Harga Beras Mahal, Pemerintah Diminta Gerak Cepat Temukan Solusi

Foto/Ilustrasi/Beritaind/Boy

JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jaelani, mendesak pemerintah bergerak cepat mengatasi lonjakan harga beras yang kian memberatkan masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras di 191 daerah di Indonesia terus merangkak naik.

Di Papua, harga beras bahkan tembus Rp54 ribu perkilogram.

“Kami menilai pemerintah perlu segera melakukan langkah-langkah terpadu dengan melibatkan berbagai stake holder seperti Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, hingga Bulog menurunkan harga komiditi pokok terutama beras,” ujar Jaelani, Selasa (12/8/25).

Berdasarkan data BPS harga beras di minggu pertama Agustus 2025 masih relatif mahal.

Tingginya harga beras ini terjadi di zona 2 dan 3 yang terdiri wilayah Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan serta Maluku dan Papua.

Untuk zona 2 harga beras tertinggi di Kabupaten Mahakam Hulu yang mencapai Rp20.685 perkilogram.

Sedangkan harga tertinggi beras di zona 3 ada di Papua yang mencapai Rp54.772 perkilogram.

Jaelani menjelaskan, kenaikan harga beras harus menjadi perhatian serius dari pemerintah.

Apalagi saat ini mayoritas masyarakat mengalami penurunan daya beli.

“Pemerintah melalui Bulog harus gencar menyalurkan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ke berbagai daerah agar harga beras segera turun dan stabil. Ini langkah darurat yang tidak bisa ditunda,” tegasnya.

Dia menilai, pemerintah juga perlu mengidentifikasi pemicu kenaikan harga bahan pokok, khususnya beras dan telur.

Jika ditemukan adanya pihak yang sengaja memainkan harga dengan berbagai modus operandi, aparat penegak hukum harus bertindak tegas.

“Presiden Prabowo sudah berulang kali menegaskan komitmennya menjamin pasokan bahan pokok dengan harga terjangkau,” katanya.

“Beliau juga memerintahkan tindakan tegas terhadap pelaku pengoplosan beras demi keuntungan jangka pendek,” ujar Jaelani lagi.

Selain itu, Jaelani menekankan pentingnya langkah taktis dari Kementerian Pertanian meningkatkan produksi pangan.

Upaya tersebut mencakup penataan distribusi pupuk bersubsidi, kepastian akses kredit murah bagi petani, hingga modernisasi alat dan teknologi pertanian.

“Janji kedaulatan pangan yang diusung pemerintah harus menjadi kenyataan, bukan sekadar slogan. Masyarakat menunggu bukti nyata,” pungkasnya.

Related posts

Muba Maju Lebih Cepat : Pekerja Rentan Muba Terlindungi 

Bintara Muda Tewas Tak Wajar di Asrama, PKB: Polri Harus Transparan

DPR, Sengketa Lahan di Tanah Abang Harus Selesai Sebelum Rusun Subsidi Dibangun