JAKARTA – Dewo Hadi Soeprobo yang akrab disapa Dewo sudah 3 dekade lebih menjalani usaha jasa impresariat (perizinan yang berhubungan dengan dunia pertunjukan) dan tiket nonton (karcis nonton pertunjukan konser musik, sports, film, dan lainnya).
Kedua jasa ini merupakan bagian penting dalam dunia show biz (pertunjukan) Tanah Air.
Pastinya jasa ini sangat dibutuhkan oleh pihak-pihak yang menggelar event konser musik, olahraga, dan film di wilayah Indonesia.
Founder sekaligus owner www.tiketnonton.com ini bekecimpung pada dua bidang tiketing dan impresariat ini awalnya iseng atau coba-coba.
Akhirnya malah menekuni secara profesional.
Mengenai pengalamannya di dunia industri hiburan ini, Dewo sampaikan saat ngobrol santai bersama Bois Famous Maker di kantornya, PT Sahabat Tiket Nonton Indonesia di Jalan Kerinci Kebayoran, Jakarta Selatan.
“Tiketing dan impresariat adalah kebutuhan utama bagi para promotor atau event organizer. dalam menggelar perhelatan musik, sport, dan film. Awalnya dirintis dengan iseng, ngak tahunya keterusan hingga sekarang,” papar lelaki kelahiran Jakarta tahun 1965 itu.
Menurutnya, untuk pekerjaan ticketing management banyak tantangan dan setiap show selalu berbeda tantangannya.
Usaha tiketing dirintisnya sejak tahun1996 secara off line.
Kemudian tahun 2005 bermetamorfosis secara online dengan nama brand Tiket Nonton Dot Com yang bisa diakses lewat www.tiketnonton.com.
Kini usaha jasa yang dirintisnya sudah establish.
Bahkan beberapa tahun lalu perusahaan yang ia dirikan ini menjadi incaran para perusahaan start up yang dihargai bernilai miliaran rupiah.
“Kebetulan saya ngak jual, karena secara idealis, saya mau warisin untuk anak-anak saya, karena ini bagian dari sejarah perjalanan hidup saya,” ungkap alumnus SMA 29 Jakarta.
Dalam perjalanan usaha tiketing di Indonesia saat ini pastinya sudah banyak kompetiter.
Namun, kelebihan Dewo dalam memberikan servis pelayanan secara managemen dan pengemasan.
Ini ia lakukan untuk menjaga reputasi dan sebuah kepercayaan.
Dari tiketing sudah puluhan event yang ditanganinya, baik event nasional maupun internasional.
Diantaranya, Aladin On Ice 1996, Disney Live! 2008, konser Dream Theater 2014, The Real Shaolin Kung Fu 2000, A Spectacular China Acrobat From Beijing 2001, MXGP 2022, Circus International 2010, ILA Galigo, Axiata Cup 2012, 2013 dan MXGP (Motor Cross World Championship) 2022 di Sumbawa NTB.
Kemudian Guruh Soekarno Putra (Chrisye 5 Dekade, Lelaki Super, Sri Mimpi, Beta Cinta Indonesia, 100 Tahun Bung Karno, Titik Puspa Theater Musical (Kupu kupu, Bawang Merah Bawang Putih), Ruth Sahanaya Live 2005 dan 2009, 3 Diva, KD live, Konser Traya, Glenn Fadly Tour 2005, Anggun C Sasmi 2004.
Selanjutnya, Theater Musical Siti Nurbaya, Sehari bersama Sherina 2001, Erwin Gutawa Konser 2016, Diatas Rata2 seri 1 dan 2 dan Chrisye Kidung Abadi 2012.
Pastinya bisnis ini terus berevolusi mengkuti perkembangan zaman.
Menurut Dewo, sejak dari awal ia, sudah mengerjakan sistem ticketing managemen secara manual, yang dimanage dari hulu sampai hilir.
Seperti ikut dalam menentukan harga jual tiket, meng-arrange tempat duduk, menentukan mitra pihak ketiga, distribusi tiket hingga laporan penjualan.
Sedangkan untuk usaha jasa impresariat, Dewo menjalaninya berbarengan dengan usaha tiketing.
Dimatanya, semua artis asing yang datang ke indonesia harus melalui badan swasta, namanya impresariat.
Dulu perijinan harus melalui 13 instansi. Lintas kementerian dan lintas depertemen.
Diantaranya ada Polda, Pariwisata, Imigrasi, Tramtib DKI, dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Namun kini birokrasi tersebut dipangkas lebih efisien.
Banyak suka duka yang menjadi pengalaman berharga dan tak terlupakan dalam usahanya ini.
Salah satunya ketika event pertunjukan sirkus, dimana tenda pertunjukan tersebut roboh.
Otomatis akibat peristiwa force majeur itu, promotor alami kerugian.
Namun acara tetap berjalan cuma mundur 2 hari karena pindah venue yang lebih kecil kapasitas.
Ada beberapa kejadian lagi, ketika satu promotor buat acara internasional band top dunia sampai pinjam uang untuk bayar artis, acaranya berjalan sukses, sayangnya uang tiket dibawa kabur.
Sehingga pihak promotor tak bisa melakukan pembayaran pinjamannya terhadap Dewo dan tim selaku mitra kerjasama.
Kedepannya, dari bidang tiketing dan impresariat ini, Dewo terus berinovasi dengan melebarkan usaha bisnis jasa ini ke wilayah Indonesia, terutama di daerah propinsi dan kabupaten (second city).
“Saat ini kegiatan show biz kembali marak di Tanah Air, bukan saja di ibu kota negara atau kota-kota besar. Saya ingin bermitra dengan para pelaku show biz di daerah,” pungkas Dewo yang saat ini menangani tiketing ‘Bukan Cinta Galih Ratna’ yang digelar Februari 2026 mendatang.