SLEMAN – Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana menegaskan kepala sekolah harus menjadi role model.
Ucapan dan perbuatannya supaya sama sehingga para guru, pegawai, dan siswa meneladaninya.
Penegasan itu disampaikan motivator kawakan tersebut saat Sharing Komunikasi dan Motivasi dengan semua Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) se-Kabupaten Sleman di SMPN 2 Ngaglik Kabupaten Sleman pada Rabu siang (28/1/26).
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Mustadi memimpin acara itu.
Dr Aqua Dwipayana tampil mendadak. Mustadi Rabu pagi mengontaknya. Menginfokan hari itu semua Kepala SMPN Kabupaten Sleman ada pertemuan.
Mengundang pembicara laris itu hadir, sekaligus menawarkan untuk sharing.
Kesempatan emas itu tidak disia-siakan Dr Aqua Dwipayana. Langsung menyatakan kesiapannya untuk memenuhi undangan Mustadi serta Sharing Komunikasi dan Motivasi kepada semua Kepala SMPN se-Kabupaten Sleman.
Hari itu mantan wartawan di banyak media besar tersebut ada satu sharing di Polresta Yogyakarta. Waktunya siang. Merupakan sesi terakhir atau sesi ke-12 selama empat hari kegiatan di sana.
Dr Aqua Dwipayana melanjutkan untuk menjadi role model harus mengawalinya dengan niat baik. Punya tujuan yang positif menjadi kepala sekolah yakni memajukan sekolah yang dipimpinnya.
Di sekolah tempatnya bertugas, ucap bapak dua anak itu, memang jabatannya yang tertinggi. Meski begitu, tidak bisa bekerja sendiri.
Butuh dukungan semua pihak termasuk para orangtua murid.
“Agar sukses menjadi kepala sekolah harus diawali dengan keteladanan. Ucapan dan perbuatannya sejalan sehingga menjadi contoh para guru, pegawai, dan semua siswa,” ujar penulis buku “super best seller” The Power of silaturahim itu.
Kuncinya di Komunikasi
Dr Aqua Dwipayana melanjutkan, salah satu kunci mewujudkan keteladanan adalah pada kelancaran komunikasi dengan semua pihak. Utamanya mereka yang ada di sekolah seperti guru, pegawai, dan siswa.
Kepala sekolah, ungkap pria yang hobi membaca itu, harus berusaha mewujudkan komunikasi yang lancar dengan semua pihak terkait. Mengawali dari diri sendiri yang proaktif berkomunikasi.
“Dalam berkomunikasi jangan bersikap diskriminatif. Apa lagi memilah dan memilih orang yang diajak komunikasi. Hal ini bisa menimbulkan masalah baru dan jadi kontraproduktif,” tegas bapak dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana.
Semua kepala sekolah, lanjut mantan pegawai Semen Cibinong itu, harus serius, sungguh-sungguh, dan konsisten meningkatkan kemampuan komunikasinya.
Ini sebagai salah satu senjata untuk keberhasilannya melaksanakan seluruh amanah yang diberikan kepadanya.
Menurut Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat itu, komunikasi kelihatannya sangat sederhana. Semua orang bisa berkomunikasi.
Padahal komunikasi vital, jika tidak hati-hati dalam berkomunikasi dampaknya bisa fatal.
REACH Plus AC
Terkait dengan upaya meningkatkan kemampuan komunikasi para pegawai, Dr Aqua Dwipayana yang kuliah S1, S2, dan S3-nya linier di bidang Komunikasi menyampaikan konsep REACH plus AC. Hal itu universal, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, di segala aspek kehidupan.
Pertama, Respect atau perhatian yaitu di mana saja, kapan pun, kepada siapa pun agar selalu menghormati. Para kepala sekolah agar konsisten melaksanakannya.
“Menghormati setiap orang baik di internal maupun eksternal, tidak ada ruginya. Untungnya banyak sekali. Umpan baliknya akan mendapat penghormatan serupa bakal melebihi yang dilakukan kepada orang lain,” ujar pria rendah hati ini.
Dr Aqua Dwipayana mencontohkan kebiasaannya yang selalu menghargai setiap sopir yang mengemudikan mobilnya. Penghargaannya sama kepada orang lain termasuk ke kepala sekolah.
Kedua, Empathy atau bisa menempatkan diri yaitu bagaimana merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dengan bersikap seperti itu pasti menimbulkan kepedulian kepada sesama.
“Para kepala sekolah agar selalu berempati kepada semua orang termasuk kepada para guru, pegawai, dan siswa. Memahami yang mereka rasakan dan butuhkan. Tunjukkan kepedulian yang tinggi kepada mereka,” tutur Dr Aqua Dwipayana.
Para kepala sekolah, lanjut pria yang hobi silaturahim ini, agar selalu menunjukkan empati kepada semua bawahannya dan siswa.
Sikap itu berpengaruh besar pada keberhasilan mereka untuk mencapai target bahkan melampauinya.
Ketiga, Audible atau dapat dimengerti yaitu semua yang disampaikan dengan mudah dipahami seluruh orang meski latar belakang termasuk pendidikannya berbeda-beda.
Saat berkomunikasi gunakanlah bahasa yang umum agar lawan bicaranya paham.
Dr Aqua Dwipayana mengingatkan jangan menggunakan istilah teknis kepada pihak luar. Mereka tidak paham sehingga komunikasinya bisa gagal sebab responnya tidak sesuai harapan.
