Home Opini Meniti Jalan Lurus Menuju Mardhatillah, Dari Iman Menuju Sistem

Meniti Jalan Lurus Menuju Mardhatillah, Dari Iman Menuju Sistem

by Slyika

Alhamdulillah, puji syukur milik Allah Sang Pengatur Orbit Semesta. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ, sosok yang mengajarkan kita bahwa setiap langkah kaki seorang mukmin haruslah memiliki arah dan tujuan (ghayah).

Waba’du

Dalam kehidupan ini, tantangan terberat bagi manusia bukan sekadar bagaimana ia menjalani hidup, tetapi bagaimana ia memilih jalan hidup yang benar.

Namun, jauh lebih berat dari itu, apakah ia sanggup istiqamah, bertahan di atas jalan kebenaran di tengah tekanan zaman yang kian menjauh dari nilai-nilai Ilahiyah, hingga akhir hayat—demi menggapai tujuan tertinggi, mardhatillah, keridaan Allah ﷻ.

Ujian untuk istiqamah menjadi semakin berat ketika kita hidup dalam sebuah sistem yang paradoks, dimana pelaku kebathilan justru diberi panggung, sementara para penyeru kebenaran dibungkam dengan intimidasi, kriminalisasi, bahkan meringkuk di balik jeruji besi.

Disinilah kualitas iman diuji. Banyak manusia mengenal kebenaran, tetapi sedikit yang berani berpihak kepadanya.

Banyak yang memulai langkah di jalan lurus, tetapi hanya segelintir yang mampu bertahan hingga mencapai tujuan, yakni ridha Allah.

Sebab di sepanjang jalan ini, godaan tidak hanya datang dalam bentuk kenikmatan, tetapi juga tekanan, ancaman, dan berbagai kompromi yang menggoyahkan prinsip.

Allah Ta’ala mengingatkan:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am [6]:116)

Ayat ini membongkar satu ilusi besar dalam kehidupan modern: bahwa popularitas adalah kebenaran.

Padahal dalam pandangan wahyu, kebenaran tidak ditentukan oleh suara terbanyak, melainkan oleh kesesuaiannya dengan petunjuk Allah.

Inilah kritik mendasar terhadap sistem yang menjadikan opini publik sebagai standar kebenaran, sementara wahyu dikesampingkan ke ruang privat.

Ini adalah peringatan tegas, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas, tetapi oleh wahyu Ilahi.

Satu jalan kebenaran. Banyak jalan penyimpangan.

Rasulullah ﷺ menggambarkan realitas ini dengan sangat jelas. Beliau menggambar satu garis lurus, lalu garis-garis lain di kanan dan kirinya.

Garis lurus itu adalah jalan Allah, sedangkan garis-garis di sekitarnya adalah jalan-jalan kesesatan yang di setiap jalannya ada setan yang mengajak manusia kepadanya.

Maknanya tegas, kebenaran itu tunggal, sementara penyimpangan beragam. Allah ﷻ menegaskan:

وَأَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ

“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An’am: 153)

Namun dalam realitas sosial-politik hari ini, justru “jalan-jalan sesat” itulah yang dilembagakan:

•⁠ ⁠Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan
•⁠ ⁠Hukum yang tidak bersandar pada wahyu
•⁠ ⁠Nilai yang berubah sesuai kepentingan manusia.

Inilah bentuk modern dari penyimpangan yang terstruktur.

Tiga-tipe Manusia: Diagnosis Peradaban

Setiap hari kita membaca Surah Al-Fatihah, Ihdinash shirathal mustaqim. Namun Allah menjelaskan bahwa manusia terbagi dalam tiga jalan, Shirathalladzina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdubi ‘alaihim waladh-dhallin.

Sebuah do’a yang bukan hanya permohonan, tetapi juga komitmen ideologis untuk tetap berada di jalan Allah. Seakan Allah ingin mengajarkan satu hal mendasar.

Hidayah bukan sesuatu yang sekali didapat, tetapi sesuatu yang harus terus dijaga, diperjuangkan, dan dimohonkan—hingga akhir hayat.

Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi juga memberi kerangka analisis peradaban melalui tiga tipe manusia dalam Al-Fatihah:

1.⁠ ⁠Mereka yang Diberi Nikmat (An’amta ‘alaihim): Yaitu mereka yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Inilah fondasi peradaban yang benar.

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

“Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, di akhirat kelak ia akan bersama-sama dengan para nabi, orang-orang yang jujur dalam beriman, orang yang mati syahid dan orang-orang shalih yang telah Allah beri nikmat. Mereka itu adalah teman-teman yang sangat baik bagi orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69)

Mereka inilah yang berjalan lurus: ilmunya benar, amalnya juga benar dan istiqamah. Mereka tidak hanya memahami Islam sebagai konsep, tetapi menjadikannya sebagai sistem hidup.

