Islam Bukan Ideologi Kebencian, Manifesto Indonesia Thayyibah

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ

“Wahai Muhammad, kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu sampai kamu mau mengikuti agama mereka. Wahai Muhammad, katakanlah: “Sungguh Islam itulah agama Allah yang sebenarnya.” Sekiranya kamu mengikuti agama kaum Yahudi dan Nasrani, padahal telah datang kepadamu perintah untuk mengikuti Islam, niscaya tidak ada orang yang dapat melindungi dan menolong kamu dari siksa Allah di akhirat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 120).

Ini bukan sekadar ayat. Ini adalah garis batas bagi sebuah bangsa.

Ayat ini tidak hanya berbicara kepada Nabi ﷺ dimasa lalu.
Ia berbicara kepada umat hari ini, kepada negeri ini, kepada arah yang sedang kita pilih sebagai bangsa.Bahwa pertarungan ideologi itu nyata dan ia tidak pernah netral.

Indonesia di Persimpangan

Indonesia sering dipuji sebagai bangsa religius. Sebagai negeri dengan mayoritas Muslim.

Sebagai masyarakat yang menjunjung nilai Ketuhanan. Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah nilai itu hanya identitas atau benar-benar menjadi fondasi ?

Hari ini, tekanan itu nyata. Bukan dalam bentuk penjajahan klasik, tetapi dalam bentuk:
•⁠ ⁠standar global yang mengikis nilai lokal.
•⁠ ⁠sekularisasi yang memisahkan agama dari kehidupan publik.
•⁠ ⁠dan narasi yang menjadikan syariat tampak asing di negeri sendiri. Umat Islam didorong untuk tetap ada— tetapi tidak boleh menentukan arah.

Ketika “Universal” Menggerus “Illahi”

Apa yang disebut sebagai nilai universal seringkali hadir sebagai standar tunggal:
•⁠ ⁠cara berpikir.
•⁠ ⁠cara mengatur masyarakat.
•⁠ ⁠cara menentukan benar dan salah.

Namun, jika ditelusuri, ia bukan netral. Ia lahir dari sejarah, dari kepentingan, dari dominasi. Dan ketika itu diterapkan tanpa kritik, maka yang terjadi bukan dialog—melainkan penyeragaman.

Dititik ini, QS. Al-Baqarah [2]: 120 berbicara: jangan tukar kebenaran dengan penerimaan.

Palestina dan Cermin Dunia

Lihat Palestina. Disana, dunia memperlihatkan wajahnya yang paling jujur, bahwa keadilan bisa dikalahkan oleh kepentingan.

Kebijakan negara Israel terhadap rakyat Palestina menunjukkan bahwa legitimasi global tidak selalu berpijak pada moral, tetapi pada kekuatan.

Dan ketika standar ganda itu terjadi, kita belajar satu hal: jangan serahkan ukuran benar dan salah kepada dunia.

Indonesia Thayyibah: Jalan yang Berbeda

Disinilah konsep Indonesia Thayyibah menemukan relevansinya. Bukan sekadar slogan. Bukan sekadar romantisme religius.

Tetapi sebuah visi: negeri yang baik karena tunduk pada nilai Illahi,
bukan sekadar mengikuti arus global.

Indonesia Thayyibah bukan berarti menutup diri. Ia bukan isolasi.

Ia adalah: keterbukaan yang berdaulat, kemajuan yang berakar, dan keadilan yang bersumber dari wahyu.

Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler Kosong

Indonesia tidak harus menjadi ekstrem. Bukan negara yang memaksakan simbol tanpa substansi. Dan bukan pula negara yang mengosongkan agama dari kehidupan.

Tetapi negara yang: menjadikan nilai Ilahi sebagai ruh, dan keadilan sebagai wajah.

Karena tanpa ruh itu, bangsa ini hanya akan menjadi: pasar bagi nilai asing, bukan pelaku peradaban.

Pilihan Itu Nyata

Hari ini, bangsa ini dihadapkan pada pilihan: Menjadi Indonesia yang:
•⁠ ⁠teguh pada nilai sendiri.
•⁠ ⁠berani berbeda.
•⁠ ⁠dan membangun keadilan dari akar spiritualnya.
Atau menjadi Indonesia yang:
•⁠ ⁠larut dalam arus global.
•⁠ ⁠kehilangan arah.
•⁠ ⁠dan hidup dari standar yang bukan miliknya
Sejarah tidak pernah berpihak pada bangsa yang ragu terhadap dirinya sendiri.

Berdiri sebagai Bangsa Beriman

QS. Al-Baqarah [2]: 120 bukan ajakan konflik.
Tetapi ia juga bukan izin untuk menyerah.
Ia adalah peringatan:
•⁠ ⁠bahwa tekanan akan selalu ada.
•⁠ ⁠bahwa kompromi akan selalu menggoda.
•⁠ ⁠bahwa kehilangan jati diri sering terasa nyaman.

Tetapi kebenaran tetap satu: bangsa ini tidak akan runtuh karena perbedaan, tetapi karena kehilangan prinsip.

Indonesia Harus Memilih

Maka, Indonesia harus memilih. Menjadi bangsa yang:
•⁠ ⁠teguh tanpa menjadi zalim.
•⁠ ⁠terbuka tanpa kehilangan arah.
•⁠ ⁠dan adil tanpa tunduk pada tekanan.

Karena pada akhirnya: lebih baik menjadi bangsa yang benar tanpa pujian, daripada bangsa yang dipuji tetapi kehilangan kebenaran.

Dan disitulah makna Indonesia Thayyibah, negeri yang baik bukan karena diakui dunia, tetapi karena setia pada nilai yang benar dan adil.

Irfan S Awwas, Penulis adalah Ulama dan Pengamat Politik Nasional

Redaktur: Abdul Halim

Related posts

Tahlilan dan Takziyah Tiga Hari: Antara Empati, Tradisi, dan Kejujuran Ilmiah

Reshuffle Palsu Emprit-emprit

Sepak Bola Indonesia dalam Bayang-Bayang Nasionalisme dan Patriotisme