Menguatkan Organisasi di Tengah Perubahan Zaman: Muhammadiyah, Tantangan Nyata dan Jalan Keluar

“Jika organisasi hanya sibuk dengan rutinitas, sementara dunia berubah dengan kecepatan yang tak terkejar, maka yang tertinggal bukan hanya kita, tetapi masa depan umat yang kita perjuangkan.”

Ada satu pertanyaan mendasar yang harus kita jawab dengan jujur: apakah Muhammadiyah hari ini masih cukup kuat untuk menjawab tantangan zaman yang berubah jauh lebih cepat daripada ritme organisasi kita sendiri ?

Jika jawabannya belum, maka Rakor dan Hari Bermuhammadiyah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pal Merah pada 29–30 April 2026 di Caringin, Bogor, Jawa Barat ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum koreksi arah.

Di hadapan para pengurus dan kader, termasuk unsur ‘Aisyiyah, Ketua PDM Muhammadiyah Jakarta Barat, KH Dr Ir Narmodo, MAg, menegaskan bahwa penguatan keorganisasian bukan hanya soal struktur, melainkan soal keberanian membaca realitas dan mengambil keputusan strategis.

Pendidikan: Dari Pencari Kerja Menjadi Pencipta Kerja

Muhammadiyah menghadapi tantangan besar dalam dunia pendidikan. Selama ini, kita terlalu nyaman mencetak lulusan yang siap bekerja tetapi belum cukup serius mencetak mereka yang mampu menciptakan pekerjaan.

Ini bukan sekadar kritik, tetapi realitas pahit. Di tengah kompetisi global dan disrupsi teknologi, lulusan yang hanya mengandalkan ijazah akan tergilas.

Maka, pendidikan Muhammadiyah harus bertransformasi: dari job seeker menjadi job creator. Jiwa kewirausahaan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan.

Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah harus menjadi inkubator ekonomi umat. Kurikulum tidak boleh berhenti pada teori, tetapi harus melahirkan keberanian berusaha, kreativitas bisnis, dan kemampuan membaca peluang.

Jika tidak, maka kita sedang menyiapkan generasi yang antre kerja disaat lapangan kerja justru semakin sempit.

Keluarga, Perempuan, dan Krisis Pengasuhan Anak

Kasus penyimpangan pengelolaan daycare di Yogyakarta dan Aceh yang terungkap beberapa waktu lalu menjadi alarm keras.

Ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, tetapi cerminan perubahan sosial yang sangat mendasar.

Hari ini, perempuan tidak lagi hanya berperan di rumah, tetapi juga menjadi pejuang ekonomi keluarga. Ini adalah realitas yang tidak bisa ditolak.

Namun, disisi lain, muncul persoalan serius: siapa yang mendampingi tumbuh kembang anak usia dini ?

Anak balita membutuhkan kehangatan, sentuhan, dan kedekatan emosional seorang ibu.

Ketika peran ini sepenuhnya dialihkan ke daycare tanpa kontrol dan kualitas yang terjamin, maka kita sedang mengambil risiko besar terhadap masa depan mental generasi.

Di sinilah Muhammadiyah, bersama ‘Aisyiyah, harus hadir.

Bukan dengan menyalahkan perempuan yang bekerja, tetapi dengan menghadirkan solusi: model pendidikan keluarga yang kolaboratif antara rumah dan sekolah.

Bahkan lebih jauh, Muhammadiyah harus menjadi pelopor daycare yang berkualitas, aman, dan berbasis nilai-nilai Islam.

Karena pendidikan terbaik bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.

Disrupsi Industri dan Menyempitnya Lapangan Kerja

Kita sedang memasuki era di mana mesin menggantikan manusia dalam banyak sektor. Otomatisasi, kecerdasan buatan, dan digitalisasi membuat banyak pekerjaan hilang bahkan sebelum generasi muda kita siap.

Ini bukan ancaman yang akan datang, sudah terjadi.

Gerbang tol tanpa petugas, kasir tanpa manusia, analisis data tanpa analis—semua itu adalah tanda bahwa dunia kerja sedang berubah secara fundamental.

Jika Muhammadiyah tidak membaca arah ini, maka kita akan tertinggal. Lebih dari itu, umat yang kita bina akan menjadi korban perubahan, bukan pelaku perubahan.

Maka, strategi organisasi harus bergeser. Kader Muhammadiyah harus dipersiapkan untuk masuk ke sektor-sektor baru: teknologi, ekonomi digital, industri kreatif, dan kewirausahaan berbasis inovasi.

Organisasi tidak boleh hanya sibuk pada kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang nyata.

Indonesia Emas 2045: Jangan Hanya Emas di Usia

Banyak yang berbicara tentang Indonesia Emas 2045. Namun, pertanyaannya sederhana: emas dalam arti apa ?

Apakah hanya emas karena bonus demografi ? Atau benar-benar emas karena kualitas manusianya?

Jika hanya mengandalkan jumlah penduduk usia produktif, itu bukan jaminan kemajuan. Bahkan bisa menjadi beban, jika kualitasnya tidak disiapkan.

Indonesia Emas harus berarti kualitas: kualitas iman, kualitas ilmu, kualitas akhlak, dan kualitas produktivitas.

Dan itu tidak bisa terjadi tanpa kerja bersama yang terstruktur. Muhammadiyah harus menjadi bagian dari orkestrasi besar ini bukan sekadar penonton.

Perlu roadmap yang jelas, langkah yang terukur, dan sinergi lintas sektor: pendidikan, ekonomi, sosial, dan dakwah. Tanpa itu, visi besar hanya akan menjadi slogan.

Penguatan Organisasi: Dari Retorika ke Aksi

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pal Merah, Dr. Fakhri Rahimi, MA, menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan peran serta para pengurus dan kader Muhammadiyah.

Hal ini penting untuk digarisbawahi: organisasi tidak akan kuat jika kadernya pasif. Dan kader tidak akan bergerak jika tidak diberi ruang, arah, dan kepercayaan.

Keterlibatan ‘Aisyiyah di bawah kepemimpinan Ibu Yanti Fakih menjadi bukti bahwa Muhammadiyah tidak bisa berjalan sendiri.

Sinergi antara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah kekuatan strategis yang harus terus diperkuat.

Penutup: Saatnya Muhammadiyah Naik Kelas

Kita tidak kekurangan kader. Kita tidak kekurangan amal usaha. Kita juga tidak kekurangan sejarah.
Adapun yang sering kita kekurangan adalah keberanian untuk berubah.

Rakor ini harus menjadi titik balik. Muhammadiyah harus naik kelas: dari organisasi besar menjadi organisasi yang berdampak besar.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan pada banyaknya kegiatan, tetapi pada seberapa besar kita mampu mengubah keadaan umat.

Dan jika kita gagal membaca zaman, maka zamanlah yang akan meninggalkan kita.

KH. Dr. Ir. Narmodo, M.Ag

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat, Akademisi, Da’i dan Pengusaha

Redaktur : Abdul Halim

Related posts

Miris 43 Persen Daycare Tak Berizin, Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Gelar Razia Menyeluruh

Fashion Show Nina Septiana Jadi Perhatian di Diskusi Nngobras Kartini Film, Musik dan Seni

The Longest Wait, Angkat Perjuangan Timnas Indonesia ke Layar Lebar Dalam Film Dokumenter