2.Mereka yang Dimurkai (Maghdubi ‘alaihim): Yaitu mereka yang tahu kebenaran, tetapi menolaknya. Dalam konteks modern, ini tampak pada:

•⁠ ⁠Elite intelektual yang memahami nilai agama, tetapi menyingkirkannya dari sistem
•⁠ ⁠Pengambil kebijakan yang mengakui moralitas, tetapi tunduk pada kepentingan
Ini adalah pengkhianatan terhadap ilmu. Allah Ta’ala berfirman,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Wahai Bani Israil, patutkah kalian menyuruh manusia beriman kepada Muhammad, sementara kalian sendiri tidak beriman kepadanya? Padahal kalian telah membaca Taurat dan Injil. Apakah kalian tidak mau memikirkan bahwa tindakan kalian itu sangat bodoh?” (QS. Al Baqarah: 44).

Ini adalah penyakit berbahaya: ilmu tanpa ketundukan

Secara historis, sikap ini tampak pada sebagian Bani Israil. Namun hakikatnya, ia bukan milik satu kaum— ia bisa menjangkiti siapa saja. Hari ini, bentuknya bisa lebih halus namun lebih sistemik:

•⁠ ⁠Mengetahui syariat, tetapi menolaknya dalam kehidupan publik
•⁠ ⁠Mengakui kebenaran Islam, tetapi menyingkirkannya dari sistem sosial dan politik
•⁠ ⁠Mengedepankan kepentingan dunia di atas wahyu
Inilah jalan orang berilmu yang enggan tunduk pada kebenaran.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaff: 2-3).

2.⁠ ⁠Mereka yang Sesat (adh-dhalli): Yaitu mereka yang bersemangat tanpa ilmu. Gerak ada, semangat tinggi, tetapi tanpa petunjuk wahyu, hingga ia tersesat jalan.

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?” (QS. Ar Ra`ad [13]:19)

Secara historis, tampak pada sebagian kaum Nasrani. Namun sekali lagi, ini bukan label kelompok— melainkan karakter yang bisa muncul pada siapa saja. Dalam konteks modern, ia muncul dalam bentuk:

•⁠ ⁠Beragama hanya dengan perasaan
•⁠ ⁠Mengikuti ajaran tanpa dalil
•⁠ ⁠Terjebak dalam pemikiran yang menjauh dari tauhid

Hal ini bisa tampak dalam: ateisme yang menolak Tuhan karena kebingungan berpikir, atau berbagai pemikiran yang menyimpang karena tidak berlandaskan wahyu. Inilah jalan semangat tanpa petunjuk.

Realitas Perjuangan: Jalan Ini Tidak Ramai

Seorang ulama mujahid, Syeikh Hasan al-Banna, memberikan gambaran tajam:
“Di antara manusia, sedikit yang berilmu. Lebih sedikit lagi yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Lebih sedikit lagi yang berilmu, mengamalkan ilmunya, dan berjihad di jalan Allah. Dan jauh lebih sedikit dari itu adalah mereka yang sampai pada tujuan: mardhatillah.”

Ini adalah hukum seleksi dalam perjuangan: semakin tinggi komitmen, semakin sedikit yang bertahan. Maka jangan heran jika jalan kebenaran terasa sepi. Karena memang ia bukan jalan mayoritas. Seperti dikatakan Imam Al-Ghazali: Kebenaran itu hanya satu, dan yang mengikutinya pun satu-satu.

Disinilah relevansi pemikiran tokoh bangsa seperti Mohammad Natsir menjadi sangat penting. Beliau menegaskan: “Islam bukan semata-mata agama dalam pengertian ibadah ritual, tetapi adalah suatu ideologi yang lengkap, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.”

Pernyataan ini bukan sekadar wacana, tetapi sikap politik dan peradaban. Artinya:

•⁠ ⁠Islam tidak boleh direduksi, dibatasi menjadi urusan masjid semata
•⁠ ⁠Islam harus hadir dalam hukum, ekonomi, dan tata negara
•⁠ ⁠Memisahkan Islam dari kehidupan publik adalah bentuk penyimpangan dari hakikatnya

Di titik ini, menjadi jelas bahwa perjuangan menuju mardhatillah tidak berhenti pada keshalihan individu, tetapi harus bergerak menuju transformasi sosial dan peradaban.

Menuju Mardhatillah: Jalan Ilmu, Amal, dan Perjuangan

Jalan lurus bukan sekadar konsep spiritual. Ia adalah jalan perjuangan. Ia menuntut:

•⁠ ⁠Ilmu yang benar → agar tidak tersesat
•⁠ ⁠Amal yang istiqamah → agar tidak dimurkai
•⁠ ⁠Keberanian untuk berjuang → agar kebenaran tegak

Tanpa perjuangan, kebenaran hanya akan menjadi wacana. Tanpa sistem, nilai hanya akan menjadi slogan. Maka pertanyaannya bukan lagi: berapa banyak yang berada di jalan ini? Tetapi: apakah kita termasuk di dalamnya ?

Irfan S Awwas

Ulama dan Pengamat Politik Nasional

Redaktur: Abdul Halim

You may also like

Leave a Comment