Water Break PSSI Pers Membawa Liga Naik Kelas, APPI Desak Zero Toleransi Tunggakan Gaji

BERITAIND.COM, JAKARTA – PSSI Pers menggelar diskusi rutin “Water Break” bertema “Membawa Liga Naik Kelas” menjelang kick-off kompetisi musim 2026/2027.

Hadir sebagai narasumber Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra, Direktur Komersial I.League Sadikin Aksa, Presiden Klub Persipura Jayapura Owen Rahadian, Owner Persik Kediri Arthur Irawan dan Legal Officer Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) M. Agus Riza Hufaida, S.H.,

Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra menjelaskan, selaku operator kompetisi sepakbola Indonesia, I.League terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas kompetisi sekaligus membangun ekosistem sepak bola Indonesia yang lebih profesional dan berkelanjutan.

“Proses transformasi tersebut dilakukan melalui komunikasi intensif antara operator liga dan klub. Evaluasi bahkan telah dilakukan sebelum kompetisi musim sebelumnya berakhir,” kata Asep di I.League Office, Menara Mandiri II, Lantai 19 Jakarta, Senin (31/8/26).

“Salah satu hasilnya adalah kepastian kalender dan jadwal kompetisi serta penyampaian regulasi lebih awal agar klub memiliki waktu yang cukup untuk melakukan persiapan. Kami konsisten dengan apa yang sudah kita tetapkan,” tambahnya.

Asep menyebut ada lima aspek transformasi yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir yang mencakup financial, legal, personnel, administrative, serta infrastructure. Mulai musim depan, aspek tersebut akan ditambah dengan marketing serta development and sustainability.

Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, menyebut Super League sebagai liga paling kompetitif di Asia Tenggara berdasarkan data yang dikeluarkan oleh AFC.

“Tingkat kompetisi di Indonesia lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Vietnam, dengan mengacu pada ketatnya persaingan antar klub di liga nasional. Kalau melihat competitiveness level kita, data dari AFC, se-Asia Tenggara ini kita sudah nomor satu,” ujar Sadikin.

Dibandingkan dengan liga Malaysia dan Thailand yang dianggap kurang kompetitif karena dominasi beberapa klub saja selama bertahun-tahun.

Di Malaysia, JDT sudah lebih dari 10 tahun juara berturut-turut.

Kemudian di liga Thailand ada empat tim yang dominan selama 10 tahun, Buriram United, Bangkok United, BG Pathum United, dan Port FC,” lanjut Sadikin.

“Meski Persib Bandung juara tiga kali berturut-turut, tapi pada saat mau juara itu ada kompetitif yang cukup tinggi, apalagi tahun lalu (untuk menentukan juara) sampai pekan terakhir,” tambah Sadikin.

Menurut Sadikin, tingginya tingkat kompetisi ini juga menarik perhatian sponsor besar dunia yang berinvestasi di sepak bola nasional Indonesia melihat level kompetitifnya tinggi, dan data itu dari AFC. Ini menunjukkan ada sesuatu di Indonesia.

“Secara bisnis, sepak bola lebih besar potensinya. Tugas kita mengemas kompetisi jadi produk menarik untuk sponsor, TV, dan suporter,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Owner Persik Kediri Arthur Irawan, persaingan yang ketat membuat Liga Indonesia menarik bagi pemain asing.

“Banyak pemain asing mau main di klub Liga Indonesia karena mereka dengar hal positif tentang liga ini,” kata Arthur.

Arthur menambahkan bahwa Liga Indonesia sangat kompetitif, bahkan hingga pertandingan terakhir musim lalu juara baru diputuskan.

Presiden klub Persipura Jayapura Owen Rahadian mengatakan peningkatan di liga tercermin dari jadwal yang lebih terukur, kepastian dimulainya kompetisi memungkinkan manajemen klub untuk menyusun proyeksi tim.

“Liga Indonesia sudah banyak peningkatan. Tentu banyak orang yang masih tidak suka dengan berbagai keputusan dan keadaan, tapi liga kita berkembang pesat selama lima tahun terakhir,” ungkapnya.

Zero Toleransi Tunggakan Gaji

Legal Officer APPI M. Agus Riza Hufaida, S.H., mengatakan untuk membuat kompetisi naik kelas seyognya perlu diperhatikan hal mendasar pembayaran gaji pemain. APPI mencatat 28 klub menunggak gaji 303 pemain.

“Total kasus yang ada di kita, baik dari laporan maupun sampai dengan putusan NDRC tapi belum dilaksanakan, itu total ada 28 klub. Ya, dengan total 303 pemain. Itu dari Liga 1 sampai Liga 4 dengan nilai keseluruhan 14 miliar 800 juta sekian,” kata Agus.

Dia merinci, 28 klub itu adalah PSM Makassar, Semen Padang, PSMS Medan, Persiku Kudus, PSIS Semarang, RANS FC, Sriwijaya FC, Persikota Tangerang, Persinab Sang Maestro, Persipa Pati, Persitara Jakarta Utara, Persibo Bojonegoro, Persekat Tegal, Persiwa Wamena, Persid Jember, PS Siak, Bantul United, PSM Madiun, Depok Raya FC, Kalteng Putra, Pakuan City, Persewar Waropen, Persikab Kabupaten Bandung, PSGJ Cirebon, Persikabo 1973, dan Waanal Brother FC.

“Kami berharap persoalan masalah gaji ini segera dibereskan karena bagaimana pun ini hak pemain sepak bola. Ada hadis yang bilang bahwa bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering,” kata Agus mengutip sebuah hadist.

Dia sangat berharap untuk menaikkan kualitas Liga di Indonesia permasalahan seperti ini tidak terjadi lagi di musim 2026/2027 dimana pelaksanaan kick-off pada akhir pekan ini.

“Klub yang masih memiliki masalah dengan hak pemain semestinya tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi sebagai bentuk dari sanksi tegas. Dan soal bagaimana kemudian tidak ada permasalahan gaji, beberapa tahun sebelumnya kami sudah berulang kali menyampaikan mitigasi-mitigasinya, termasuk soal zero tolerance terkait dengan klub lisensi tadi,” kata dia.

Agus mengungkapkan, musim lalu tiga klub yang yang berkompetisi di Super League masih menunggak gaji pemain.

Ketiga klub tersebut yakni PSBS Biak, PSM, dan Semen Padang.

“Kasus PSBS seharusnya diantisipasi lebih awal karena masalah itu telah muncul sekitar empat bulan sebelum kompetisi musim lalu berakhir. Kita mau ngomong membawa liga naik kelas, tapi masalah dasar terkait dengan haknya pemain itu, masih menjadi problem,” pungkasnya.

Related posts

Gus Kikin Pimpin PBNU, Gus Muhaimin: Selamat Berjuang dan Semoga Istiqamah

Mutasi Kombes Pol Eddwi Kurniyanto, Membuat Kesedihan Bagi Masyarakat dan Anggotanya

39 Tahun Menanti, Rully Nere Berharap Piala Soeratin Kembalikan Talenta Papua ke Timnas