BERITAIND.COM, OKAZAKI – Atlet panahan Tim Indonesia Nurisa Dian Ashrifah datang ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tanpa memasang ekspektasi tinggi.
Pemanah berusia 20 tahun itu hanya ingin satu hal, menembak dengan nyaman dan menikmati setiap kesempatan yang datang.
Namun, di Okazaki Chuo Sogo Park Multipurpose Square, perjalanan sederhana itu berubah menjadi salah satu plot twist terbesar dalam kariernya.
Nurisa, yang akrab disapa Hani, justru melangkah hingga final dan merebut medali emas nomor compound individual putri setelah mengalahkan wakil Filipina, Amaya Amparo Cojuangco, dengan skor 139-137.
“Dari awal saya tidak berekspektasi. Yang penting enak nembaknya,” kata Hani.
Kisah emas Hani memang bermula dari langkah yang jauh dari kata mulus.
Pada babak kualifikasi, pemanah asal Semarang itu hanya menempati peringkat kedelapan dengan 701 poin.
Alih-alih menjadikan posisi tersebut sebagai beban, Hani memilih menjalani pertandingan satu demi satu dan membiarkan hasil mengikuti prosesnya.
“Sebenarnya dari kualifikasi saya cuma mencoba untuk menembak dengan nyaman. Hasilnya mengikuti. Ternyata di sesi kedua saya bisa menaikkan skor dan akhirnya peringkat delapan,” ujarnya.
Lawan pertamanya adalah wakil India, Chikitha Taniparthi, yang sebelumnya telah meraih dua medali emas dari nomor beregu putri dan mixed team Asian Games 2026.
Berlangsung di bawah matahari pagi yang tepat berada di depan arah tembak, Hani merasa beruntung karena ia mengenakan topi, sehingga mampu mengarahkan anak panah tepat ke sasaran.
Tantangan belum selesai. Pada pertandingan selanjutnya, Hani menghadapi wakil Korea Selatan, Oh Yoohyun yang sebelumnya tampil konsisten dengan catatan perfect score.
“Dia (Oh Yoohyun) kemarin mainnya bagus, perfect score terus. Jadi saya tidak berekspektasi. Ya sudah, nembak saja,” tutur Hani yang kaget dan panik dengan kondisi angin yang cukup kencang di sekitar venue.
“Dari tadi belum ada angin, bahkan dari kemarin belum ada angin. Baru hari ini panas, matahari datang, kemudian angin. Saya sempat agak panik, lawan juga panik. Tapi alhamdulillah saya bisa menang, selisihnya empat poin,” kata Hani yang menang 147-143 dari Yoohyun sekaligus memastikan tiket ke final.
Di partai puncak, situasi kembali berubah. Angin semakin kencang seiring matahari meninggi.
Pertandingan melawan Filipina berjalan ketat hingga set keempat dengan skor yang masih berimbang.
Hingga akhirnya, dua poin menjadi pembeda.
Hani mengamankan kemenangan 139-137 dan untuk pertama kali dalam kariernya mendengar Indonesia Raya berkumandang di Asian Games.
“Saya benar-benar enggak kebayang sampai final. Yang penting dari awal saya nembak bagus saja. Iya, ini semesta sepertinya mendukung. Pas saya nembah anginnya enggak terlalu kencang, tapi pas Filipina nembak, lumayan kencang,” ujar Hani.
Medali emas tersebut menjadi semakin istimewa karena merupakan penampilan pertama Hani di Asian Games.
Ia bahkan menyebut perjalanan yang membawanya ke podium tertinggi sebagai sebuah kejutan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Ini plot twist banget dalam hidup saya. Saya lawan India dan Korea yang sudah menguasai panahan dan atlet top. Ternyata saya bisa,” ucapnya.
Namun, di balik pencapaian tersebut, ada sosok sang ibu, Nurlisa, yang menjadi alasan lain mengapa medali ini terasa begitu spesial.
Hani secara khusus ingin mempersembahkan emas tersebut untuk ibunya.
Pesan sang ibu pun sederhana. Jika Hani mendapatkan bonus Rp3 miliar, Nurlisa berharap bisa menjalankan ibadah umrah.
“Jelas untuk ibunda tercinta. Pesan dari ibu cuma bilang kalau bonus dapat Rp3 miliar, ibu bisa umrah. Saya ingin mewujudkan harapan ibu,” kata Hani.
Kini, satu mimpi telah mulai diwujudkan. Namun, Hani tidak ingin berhenti di Okazaki.
Setelah emas Asian Games menjadi plot twist terindah dalam hidupnya, ia sudah memiliki tujuan berikutnya: Olimpiade Los Angeles 2028.
“Goal saya memang main di Olimpiade,” ujar Hani.
Capaian Hani turut menambah koleksi medali emas Tim Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Sampai berita ini diturunkan, Tim Indonesia sudah meraih lima medali emas, tujuh perak dan 21 perunggu.