Sepak Bola Indonesia dalam Bayang-Bayang Nasionalisme dan Patriotisme

Kerap terjadi kasus suap menang-kalah dan pengaturan skor dalam banyak pertandingan. Selalu ada intervensi dan dominasi kepentingan politik dalam menentukan pengurus PSSI dan klub.

Tawuran antar pemain dan supporter menjadi bumbu penyedap kompetisi atau turnamen hampir di setiap level.

Inilah wajah sepak bola Indonesia yang lebih mengemuka dibanding prestasi yang mendunia yang menjadi kehormatan dan kebanggaan nasional.

Suka atau tidak suka, Senang atau tidak senang.

Keinginan atau harapan akan sepak bola nasional menjadi kesebelasan yang tangguh, sportif, dan sarat prestasi global.

Merupakan sesuatu yang naif dan bahkan bisa disebut jauh api dari panggang.

Kenapa ? Rasionalisasinya memang jelas dan masuk akal.

Tak ubahnya seperti mimpi negara Indonesia menjadi negara kesejahteraan.

Termasuk obsesi pada rakyat yang adil dan makmur serta menjadi bangsa yang penuh keadaban.

Ini bukan semata pandangan apriori dan skeptis terhadap keberadaan Timnas.

Ini sebuah refleksi dan evaluasi terhadap karut-marutnya sistem dan mentalitas sumber daya mulai dari penyelenggaraan negara terkait pembinaan olah raga pada umumnya dan semua yang terlibat dalam sepak bola khususnya.

Tentang aturan dan wasit, tentang pengurus, tentang pemain dan bahkan bukan tak mungkin tentang para supporternya.

Indonesia yang berdaulat dalam bidang politik, kemandirian dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Bisa dipastikan menjadi sesuatu yang linear terhadap keberadaan timnas sepakbola yang dicita-citakan.

Sepak bola bukan sekedar olah raga atau permainan.

Sepak bola terkait dan terikat dengan soal-doal nasionalisme dan patriotisme.

Bukan Indonesia yang sarat dengan distorsi dan abuse of power yang selama ini tercermin pada watak kekuasaan yang otoriterian dan diktatorian.

Bukan juga Indonesia yang kental dengan pemerintahan yang feodal dan represif.

Begitupun juga sepak bola bukan skema dan perencanaan manajemennya yang kental dengan KKN.

Bukan sepak bola yang sekedar olah raga ansih, juga semata industri atau bisnis semata.

Ini semua tentang bagaimana negara terutama pemerintah atau kekuasaan di dalamnya menjadikan olah raga sebagai bagian dari karakter nasional sekaligus duta bangsa dalam pergaulan nasional.

Seiring itu juga mutlak pemerintahan yang memiliki “good wiil and political will” menjadikan sepak bola yang notabene sebagai olah raga rakyat menjadi gerakan nasional.

Menghidupkan, membangunkan, dan merawat sepak bola tanpa perilaku korup, ambisi berlebihan dan kesewenang-wenangan.

Sekali lagi, sama seperti negara, bebaskan sepak bola nasional dari penindasan dan pengkhianatan.

Semangat berjuang untuk negara kesejahteraan.

Semangat menghadirkan sepak bola Indonesia yang bermartabat dan membanggakan.

Yusuf Blegur, Pengamat Sepak bola Nasional

 

Related posts

Tahlilan dan Takziyah Tiga Hari: Antara Empati, Tradisi, dan Kejujuran Ilmiah

Islam Bukan Ideologi Kebencian, Manifesto Indonesia Thayyibah

Reshuffle Palsu Emprit-emprit