BERITAIND.COM, JAKARTA – Pertumbuhan industri menunjukkan semakin besarnya peran pendanaan digital dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun, akses tersebut perlu diikuti pemahaman yang baik agar masyarakat dapat menjaga arus kas dan memenuhi kewajibannya secara bertanggung jawab.
Hal itulah yang mengemuka dalam diskusi Fintech Lending Days 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) di Denpasar, Bali, pada 20–21 Agustus lalu, di mana forum telah mempertemukan industri, regulator, dan pelaku ekosistem fintech lending.
Dalam salah satu sesi talkshow yang digelar, Head of Business and Operations Kredit Pintar Irgo Bachtiar menjelaskan, pertumbuhan bisnis, perluasan akses pembiayaan, dan prinsip responsible lending perlu dibangun secara beriringan.
“Memperluas akses pembiayaan tidak berarti menurunkan kualitas kredit. Kami justru memanfaatkan data dan teknologi untuk memahami kondisi serta kemampuan setiap customer dengan lebih baik, sehingga pendanaan dapat diberikan secara lebih tepat. Pada saat yang sama, responsible lending juga berarti memberikan responsible treatment, termasuk melalui pendekatan collection yang lebih relevan dan empatik,” papar Irgo.
Menurut Irgo, pertumbuhan bisnis tidak cukup diukur dari nilai atau value penyaluran.
Kualitas pertumbuhan juga perlu dilihat dari bagaimana perusahaan dapat mempertanggungjawabkan pembiayaan yang diberikan dan membantu customer tetap memiliki kendali sepanjang perjalanan finansialnya.
“Karena itu, responsible borrowing tidak berhenti pada keputusan saat seseorang mengambil pendanaan, tetapi mencakup seluruh perjalanan pengguna, mulai dari memahami kebutuhan dan kemampuan sebelum pendanaan hingga menyelesaikan kewajibannya,” tandasnya.
Transparansi menjadi salah satu fondasi penting dalam industri ini.
Informasi mengenai biaya, tenor, jumlah pembayaran, tanggal jatuh tempo, dan total kewajiban perlu disampaikan secara jelas agar masyarakat memahami konsekuensi dari keputusan pendanaan dan dapat menyesuaikannya dengan kemampuan finansial masing-masing.
Dengan pendekatan tersebut, Kredit Pintar tidak hanya menjadi penyedia akses pendanaan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan pengguna dalam mengelola kebutuhan finansial secara lebih bijak dan bertanggung jawab.
Presiden Direktur Kredit Pintar Ronny Kasim mengatakan, memberikan akses pembiayaan adalah satu bagian dari peran dari perusahaannya.
Namun, peran yang lebih besar adalah membantu masyarakat memahami kapan mereka membutuhkan pendanaan, menentukan jumlah yang sesuai dengan kemampuan, dan tetap memiliki kendali sampai kewajibannya terpenuhi.
“Inilah yang kami maksud dengan Kredit Pintar sebagai Teman Atur Uang,” ujar Ronny.
Melalui “Teman Atur Uang”, Kredit Pintar ingin mendorong pergeseran dari sekadar access to financing menuju responsible financial decision-making, dengan menempatkan akses, pemahaman, dan kendali sebagai tiga fondasi penting dalam perjalanan pendanaan masyarakat. Tiga prinsip dalam perjalanan finansial tersebut yakni Jaga Cash Flow, Pahami & Pilih, dan Tetap Terkontrol.
Jaga Cashflow berarti membantu pengguna menyesuaikan pendanaan dengan kebutuhan dan kemampuan.
Pahami dan Pilih berarti menyediakan informasi yang jelas agar pengguna dapat memahami konsekuensi dan menentukan pilihan secara tepat.
Sementara Tetap Terkontrol berarti membantu pengguna mengelola kewajibannya secara bertanggung jawab hingga pendanaan terselesaikan.
Ketiga peran tersebut menjadi bagian dari penerapan prinsip responsible lending yang berjalan beriringan dengan upaya memperluas akses pembiayaan dan menjaga kualitas pertumbuhan bisnis.
Dengan pendekatan ini, pertumbuhan tidak hanya dilihat dari seberapa besar pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari bagaimana pendanaan diberikan secara tepat dan pengguna tetap memiliki kendali sepanjang perjalanan finansialnya.
Sejak berdiri pada 2017, total akumulasi pinjaman yang telah disalurkan mencapai lebih dari Rp66 triliun.
Hal ini mencerminkan kepercayaan masyarakat sekaligus tanggung jawab perusahaan dalam menghadirkan akses pembiayaan yang inklusif dan dikelola secara bertanggung jawab.
Penulis: TSA