PALEMBANG – Di tengah derasnya arus digitalisasi, UMKM Indonesia dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat.
Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan, dari 65,1 juta pelaku UMKM, baru sekitar 30 persen yang memanfaatkan platform digital untuk memasarkan produk mereka.
Padahal, laporan We Are Social 2024 mencatat 79,5 persen masyarakat Indonesia aktif di media sosial, sebuah pasar potensial yang terlalu besar untuk diabaikan.
Melihat tantangan dan peluang tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Program BIMA 2025, Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menggelar Pelatihan Digital Branding dan Desain Kemasan Inovatif di Palembang.
Tujuannya jelas, menguatkan citra merek dan meningkatkan daya saing UMKM di era Society 5.0.
Kegiatan ini dipimpin oleh Delta Khairunnisa, S.E., M.Si. sebagai ketua pengusul, bersama anggota pelaksana Arabiatul Adawiyah, S.Kom., M.Kom. dan Siska Almaniar, S.Pi., M.Si., dibantu dua mahasiswa pendamping Al-Man Raffli Saputra dan Zalsabila Herawaty.
Mitra utama kegiatan adalah Kemplang Bakar Harun, UMKM kuliner khas Sumatera Selatan yang telah puluhan tahun menjaga resep kemplang bakar tradisional.
Di era Society 5.0, UMKM tidak bisa hanya mengandalkan rasa.
“Visual, kemasan, dan identitas digital adalah gerbang pertama yang menentukan ketertarikan konsumen,” tegas Delta saat membuka pelatihan.
Arabiatul Adawiyah menambahkan, aspek teknologi menjadi salah satu kunci sukses UMKM di pasar modern.
“Kami ingin membekali pelaku UMKM agar tidak hanya paham pentingnya digital branding, tetapi juga menguasai keterampilan teknisnya. Mulai dari membuat desain kemasan sendiri, mengelola akun media sosial, sampai membaca data penjualan online untuk strategi pemasaran ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Siska Almaniar menyoroti pentingnya kemasan dalam memengaruhi keputusan pembelian.
“Konsumen cenderung menilai kualitas produk dari tampilan kemasannya terlebih dahulu. Melalui pelatihan ini, kami membantu UMKM mengemas produknya secara lebih profesional, tanpa kehilangan identitas lokalnya,” jelasnya.
Selama kegiatan, peserta mempelajari strategi membangun citra merek melalui media sosial, optimasi toko daring, teknik fotografi produk dengan peralatan sederhana, hingga pembuatan desain kemasan menggunakan aplikasi desain grafis.
Pelatihan berlangsung interaktif, peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung mempraktikkan pembuatan label kemasan baru yang memadukan unsur modern dan sentuhan lokal.
Bagi Kemplang Bakar Harun, pelatihan ini menjadi titik balik. Selama ini produk mereka dikemas dengan plastik polos tanpa identitas visual yang menonjol.
Kini, desain kemasan baru dengan warna cerah, logo khas, dan informasi produk yang lengkap siap diluncurkan.
Pemilik usaha, Harun, mengaku mendapat banyak manfaat dari kegiatan ini.
“Kami sudah puluhan tahun menjual kemplang dengan cara tradisional. Jujur, awalnya saya ragu masuk ke dunia digital. Tapi setelah ikut pelatihan ini, saya baru sadar betapa pentingnya kemasan dan branding di media sosial,” paparnya.
“Dengan kemasan yang lebih menarik dan promosi online, kami yakin bisa menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan sampai ke luar negeri,” ujarnya lagi.
Hasil awal pelatihan menunjukkan perubahan signifikan, akun media sosial mitra mulai aktif mengunggah konten berkualitas, interaksi dengan calon konsumen meningkat, dan desain kemasan baru sudah siap cetak.
Tim pelaksana berkomitmen terus mendampingi, memastikan UMKM benar-benar mandiri dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Program ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa perguruan tinggi dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan ekonomi lokal, membantu UMKM beradaptasi dan tumbuh di era digital yang serba cepat.
Editor: Theo Esto