IKA NHI: Priangan Timur Berpotensi Jadi Motor Ekonomi Kreatif

Foto/Ilust/Ist

BERITAIND.COM, SINGAPARNA – Geliat ekonomi kreatif Indonesia akhir-akhir ini bagaikan mesin yang tak pernah berhenti berputar.

Sumbangannya terhadap PDB nasional yang mencapai Rp1.460 triliun atau setara 7,3 hingga 8 persen bukanlah angka kecil.

Lebih dari itu, sektor ini telah menjadi rumah bagi 27,4 juta tenaga kerja Indonesia.

Di balik gemuruh capaian nasional yang didominasi oleh subsektor kuliner, fesyen, dan kriya, para pegiat ekonomi kreatif menilai masih ada ladang emas yang belum digarap maksimal di tingkat daerah.

Salah satunya adalah kawasan Priangan Timur, yang dinilai memiliki peta kekuatan luar biasa namun membutuhkan akselerasi nyata dari para kepala daerah.

KUR Berbasis KI: Terobosan Modal bagi Pelaku Kreatif

Pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya telah membuka pintu selebar-lebarnya bagi pelaku UMKM kreatif.

Terobosan terbaru adalah penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis Kekayaan Intelektual (KI) dengan total plafon mencapai Rp10 triliun di tahun 2026.

Ini bukan sekadar angka, melainkan harapan baru bagi mereka yang selama ini terkendala akses modal.

“Akhirnya saya bicara dengan Menteri Keuangan, dengan Menko Perekonomian bahwa kalau ada KUR atau Kredit Usaha Rakyat untuk UMKM kenapa tidak ada KUR untuk industri kreatif berbasis kekayaan intelektual? Sehingga sertifikat kekayaan intelektualnya yang dikeluarkan oleh Menteri Hukum itu bisa dijadikan agunan,” ujar Riefky dalam acara Peluncuran dan Konferensi Pers Indonesia Animation Report 2026 di Jakarta.

Ia menambahkan, skema ini memungkinkan pelaku usaha pemula mengakses pinjaman hingga Rp500 juta per wirausaha.

“Nah, dari pihak Menteri Keuangan singkat cerita akhirnya menyetujui, diberikan Rp10 triliun untuk tahun 2026 ini, up to Rp500 juta KUR-nya untuk pemula pastinya,” tegasnya dalam kesempatan yang sama.

Capaian di sisi ekspor pun tak kalah membanggakan.

Andi Rene Rohadian, Praktisi Transportasi dan Logistik yang juga Pengurus Ikatan Alumni NHI Bandung Bidang Legislasi, Luar Negeri dan Diaspora, menyoroti bahwa pada tahun 2024, nilai ekspor ekonomi kreatif telah menembus angka USD25 miliar.

“Pemerintah pun memasang target ambisius sebesar USD28 miliar atau sekitar Rp450 triliun pada tahun 2026. Subsektor fesyen, kriya, dan kuliner menjadi lokomotif utama yang menggerakkan ekspor nasional,” paparnya kepada beritaind.com, Selasa (30/6/26).

Penguatan Kelembagaan dari Daerah

Langkah strategis juga dilakukan dari sisi regulasi. Hendri Latief Fajri, Ketua Divisi Pemerintah Daerah dan Instansi IKA NHI Bandung, mengapresiasi hadirnya Peraturan Menteri Ekonomi Kreatif Nomor 9 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ekonomi Kreatif di Daerah yang diundangkan pada 17 Desember 2025.

Regulasi ini menjadi pedoman resmi bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan mengembangkan potensi ekraf di wilayahnya.

Menteri Riefky menegaskan, ekonomi kreatif bukan lagi sektor pelengkap pembangunan.

Ekonomi kreatif adalah salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah.

Saat ini, sebanyak 13 provinsi telah memasukkan nomenklatur ekonomi kreatif dalam struktur organisasi perangkat daerah, dan Kemenekraf terus mendorong kabupaten/kota melakukan hal serupa.

Potensi Telah Terpetakan, Saatnya Kepala Daerah Bertindak

Di sinilah letak pesan paling penting dari Ketua IKA NHI Bidang Hubungan Antar Lembaga, Isu Strategis dan Diaspora, Wisnu Aji Nugroho.

Ia memetakan dengan jelas keunggulan masing-masing daerah di Priangan Timur yang selama ini tercecer.

“Ini adalah peta kekuatan kita. Bukan hanya angka, tapi ini adalah denyut nadi ekonomi rakyat Priangan Timur,” tegas Wisnu.

Berdasarkan data terkini, Kabupaten Garut menjadi juara penyerapan KUR tertinggi se-Priangan Timur dengan Rp541 miliar yang mengalir ke 9.759 debitur.

Kabupaten Tasikmalaya memiliki fondasi ekonomi paling kokoh dengan 226.593 unit UMKM.

Kota Tasikmalaya menjelma sebagai pusat gaya hidup kreatif dengan jumlah kafe terbanyak kedua se-Jawa Barat.

Kabupaten Ciamis menunjukkan inovasi dengan kriya daur ulang yang tembus pameran Inacraft dan mengejar target 9.000 NIB di tahun 2026.

Kabupaten Pangandaran unggul dalam sinergi pariwisata bahari dan kerajinan anyaman, sementara Kota Banjar berhasil menyulap terminal menjadi zona kuliner Khas JET-B yang hidup dan halal.

Namun, potensi ini akan sia-sia tanpa gerakan nyata.

Wisnu merekomendasikan agar setiap kepala daerah di Priangan Timur segera membentuk Pokja bersama Khusus Penyerapan KUR.

“Jika Pokja ini bekerja, maka kontribusi ekonomi Priangan Timur bisa terdorong hingga menyentuh angka 8 persen,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peluang emas dari Danantara yang telah mendapat arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong sektor pariwisata.

Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menargetkan pengembangan pariwisata yang menyasar berbagai segmen pasar, dari wisata massal hingga wisata minat khusus dengan nilai ekonomi tinggi.

“Ini saatnya kolaborasi. Danantara, IKA NHI Bandung, dan Kementerian Ekonomi Kreatif harus bersinergi dengan pemerintah daerah. Priangan Timur memiliki semua bahan bakunya: UMKM yang melimpah, KUR yang tersedia, dan perhatian pusat melalui Danantara. Yang kurang hanya satu, gerakan cepat dari kepala daerah untuk menyambut semua ini,” pungkas Wisnu penuh optimisme.

Priangan Timur bukan lagi sekadar wilayah geografis. Ia adalah laboratorium kebangkitan ekonomi kreatif nasional.

Pertanyaannya kini sederhana, apakah para kepala daerah di Priangan Timur siap mengambil langkah pertama.

Related posts

J&T Express Dukung Toco Academy, Seller Nilai Biaya Marketplace Lain Saat Ini Terlalu Mahal

Grand Inna Tunjungan Raih Best Tourism Attraction and Experience di Surabaya Tourism Award 2026

Ketimpangan Ekonomi dan Krisis Iklim Berasal dari Struktur Ekonomi yang Sama