Tradisi Berbagi Bubur Suro, Menu Takjil Dinanti di Masjid Besar Al – Mahmudiyah Palembang

PALEMBANG – Masjid Besar Al Mahmudiyah Palembang tetap melestarikan tradisi berbagi takjil dengan membagikan bubur Suro.

Merupakan bubur nasi yang dimasak lebih kurang selama 1-2 jam yang dicampur dengan rempah-rempah dan daging, menjadi menu berbagi wajib dimasjid Al Mahmudiyah menjelang berbuka puasa.

Masjid Besar Al Mahmudiyah atau dikenal juga dengan masjid Suro, karena terletak di Jalan Ki Gede Ing Suro 30 Ilir Palembang, banyak warga sudah antri sebelum salat Azhar tiba untuk merasakan nikmatnya bubur Suro disaat berbuka puasa.

Menurut Ketua Masjid Suro, Kgs H Abdul Rasyid Naning tradisi berbagi Bubur Suro menjelang berbuka puasa ini sudah ada puluhan tahun lalu dimasjid yang dibangun pada 136 tahun lalu.

“Dahulu pembagian bubur Suro ini hanya diperuntukan jemaah yang berbuka di masjid, tetapi kemudian banyak masyarakat yang ingin ikut membantu memberikan sumbangan, sehingga dibagikan juga dengan warga sekitar,” ujar Ki Agus Rasyid Naning.

Untuk setiap hari hingga akhir Ramadhan bubur Suro yang dimasak sebanyak 10 kg beras, dengan ditambah 3 kg daging serta rempah-rempah lainnya sebagai penyedap.

“Masak dimulai dari jam 1 dan setelah salat Azhar dibagikan pengurus masjid, tidak hanya warga sekitar bahkan ada yang dari jauh datang hanya uttuk menikmati lezatnya bubur Suro ini,” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris Masjid Al Mahmudiyah, Ust Hadjrianto Akbar mengatakan untuk memasak bubur Suro ini dibutuhkan 2 dandang besar yang masing-masing berkapasitas 5 kg.

Untuk memasaknya ini dikatakan Hadjrianto Akbar dengan merebus air terlebih dahulu, setelah mendidih baru dimasukan beras yang telah direndam selama 1 malam agar terasa lebih lembut ketika dimasak.

“Setelah menjadi bubur, baru dimasuki bumbu kering dan bumbu basah, termasuk juga daging cincang, sebagai penyebab rasa bubur,” jelasnya

Dijelaskannya beberapa bumbu wajib di dalam bubur yaitu Bumbu rempah basah
sudah dijadikan bubuk dicampur bawang merah putih kemirih lada cengkeh kapulaga plus ditambah bumbu sumur Sauri tiram.

Sementara bumbu kering kayu manis, cengkeh. Bintang TK dan lain campur kecam penyedap gula secukupnya.

“Ini merupakan. Tradisi berbagi ala masjid Suro yang masih kita pertahankan turun temurun, dalam satu tahun 2 kali yaitu dibulan Hasura atau tahun baru Islam dan Ramadhan,” jelasnya

Untuk diketahui masjid Besar Al Mahmudiyah dibanngun tahun 1310 M atau sekitar 136 tahun lalu.

Masjid ini didirikan oleh KH Abdul Rahman Delamat berasal dari tanah Wakaf Kgs H Hotib Mahmud.

Masjid Beaar Al Mahmudiyah atau dikenal masjid Suro merupakan pusat penyiaran agama Islam di Palembang.

Salah satu keunikan masjid ini adalah mempunyai kolam air yang digunakan untuk wudhu tidak pernah kering walupun dimusim kemarau. Sehingga sekarang kolam tersebut masih digunakan jemaah.

Masjid memiliki luas bangunan utama 17×17 meter persegi dengan konstruksi kayu sebagian besar, seperti mimbar, Jendela hingga tempat imam.

Selama Ramadhan siar Islam dimasjid ini terus ditingkatkan seperti saaat Teraweh 23 rakaat, tadarus siar isaam lainnya.

Semarak Ramadhan makin terasa di masjid Suro, ketika menjelang buka puasa karena ada pembagian bubur setiap hari.

Related posts

Komodo National Park Resmi Jadi Destinasi Terindah ke-2 Dunia

FFH Edisi ke-5, Pengaruh Negatif Film Dijaga Lewat Sensor dan Suzanna Film Terpilih

Takato Castle Park Dipenuhi Wisatawan Saat Sakura Mekar Sempurna