Gula Rakyat Menumpuk di Gudang, Komisi VI DPR: Pemerintah Harus Tindak Mafia Gula Rafinasi

Foto/Ilustrasi/Ist

JAKARTA — Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKB Nasim Khan mendesak pemerintah menindak tegas mafia gula rafinasi yang merugikan masyarakat.

Saat ini, puluhan ribu ton gula milik rakyat menumpuk di gudang, karena tidak bisa dijual.

Penyebabnya, gula rafinasi impor membanjiri pasar.

Nasim mempertanyakan komitmen pemerintah mewujudkan cita-cita Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan, khususnya gula.

Menurutnya, upaya ini akan sulit tercapai jika pemerintah tidak segera menindak tegas praktik rembesan gula rafinasi impor yang selama ini merugikan petani tebu dalam negeri.

“Bagaimana kita bisa mencapai swasembada pangan, khususnya gula, jika mafia gula rafinasi masih leluasa bermain? Danantara maupun BUMN akan terus merugi bila terus menjadi penyangga sementara pemerintah tidak tegas mengatasi rembesan gula rafinasi impor,” tegas Nasim.

Dia mendesak Kemenko Pangan, Kementerian Perdagangan, dan Satgas Pangan segera bertindak jelas dan tegas mengusut praktik mafia gula yang berulang di setiap periode.

Praktik mafia gula rafinasi tidak boleh dibiarkan.

Saat ini, kata Nasim, kondisi petani tebu semakin terpuruk.

Banyak di antara mereka mengalami kerugian besar, bahkan ada yang harus menjual aset, berutang dengan jaminan pinjaman, hingga kehilangan seluruh modal.

“Petani tebu menangis. Mereka hanya memohon pengembalian dana pembayaran yang sudah lebih dari sebulan belum diterima, padahal masa tebang masih panjang,” ujarnya.

Selain itu, pabrik gula juga menghadapi masalah serius.

“Gudang penyimpanan penuh, kualitas tebu terancam menurun, bahkan harus menyewa tempat tambahan. Ini situasi yang sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.

Nasim menegaskan, pemerintah harus cepat mengambil langkah konkret untuk membantu petani tebu dan mengendalikan tata niaga gula nasional.

“Atas nama petani tebu, saya memohon kebijakan dan perhatian langsung dari Bapak Presiden Prabowo agar persoalan gula ini segera ditangani dengan tegas. Jangan biarkan petani kecil terus menjadi korban,” pungkasnya.

Seperti diberitakan puluhan ribu ton gula rakyat menumpuk di gudang dan tidak bisa dijual.

Di PG Prajekan, sebanyak 4.600 ton gula belum terjual, senilai sekitar Rp60 miliar.

PG Assembagoes, Situbondo, sebanyak 5.000 ton gula tersisa di gudang, setara Rp50 miliar.

Kemudian di PG Panji, sebanyak 2.500 ton gula menumpuk, nilainya sekitar Rp36 miliar.

Dan di PG Wringin Anom, sebanyak 3.900 ton gula tidak terserap pasar selama delapan periode terakhir.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran serius di kalangan petani tebu.

Sebab, hasil panen yang sudah digiling belum dibayar, sementara beban biaya produksi terus menghimpit.

Related posts

Wakil Ketua Komisi IX: Ketua BGN Baru Harus Mampu Menjalankan Amanat Presiden

Kasus Hanania Travel Telan Rp12 Miliar, DPR Desak Pemulihan Total Uang Jemaah

Gema Kosgoro Kirim Karangan Bunga, Apresiasi Presiden Copot 3 Pejabat BGN