W C1 200) berlangsung pada 21 April pukul 11:35 waktu setempat (09:35 WIB).
Lima atlet putri dayung kano lainnya yang juga akan berlomba di Jepang adalah Ramla 25 tahun asal Batupapan (Sulsel), Cinta Priendtisca Nayomi 24 tahun asal Jakarta, Herlin Aprilin Lali 20 tahun asal Hobong (Papua), Sri Kandi asal Pulau Renda 19 tahun (Sultra), dan Nurevani Feraliana 20 tahun asal Garut (Jabar).