BERITAIND.COM, SUKABUMI – Bencana pergerakan tanah melanda wilayah Bantargadung, Sukabumi, Jawa Barat, pada 19 Februari 2026.
Fenomena ini tidak terjadi sekali, melainkan berlangsung secara berkala hingga mencapai titik paling parah.
Rumah-rumah warga ambles dan seolah “tertelan bumi” sedalam 4 hingga 5 meter.
Sejak saat itu, ketakutan dan ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Di tengah kondisi tersebut, sebuah harapan mulai tumbuh dari para warga Bantargadung.
Berawal dari Meliana, seorang relawan yang selama ini mendukung program 100 CTFP, ajakan untuk membantu masyarakat Bantargadung disampaikan kepada Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF).
Respons datang cepat. “Tanpa ragu, saya nyatakan kesediaan untuk turun langsung, sembari menyerahkan langkah selanjutnya dalam doa. Memohon agar tuhan memilih siapa saja yang akan terlibat dalam misi kemanusiaan ini,” ujar Natalia Tjahja, pendiri MMLWF dan 100 CTFP kepada beritaind.com, Senin (20/4/26).
Dari sanalah, sebuah program yang selama ini belum diluncurkan akhirnya menemukan momentumnya.
Program “Happiness Golden Hope”, bagian dari inisiatif global 100 CTFP (100 Celebrities Talk for Para Athletes), akan resmi dijalankan di Bantargadung.
Program ini berfokus pada perempuan difabel di desa desa yang hidup dalam keterbatasan, menjadi tulang punggung keluarga.
Bahkan, kerap menghadapi kondisi kesehatan yang berat, sering kali juga memiliki anak dengan disabilitas.
Bentuk Bantuan Tidak Biasa, Emas
Melalui program ini, para penerima akan mendapatkan emas, baik dalam bentuk fisik ataupun tabungan emas.
Tidak hanya itu, kejutan lanjutan berupa top-up tabungan emas juga disiapkan sebagai bentuk keberlanjutan dukungan.
Filosofi di balik pilihan ini sederhana namun kuat, emas adalah simbol nilai yang diakui secara global, selaras dengan visi 100 CTFP sebagai gerakan charity internasional yang terhubung dengan dunia Paralimpik.
Program ini juga dirancang inklusif. Siapa pun dapat berpartisipasi, karena kontribusi dapat diberikan dalam skala kecil hingga besar.
Sesuai misi MMLWF yaitu segala sesuatu dari hal yang kecil dan sederhana dan setiap saat di titik nol.
“Tujuannya satu, menghadirkan kebahagiaan dari Tuhan bagi mereka yang sering kali terlupakan oleh dunia, khususnya perempuan-perempuan tangguh di desa,” ujar Natalia.
Pada 21 April 2026, bertepatan dengan semangat Hari Kartini, tim MMLWF dan 100 CTFP dijadwalkan mengunjungi sebuah PAUD di Bantargadung.
Di tempat sederhana itu, enam perempuan difabel yang disebut sebagai “Kartini-Kartini Bantargadung” akan menerima bantuan berupa kursi roda dan emas.
Mereka bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah simbol kekuatan, ketahanan, dan harapan di tengah situasi yang nyaris merenggut segalanya.
Dukungan pun mengalir, dari orang orang yang beautiful heart.
Di Bantargadung, di antara tanah yang masih bergerak, sebuah cerita baru sedang ditulis.
Cerita tentang kehilangan, tetapi juga tentang kasih. Tentang kehancuran, tetapi juga tentang kebangkitan.
Dan di sana, enam Kartini berdiri, membawa harapan yang tak ikut tenggelam.