Asanya adalah perubahan, penegakan hukum dan demokrasi. Misi untuk merebut kembali kedaulatan rakyat.
Segitiga bermuda yang menyesatkan dan menenggelamkan bangsa dalam misteri tak bersolusi ada pada tiga titik yaitu Listyo Sigit, Gibran, dan Jokowi.
Ini yang harus diselesaikan terlebih dahulu dengan mekanisme pengepungan intensif dan akumulatif.
Pengepungan Istana Prabowo
Presiden sebagai pejabat yang mengangkat dan memberhentikan Kapolri patut untuk mendengar suara rakyat.
Disamping terlalu lama menjabat Listyo juga berlumuran darah.
Sejak menjadi Kabareskrim hingga Kapolri ia ikut terlibat dalam pembantaian 6 laskar FPI, Kanjuruhan, dan kerusuhan Agustus.
Presiden sang pengecut malah mau memberi bintang kepada Listyo.
Istana Prabowo harus dikepung agar ia memiliki secuil keberanian.
Demo di depan istana menurut UU No 9 tahun 1998 berjarak 100 meter dari pagar luar.
Pengepungan “Istana” Jokowi di Solo
Rakyat mengepung “Istana” Jokowi di Solo. Bersama atau membantu aparat menangkap Jokowi.
Lalu menyerahkan kepada penyidik untuk segera memeriksa berbagai dugaan tindak pidana Jokowi.
Rakyat berhak meminta pertanggungjawaban hukum Jokowi atas segala dusta, manipulasi dan kerusakan negara yang diakibatkan perbuatannya.
Sakit Jokowi tidak boleh menghalangi penangkapan. Faktanya ia masih jumawa.
Pengepungan DPR/MPR Makzulkan Gibran
Gibran sudah sangat layak secara hukum untuk dimakzulkan. Ini pekerjaan DPR/MPR dalam menjalankan amanat rakyat.
Anggota DPR/MPR dan juga partai politik yang buta dan tuli harus didesak, diteriaki, serta didemonstrasi masif.
Geruduk Gedung DPR/MPR mengulangi peristiwa 1998. Gibran tidak boleh dibiarkan hingga 2029.
Terlalu mahal biaya politik untuk merekonstruksi atau merehabilitasi kinerja Gibran bin Jokowi. Kepung dan makzulkan sekarang juga.
Tiga kerja pengepungan ini dilakukan untuk menggapai asa. Asa perubahan, penegakan hukum dan demokrasi.
Selama Listyo Sigit masih menjabat, Jokowi masih bergerak bebas, dan Gibran masih plango plongo di singgasana, jangan harap ada perbaikan negeri.
Meski Prabowo mengubar janji atau menggebrak mimbar atau bersumpah mati untuk rakyat, maka semua hanya omon-omon semata dari laskar tak berguna.
Jika Prabowo tidak mampu memecat Listyo, bahkan justru memberi bintang, lalu Jokowi semakin ditempatkan sebagai mahaguru, serta Gibran terus dipeluk dan dielus-elus seperti kucing kesayangan, maka absolut impeachment paket Prabowo-Gibran.
Pemenang curang ini ternyata tidak bisa dimaafkan. Rakyat muak dikhianati dan dibohongi.
Tiga mengepung asa. Kepung, kepung, dan kepung.
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim