Meratapi ‘Perpisahan’ Kita dengan Alquran

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Alquran di bulan Ramadhan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, sang penerima wahyu yang dadanya menjadi wadah pertama cahaya Kalamullah.

Setiap memasuki pertengahan bulan Ramadhan, memori kita dibawa kembali pada peristiwa agung, Nuzulul Quran.

Pada malam 17 Ramadhan, Allah SWT menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW di Gua Hira.

Peristiwa ini bukan sekadar peringatan sejarah, tapi peristiwa dahsyat saat langit menyapa bumi, saat Jibril AS memeluk erat Rasulullah ﷺ di Gua Hira sembari membisikkan kata “Iqra!”

Hari ini, kita berada di momentum peringatan Nuzulul Quran, mari kita jadikan momentum refleksi.

Sejauh mana Alquran telah mewarnai detak jantung dan langkah kaki kita?

Masihkah Alquran itu hidup di rumah kita, atau ia hanya menjadi pajangan berdebu di sudut lemari ?

Dalam refleksi ini, kita tadabur sebuah ayat yang seharusnya membuat hati kita bergetar karena takut kepada Allah SWT.

Ada sebuah aduan yang sangat memilukan dalam Alquran.

Sebuah pengaduan yang langsung dari Rasulullah ﷺ kepada Allah SWT.

Allah SWT mengabadikan pengaduan Rasulullah SAW ini dalam Alquran sebagai pelajaran bagi umat Islam, agar tidak meniru perilaku kaum kafir dengan meninggalkan Alquran, melainkan menjadikannya pedoman hidup.

Tidak mengabaikan seruan dakwah para Dai yang mengajak pada jalan yang benar, tidak meremehkan ajakan untuk menegakkan syariat Islam.

Perhatikan firman-Nya dalam Surah Al-Furqan ayat 30:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا

Rasul Allah berkata: “Wahai Tuhanku, kaumku benar-benar telah menjauhi aku karena aku menyampaikan Al-Qur’an ini kepada mereka.” (QS. Al-Furqan [25]: 30)

Bayangkan betapa sedihnya perasaan kita, jika kelak di hari kiamat, nabi yang kita harapkan syafaatnya justru mengadu kepada Allah bahwa kita termasuk orang yang mencampakkan kitab sucinya.

Mencampakkan bukan berarti membuangnya ke tempat sampah, melainkan kita memilikinya tapi tak pernah membacanya, kita membacanya tapi tak mau memahaminya, kita memahaminya tapi enggan mengamalkannya.

Poin penting dari ayat ini terletak pada kata Mahjura, yang berasal dari akar kata Hajura (meninggalkan/memutuskan).

Para ulama tafsir (seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi) menjelaskan bahwa “meninggalkan” Alquran bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi mencakup beberapa perilaku, antara lain:

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mahjura atau mengacuhkan Alquran memiliki beberapa tingkatan yang berbahaya:

1. Tidak mau mendengarkannya: Telinga lebih akrab dengan musik atau kebisingan dunia daripada lantunan wahyu.

2. Tidak mengimaninya: Ragu akan kebenaran isi di dalamnya.

3. Tidak mentadabburinya: Membaca hanya di lisan, tanpa berusaha memahami maknanya.

4. Tidak mengamalkannya: Tahu hukumnya, tapi enggan mematuhinya.

Sejalan dengan pengaduan tersebut, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi memberikan gambaran visual yang sangat relevan dengan realitas hari ini.

Rasulullah SAW bersabda bahwa akan datang suatu masa pada manusia, adanya fenomena yang sangat mengkhawatirkan.

يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لا يَبْقَى مِنَ الإِسْلامِ إِلا اسْمُهُ , وَلا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلا رَسْمُهُ , مَسَاجِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ , وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى , عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ , مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ , وَفِيهِمْ تَعُودُ

“Akan datang suatu Zaman pada manusia, di mana pada waktu itu tiada tinggal Islam kecuali namanya saja. Dan tiada tinggal Alquran melainkan tulisannya saja, Masjid-masjid dibangun megah namun kosong dari petunjuk. Dan ulama mereka adalah makhluk yang terjelek yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (sungguh, fitnah) itu akan kembali kepada mereka.” [HR. Al-Baihaqi]

Lihatlah sekeliling kita. Mushaf Alquran dicetak dengan tinta emas, aplikasi Alquran ada di setiap ponsel pintar kita, namun mengapa kegelisahan, kemaksiatan, dan ketidakteraturan masih merajalela?

Jawabannya menyakitkan, Islam tinggal nama, dan Alquran tinggal tulisan.

Kita bangga berstatus muslim, tapi karakter kita jauh dari nilai-nilai Alquran.

Momentum 17 Ramadhan ini bukan sekadar tentang sejarah.

Ini adalah tentang “Kepulangan”. Pulanglah wahai jiwa yang lelah, kembalilah ke pelukan ayat-ayat-Nya.

Jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik agar Alquran tidak lagi menjadi “orang asing” di rumah kita sendiri.

Sebagai penutup, mari kita bangun motivasi baru. Alquran bukan diturunkan untuk memberatkan kita, melainkan sebagai syifa (obat) bagi hati yang risau dan jiwa yang hampa.

Jangan biarkan Alquran hanya menjadi penghias dinding atau pembuka acara seremonial.

Mulailah dari langkah kecil namun konsisten.

Mari kita bawa pulang tiga tekad dari masjid ini untuk memuliakan Alquran:

1.⁠ ⁠Interaksi Harian: Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa membaca Alquran, meski hanya satu halaman atau satu ayat.

2.⁠ ⁠Pahami Maknanya: Mulailah membaca terjemahan atau tafsir ringkas agar Alquran bisa berbicara kepada hati kita.

3.⁠ ⁠Jadikan Hakim: Saat kita bingung menentukan pilihan hidup, kembalilah pada standar Alquran, bukan standar manusia.

Ingatlah, siapa yang memuliakan Alquran, maka Allah akan mengangkat derajatnya.

Siapa yang menjauhinya, maka hidupnya akan terasa sempit meski harta melimpah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai Ahlul Quran (Keluarga Alquran) yang senantiasa membacanya, mencintainya, dan dibimbing oleh cahayanya hingga kita selamat di dunia dan akhirat.

Mari kita berdo’a agar kita tidak termasuk golongan yang diadukan oleh Rasulullah ﷺ di hari kiamat nanti.

Irfan Suryahardi Awwas
Ulama dan Pengamat Politik Nasional 

Redaktur: Abdul Halim

Related posts

Sangat Bersyukur Sehari Jalan ke Berbagai Kota dan Lancar

Jumat Berselimut Sholawat

Ijazah Antara Ghibah dan Berbantah-bantah