Dalam kehidupan modern yang materialistik, manusia sering kali terjebak dalam ilusi keabadian. Kesuksesan, harta, dan jabatan diperlakukan sebagai tujuan akhir, bukan alat.
Ketika realitas pahit seperti kehilangan, kegagalan, atau kematian datang, banyak individu mengalami krisis identitas dan depresi berat karena keterikatan emosional yang berlebihan pada hal-hal duniawi.
Islam menawarkan perspektif unik melalui metafora bahwa dunia ini hanyalah la’ib (permainan) dan lahw (kelalaian), serta sering diibaratkan sebagai panggung sandiwara.
Metafora ini bukan berarti hidup tidak bermakna, melainkan sebuah kerangka berpikir (world view) untuk menempatkan proporsi kehidupan secara tepat.
Namun, pemahaman dangkal terhadap metafora ini dapat memicu sikap apatis.
Oleh karena itu, diperlukan kajian ilmiah untuk meluruskan makna dan implikasi psikologisnya.
Selanjutnya muncul pertanyaan Bagaimana konsep la’ib (permainan) dan ghurur (tipuan) didefinisikan dalam Alquran, Apa implikasi psikologis dari memandang dunia sebagai “panggung sandiwara” dan Bagaimana menyeimbangkan antara kesadaran akan kefanaan dunia dengan tanggung jawab sosial (hablum minannas) ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis mencoba mrnggunanan metode Kualitatif dengan pendekatan Studi Pustaka (Library Research) dan kajian tematik dari ayat-ayat Alquran yang mengandung kata la’ib, lahw, mata’ul ghurur, serta hadits-hadits terkait sifat dunia.
1. Konsep Teologis: La’ib, Lahw, dan Ghurur
Al-Qur’an secara eksplisit menggunakan istilah la’ib (permainan) dan lahw (kelalaian/senda gurau) untuk menggambarkan kehidupan dunia.
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu…” (QS. Al-Hadid [57]: 20)
Para ulama menafsirkan ayat ini bukan sebagai penghinaan terhadap aktivitas duniawi, tetapi sebagai peringatan terhadap prioritas yang salah:
A. Analisis Linguistik dan Kontekstual Ayat Suci.
Fondasi utama pemahaman ini terletak pada QS. Al-Hadid [57]: 20:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan (la’ib) dan suatu yang melalaikan (laghw), perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…”
Untuk memahami kedalaman ayat ini, kita harus membedah dua kata kunci:
1. Al-La’ib (Permainan/Senda Gurau):
Dalam bahasa Arab, la’ib merujuk pada aktivitas yang dilakukan untuk kesenangan sesaat, tanpa tujuan jangka panjang yang serius, dan seringkali berakhir tanpa hasil permanen.
Makna Teologis: Dunia disebut la’ib bukan karena ia tidak nyata, tetapi karena nilainya yang relatif rendah jika dibandingkan dengan Akhirat.
Seperti anak kecil yang bermain pasir dan membangun istana, lalu meninggalkannya saat dipanggil pulang. Istana pasir itu “nyata” saat dibangun, namun “hampa” nilai keabadiannya.
Implikasi: Jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat.
2. Al-Lahw (Kelalaian/Pengalihan Perhatian):
Berasal dari kata lahiya yang berarti sibuk dengan sesuatu sehingga melupakan hal lain yang lebih penting.
Makna Teologis: Dunia memiliki daya pikat (ghurur) yang kuat sehingga membuat manusia lupa akan tujuan penciptaannya (mengabdi kepada Allah) dan lupa akan kematian.
Implikasi: Dunia adalah “pengalih fokus” terbesar. Orang yang terjebak lahw adalah orang yang tenggelam dalam rutinitas duniawi hingga lupa mempersiapkan bekal akhirat.
B. Dimensi Filosofis: Mengapa Disebut “Permainan” ?
Para filsuf Muslim dan ulama tasawuf mengembangkan metafora ini menjadi beberapa prinsip dasar:
1. Prinsip Sifat Sementara (Temporality).
Segala sesuatu di dunia memiliki masa kadaluarsa. Jabatan, kecantikan, kekuatan fisik, dan kekayaan semuanya akan pudar.
Menyebutnya “permainan” mengingatkan kita bahwa kelekatan emosional pada hal yang sementara akan menghasilkan penderitaan.
Analogi: Seorang penonton bioskop tidak akan menangis histeris jika karakter favoritnya mati di film, karena ia tahu itu hanya skenario. Demikian pula, orang yang sadar dunia adalah “panggung” akan menerima kehilangan dengan lebih tenang.
2. Prinsip Relativitas Nilai
Nilai sesuatu di dunia bersifat subjektif dan berubah-ubah. Hari ini dihargai mahal, besok mungkin tidak bernilai. Sebaliknya, nilai di akhirat bersifat absolut dan kekal.