“Dengan menggunakan bahasa yang umum dan menghindari istilah-istilah teknis terutama saat bicara dengan pihak eksternal maka komunikasinya bakal berhasil,” kata Dr Aqua Dwipayana.
Keempat, Clarity atau penyampaiannya menggunakan kalimat terbuka dan sederhana. Ini sangat penting dan menentukan keberhasilan dalam berkomunikasi.
Dengan menggunakan kalimat terbuka dan sederhana, tambah Dr Aqua Dwipayana, orang yang diajak berkomunikasi lebih memahami maksud yang disampaikan. Mereka kemudian meresponnya dengan tepat.
“Biasakanlah melakukan itu. Konsisten melaksanakannya agar komunikasinya sukses sesuai dengan harapan,” ujarnya.
Kelima atau terakhir adalah Humble atau rendah hati, tidak ada yang perlu disombongkan.
Setiap prestasi yang diperoleh termasuk pencapaian target adalah hasil kerja bersama. Jangan ada yang merasa berperan lebih dalam mewujudkan prestasi itu.
Dengan bersikap rendah hati, ujar Dr Aqua Dwipayana, berkomunikasi dengan siapa saja dan di mana saja bakal sukses. Keberadaannya diterima lingkungan.
“Mereka yang rendah hati hidupnya nyaman. Di mana saja berada selalu diterima lingkungan. Bahkan kehadirannya sering dinantikan banyak orang,” ungkap pria yang berasal dari Kota Padang, Sumatera Barat ini.
REACH akan sangat efektif pelaksanaannya jika dilengkapi dengan huruf ‘A’ dan ‘C’. Menjadi lengkap dan komprehensif komunikasinya.
‘A’ yaitu Action yang merupakan tindakan nyata. Jadi ada implementasinya. Tidak sekedar berteori dan berwacana. Apalagi penjabarannya sangat mudah dan sederhana.
“Butuh kerendahan hati dan kesungguhan untuk melaksanakannya secara terus menerus. Sehingga menjadi kebiasaan sehari-hari,” tambah Dr Aqua Dwipayana.
Sedang ‘C’ adalah Consistency atau tindakan nyata dan cepat serta konsisten dalam pelaksanaannya.
Dengan begitu REACH langsung dieksekusi serta terus menerus dilaksanakan.
“Konsistensi membuat hal tersebut langsung diaplikasikan dan berkesinambungan. Bisa dirasakan langsung hasilnya yang dahsyat dan luar biasa,” papar pria ramah ini.
Transparansi Keuangan
Dr Aqua Dwipayana yang paham kondisi di sekolah menyoroti mengenai transparansi keuangan di sekolah. Sampai sekarang masih sering terjadi keributan karena hal tersebut
Terkait itu, motivator yang telah memotivasi lebih dari 2 juta orang baik di Indonesia maupun puluhan negara tersebut mengingat para sekolah untuk transparan tentang keuangan.
“Jangan ada dusta di antara kita. Mengenai uang ini sensitif. Jika ada yang tidak puas, lapornya bisa kemana-mana termasuk ke bupati. Untuk itu agar mengantisipasinya,” pesan pria yang suka membantu sesama ini.
Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat ini mengingatkan para kepala sekolah agar jangan mengambil yang bukan haknya.
Selain tidak berkah, bisa mencelakakan dirinya dan keluarganya.
Terbaik menurut Dr Aqua Dwipayana adalah meningkatkan kesejahteraan para guru dan pegawai. Wujudnya tidak selalu uang, bisa dalam bentuk lain.
“Kepala sekolah tentu rezekinya lebih banyak dibandingkan para guru dan pegawai. Sehingga kesempatan berbaginya lebih besar. InsyaAllah berkah,” tutur pria yang sangat menghormati para guru ini.
Menghargai Mustadi
Di awal presentasi Dr Aqua Dwipayana menyoroti beberapa guru yang tidak menyimak saat Mustadi memberikan arahan.
Mereka asyik bicara dengan teman yang duduk di sebelahnya.
Sementara Dr Aqua Dwipayana yang duduknya di depan, dengan serius menyimak semua yang disampaikan Mustadi. Mengingat dan memperhatikan hal-hal penting arahannya.
Semua yang disampaikan Mustadi “daging” dan “gizi” sehingga dosen luar biasa di Sekolah Staf dan Komando TNI, AD, AL, dan AU serius menyimaknya. Sayang sekali kalau tidak melakukan itu.
Para kepala sekolah yang jadi role model, ungkap Dr Aqua Dwipayana, seharusnya menghargai Mustadi sebagai atasannya langsung.
Wujud penghargaan itu dengan menyimak semua yang disampaikannya. Tidak asyik sendiri ngobrol dengan teman di sebelahnya.
“Saya prihatin saat tadi melihat ada kepala sekolah yang tidak menyimak Pak Mustadi. Padahal beliau menyampaikan semua hal penting buat sekolah. Juga atasan semua kepala sekolah,” ucap Dr Aqua Dwipayana.
Kepada semua yang hadir disarankannya agar menghargai narasumber yang sedang bicara, siapa pun itu orangnya. Caranya fokus menyimak yang disampaikannya.
“Menghargai narasumber yang sedang bicara merupakan salah satu wujud menghargai orang lain,” tegas Dr Aqua Dwipayana.
Pada acara yang dipimpin Mustadi, selain kepala sekolah juga hadir Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman Ery Widaryana serta Kasi Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Supraptiningsih. Seluruhnya antusias hingga kegiatannya selesai.
