Salak Condet dan elang bondol merupakan maskot Jakarta. Patung elang bondol mencengkeram salak condet bisa dilihat di beberapa sudut ibukota. Bahkan Transjakarta juga memakai logo ini. Salak Condet juga memiliki rasa yang khas. Antara campuran rasa manis dan asam.
Sayangnya keberadaan salak condet kini mulai susah ditemui di pasaran. Satu-satunya tempat yang dapat kita jumpai untuk menemukan salak tersebut hanya ada di kawasan Condet itu sendiri.
Sebagai pengelola budidaya salak Condet sejak tahun 2007 lalu, Jumari mengaku prihatin dan berharap pemerintah lebih memperhatikan lagi mengenai budidaya salak Condet. Apalagi dengan adanya SK Gubernur no. 881 Tahun 2019 mengenai Penataan dan Pengembangan Condet Sebagai Destinasi Wisata. Keberadaan budidaya salak Condet harus lebih diprioritaskan.
“Sebetulnya di daerah Condet masih banyak yang menanam salak tapi gak pernah di data. Kalau pemerintah bisa kasih sumbangsih memberi bantuan, pasti akan lebih tertata dan budidaya salak Condet ini bisa dikembangkan lagi. Apalagi karena mulai langka, harga bibit salak Condet makin mahal,” kata Jumari.
Lelaki kelahiran Condet ini juga rajin memberikan edukasi dan pelatihan kepada anak-anak usia sekolah. Biasanya pihak sekolah akan mengantarkan murid-muridnya ke kebun milik Jumari sehingga bisa melihat secara langsung proses budidaya salak Condet.

Ia berharap generasi milenial tertarik untuk ikut melestarikan budidaya salak Condet sehingga keberadaannya tidak punah. Apalagi sejak dulu sebagian warga Condet banyak yang berprofesi sebagai petani salak.

Saat ini ia juga menjelaskan jika penyerbukan menjadi kendala melakukan budidaya salak Condet. Dulu umumnya penyerbukan dibantu dengan hewan yang hinggap di pohon. Namun karena keberadaan hewan tersebut sudah langka maka Jumari mengaku harus melakukan penyerbukan secara manual.
“Caranya ambil kembang laki, terus digeprek atau dihancurkan. Lalu kita sebar di atas bunga betina. Kalau sudah jadi biasanya nanti panen buahnya sekitar 5 bulan,” kata Jumari.

Perawatan tanaman salak condet ini menurutnya tergolong mudah dan pohon salak sendiri sebetulnya tanaman yang tahan di segala cuaca. tetapi sebaiknya pohon salak tidak bisa dibiarkan dihajar suhu panas tinggi. Menurut Jumari, hal ini bisa membuat buah salak pecah.

“Usahakan tanah yang mau ditanami salak dalam kondisi gembur. Pengairan juga harus bagus. Biasanya untuk menambah kesuburan tanah, akar-akar pohon ditutupi dengan potongan batang yang ada daunnya. Jadi kalau pagi, daun tersebut kan mengandung embun, airnya bisa diserap sama akar pohon salak,” ungkap Jumari. (slyika)
