Pemberian gelar adat sah-sah saja dilakukan oleh masyarakat adat. Apalagi jika dianugerahkan kepada orang yang dinilai pantas baik karena dedikasi, prestasi, maupun keteladanan.
Pemberian gelar Baginda Pemuka Bangsa di Kedatun Keagungan Bandar Lampung kepada mantan Presiden Joko Widodo dinilai tidak tepat mengingat Jokowi adalah biang korupsi, mementingkan ambisi, serta bukan pemimpin teladan.
Apalagi sang baginda itu duduk dengan menginjak kepala kerbau di atas karpet merah.
Safari Jokowi bersama PSI itu sarat dengan muatan politik, maklum safari politik.
Gagal cawe-cawe dalam Festival Gajah karena masyarakat setempat tidak sudi nilai-nilai budaya ditunggangi kepentingan kekuasaan.
Gajah asli tidak bersedia ditunggangi raja palsu.
Kekayaan dan kewibawaan palsu, serta sudah pasti berijazah palsu.
PDIP mentertawakan sang baginda palsu itu meski tidak jelas makna menginjak kepala kerbau di hamparan karpet merah.
Sebagian menganggap itu penghinaan kepada PDIP, sebagian lagi menyebut salah sasaran, lambang PDIP bukan kepala kerbau tetapi banteng.
Jokowi kembali ke Solo seperti anak kecil pulang dari karnaval yang tidak membahagiakan.
Penolakan sebagian warga Lampung menempatkan Jokowi bukan sebagai baginda pemuka bangsa, melainkan baginda peluka bangsa. Jokowi itu residu bangsa dan negara.
Mau menjadi raja penunggang gajah, malah menjadi kepala kerbau yang diinjak gajah. Dikira gagah bermahkota raja, tahu-tahu dianggap boneka yang bukan siapa-siapa.
Lampung menjadi tempat pertama memberi pelajaran berharga untuk bukti hancurnya sebuah dinasti keluarga.
Rekayasa itu telah menyebabkan malapetaka yang membuat Jokowi terluka.
PSI sedang berkhayal masuk Senayan dan mengantar anak gajah untuk dapat bersinggasana di puncak istana.
Terlepas dari makna sebuah adat, tetapi menginjak kepala kerbau adalah biadab.
Tidak berperikehewanan. Simbol dari perilaku menindas dan menjajah.
Kerbau hewan peliharaan rakyat di desa-desa, menjadi kekuatan kehidupan rakyat.
Hewan yang tidak merusak bahkan bermanfaat.
Jokowi sengaja menunggangi adat untuk menginjak-injak rakyat.
Baginda seperti ini harus ditangkap dan dipenjara. Jangan biarkan lepas, tertawa, dan menghina dimana-mana.
Tolak kedatangan ke daerah-daerah baginda penghisap darah, penghamba arwah, perusak sejarah, dan penghancur marwah.
Jangan biarkan penjahat itu hidup mewah dan terus memangsa masyarakat bawah.
Dia dan keluarga hanya seonggok sampah. Seonggok sampah.
M Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Redaktur: Abdul Halim