BERITAIND.COM, NAGOYA – Di balik busana yang dikenakan Tim Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026, tersimpan cerita kekayaan budaya Indonesia diterjemahkan ke dalam karya modern dan dikenakan di panggung olahraga internasional.
Salah satu identitas yang menonjol adalah motif Gorga, ornamen khas Batak yang menjadi bagian dari desain apparel tim Indonesia.
Motif tersebut bukan sekadar pilihan visual, tetapi membawa pesan tentang kekuatan, perlindungan, dan keberuntungan yang diharapkan turut menyertai perjuangan para atlet Indonesia di Jepang.
Desainer apparel Tim Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026, Ghea Panggabean mengatakan, pemilihan Gorga berangkat dari keinginannya untuk menghadirkan kekuatan heritage Indonesia dalam penampilan Tim Indonesia.
“Saya memang ada beberapa motif, tapi saya sangat senang dengan motif Gorga karena memang kuat motifnya dan beda,” ujar Ghea.
Gorga dikenal sebagai ornamen yang banyak ditemukan pada ukiran rumah tradisional Batak.
“Latar belakangnya heritage, karena kita harus bangga dengan kekuatan heritage Indonesia,” jelas Ghea.
Menerjemahkan kekayaan budaya tersebut ke dalam busana tim Indonesia bukan proses yang singkat.
“Prosesnya tiga bulan untuk baju dan juga aksesorisnya,” imbuh Ghea.
Eksplorasi Gorga kemudian tidak berhenti pada apparel.
Inspirasi yang sama turut dibawa ke sejumlah busana yang digunakan dalam rangkaian penampilan Tim Indonesia, termasuk batik dan kebaya untuk Opening Ceremony Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
“Semoga dengan memakai motif ini ada simbolnya supaya kita bisa meraih medali emas,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari mengapresiasi keterlibatan para seniman dan kreator Indonesia dalam menghadirkan unsur budaya ke dalam perjalanan Tim Indonesia.
“Setiap opening ceremony multievent internasional itu selalu spesial, menampilkan keberagaman dan juga kreativitas. Kali ini ada di sentuhan seniman Indonesia. Saya berterima kasih terutama pada tim kreatif yang luar biasa, yang dikomandoi oleh Mas Didit (Didit Hediprasetyo), karena semakin ke sini semakin banyak seniman yang mau ikut. Dulu susah, sekarang makin banyak,” ujar Oktohari.