• Allah menyebut dunia mata’ul ghurur (perhiasan yang menipu) dalam QS. Ali Imran: 185. Tipuannya terletak pada kemampuannya membuat hal yang fana terlihat abadi.
3. Prinsip Ujian dan Kompetisi
Dalam sebuah permainan, ada aturan, ada kompetisi, dan ada pemenang/pecundang. Dunia adalah arena uji coba (darul ibtila).
• Harta dan anak adalah “poin” atau “aset” dalam permainan ini. Cara kita mengelola aset tersebut (apakah untuk kebaikan atau keburukan) akan menentukan skor akhir di hadapan Allah.
C. Psikologi Keterikatan: Bahaya Terjebak dalam La’ib
Mengapa manusia sulit melepaskan diri dari “permainan” dunia? Karena adanya mekanisme psikologis berikut:
1. Hedonic Treadmill: Manusia cenderung cepat beradaptasi dengan kenikmatan baru. Beli mobil mewah, senang sebulan, lalu biasa saja, lalu ingin yang lebih mewah lagi. Ini adalah siklus la’ib yang tidak pernah puas.
2. Fear of Missing Out (FOMO): Rasa takut ketinggalan tren atau status sosial mendorong manusia untuk terus berlari dalam “kelalaian” (lahw), mengabaikan kesehatan mental dan spiritual.
3. Ilusi Kontrol: Manusia merasa bisa mengendalikan dunia, padahal sebenarnya mereka sedang dikendalikan oleh hawa nafsu dan sistem dunia.
D. Sikap Seimbang: Antara Partisipasi dan Detasemen
Islam tidak mengajarkan untuk meninggalkan dunia (monastisisme), tetapi mengajarkan Zuhud Kontemporer. Apa bedanya?
Aspek Sikap Nihilis/Pesimis (Salah) Sikap Zuhud Kontemporer (Benar)
Pandangan Dunia Dunia jahat, harus dijauhi total. Dunia alat ujian, harus dikelola dengan bijak.
Kerja keras malas, pasrah tanpa usaha. Bekerja maksimal seolah hidup selamanya.
Keterikatan Hati Acuh tak acuh pada segala hal. Terlibat penuh secara fisik, tapi hati tetap terhubung pada Allah.
Respon Sukses Merasa bangga berlebihan. Bersyukur, menyadari itu titipan Allah.
Respon Gagal Menyalahkan takdir, putus asa. Sabar, introspeksi, dan bangkit kembali.
Rumusan Emas:
“Jalankan duniamu dengan tanganmu (aksi fisik), tetapi jangan biarkan duniamu masuk ke dalam hatimu (keterikatan emosional).”
E. Implementasi Praktis dalam Kehidupan Modern
Bagaimana menerapkan konsep “Dunia adalah Permainan” agar tidak terjebak lahw ?
1. Mindful Living (Hidup Sadar):
Sebelum melakukan aktivitas (bekerja, belanja, scrolling medsos), tanya diri sendiri: “Apakah ini mendekatkan saya pada tujuan hidup (Allah) atau hanya sekadar pengisi waktu (lahw)?”
2. Manajemen Ekspektasi:
Sadari bahwa semua pencapaian duniawi memiliki batas. Jangan gantungkan kebahagiaan mutlak pada jabatan atau harta, karena jika itu hilang, kebahagiaan Anda juga akan runtuh. Gantungkan kebahagiaan pada ketenangan batin (ridha).
3. Perspektif Jangka Panjang (Akhirat-Centric):
Setiap keputusan diambil dengan mempertimbangkan dampaknya di akhirat. Investasi dunia boleh dilakukan, asalkan tidak mengorbankan prinsip agama.
4. Latihan Kematian (Memento Mori):
Secara rutin mengingat bahwa “pertunjukan” ini akan berakhir. Ini berfungsi sebagai rem alami terhadap keserakahan dan ambisi buta.
Kesimpulan
Memahami dunia sebagai la’ib dan lahw bukan berarti meremehkan usaha atau prestasi duniawi.
Sebaliknya, ini adalah strategi kecerdasan emosional dan spiritual tertinggi.
Dengan menyadari bahwa dunia hanyalah panggung sementara yang penuh tipuan, seorang muslim dapat:
1. Tetap produktif dan ambisius dalam kebaikan.
2. Bebas dari stres berlebihan akibat kegagalan.
3. Terhindar dari kesombongan akibat kesuksesan.
4. Fokus pada investasi abadi (amal saleh) daripada investasi fana (harta semata).
Inilah makna sejati dari “bermain” di dunia. Bermain dengan serius, mengikuti aturan Tuhan, namun siap kapan saja untuk meninggalkan panggung ketika Sang Sutradara memanggil pulang.
KH Ahmad Minda, M.Ag.
Anggota Majelis Tabligh PWM DKI Jakarta, Praktisi Pendidikan & Pegiat Dakwah
Redaktur: Abdul Halim