Prabowo Berpotensi Jadi Penghianat Bangsa dan Negara

Rekam jejak unik untuk tidak menyebut buruk menjadi pengkhianat keluarga dan Istana di masa pemerintahan Soeharto.

Prabowo bin Soemitro Djojohadikusumo tidak disukai bahkan dianggap anak bandel sehingga terpaksa hengkang ke Amman, Yordania.

Dengan Titik Soeharto pun akhirnya ia harus bercerai. Ada watak buruk dalam pandangan keluarga istana.

Berkhianat atas jati diri prajurit TNI telah mencoreng dahinya. Seorang yang pernah menjabat Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad harus dipecat dari status ketentaraan dalam TNI.

Adalah nama-nama yang merekomendasi pemecatan antara lain Jenderal Subagyo HS, Jenderal Agum Gumelar, Jenderal Wiranto, dan Jenderal SBY.

Prabowo berkhianat pada rakyat khususnya rakyat pendukung. Timbul tenggelam bersama rakyat adalah teriakan yang masih menggema.

Ketika “belok” menjadi pembantu Jokowi, maka rakyat dibiarkan tenggelam Prabowo timbul sendirian.

Ulama yang pernah “berijtima” mendukung ikut dikhianati. Kasus KM 50 tidak dipedulikan lagi.

Sebelum diputus MK menang dalam gugatan Pilpres, Prabowo dipanggil Xi Jinping ke Beijing  entah mendapat arahan apa, yang jelas MK memenangkan saat ia kembali.

Kini setelah dilantik Prabowo “diundang” kembali ke Beijing jumpa Xi Jinping. Ikut membersamai beberapa pengusaha Naga. Berbagai kesepakatan dibuat oleh keduanya.

Diantara kesepakatan, ada 2 yang dinilai kontroversial, yaitu :

Pertama, pengakuan atas klaim China “Nine Dash Line” laut “warisan” yang berkonsekuensi mengambil sebagian laut milik Indonesia.

Pengakuan yang melanggar Hukum Laut Internasional ini jelas berbahaya dan telah menggerus kedaulatan negara Republik Indonesia.

Prabowo berkhianat tanpa rasa bersalah, malah sepertinya bangga dan riang gembira.

Kedua, China memberi makan siang gratis program Prabowo. Sungguh memalukan bangsa yang selalu dipidatokan sebagai “besar”, “merdeka”, “tidak mau didikte asing” ternyata ditempatkan sebagai bangsa pengemis yang diberi makan gratis oleh China Komunis.

Prabowo yang berjanji, China yang menepati. Adakah “bantuan” ini barter dengan Nine Dash Line atau sekarang Ten Dash Line?.

Praktek politik Prabowo setelah menjadi Presiden ternyata “amburadul dan awut-awutan” atau tidak ajeg bahkan mencemaskan.

Baru beberapa hari berkuasa sudah melangkah semaunya.

Tulisannya dalam “Paradoks Indonesia dan Kepemimpinan Militer” ternyata hanya sebuah  narasi dari omon-omon yang gemoy.

Ada kekhawatiran atau kecemasan bahwa Prabowo memiliki karakter pemimpin yang berimajinasi menjadi orang besar atau pahlawan.

Megalomania dengan jualan pidato..to..to.

Jika Jokowi itu Presiden yang tidak mahir pidato dan tidak mampu kerja, akankah  Prabowo menjadi Presiden yang jago pidato tapi tidak mampu bekerja meski mungkin sama-sama bermotto kerja, kerja, kerja?.

Fakta ke depan yang akan menjawab.

M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Redaktur: Abdul Halim

Related posts

Di Bandung, Sehari Tiga Sesi Memotivasi Ratusan Orang

JK Bersuara, Jokowi Sengsara

Semburan Fitnah Khas Komunis dari Jokowi